Pacific Disaster Centre Terapkan InAWARE Project di Kota Surabaya
PEMERINTAHAN PERISTIWA

Pacific Disaster Centre Terapkan InAWARE Project di Kota Surabaya

Guna mengantisipasi jika terjadi bencana, pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bakal menerapkan sistem InAWARE. Sistem informasi yang dikerjasamakan melalui Pacific Disaster Centre tersebut telah direalisasikan di DKI Jakarta. Selanjutnya, Kota Surabaya bakal menjadi sasaran program tersebut.

“Program InAWARE ini mengintegrasikan antara teknologi melalui gadget dalam menginformasikan resiko bencana. Penerapannya akan mulai dilakukan dengan memetakan jalan, peta administrasi wilayah hingga tingkat RT dan RW, hingga peta bangunan,” kata Kepala Pusdatinmas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho kepada media di Surabaya, Kamis (21/7) lalu.

Ia menjelaskan, peta yang dibangun tersebut menggunakan sistem informasi berbasis media sosial. Datanya akan selalu diperbarui secara realtime dan bisa diakses melalui website www.inaware.bnpb.go.id.

“Dalam menerapkan InAWARE ini akan dilakukan pelatihan bimtek. Saat ini masih dicoba di Surabaya. Sesegera mungkin diimplementasikan di seluruh kab/kota di Jatim. Unutk Surabaya, karena belum ada BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) maka difasilitasi BPBD Jatim,” jelasnya.

Implementasi yang sudah dilakukan di Jakarta, kata dia, yakni terkait bencana banjir. “Jakarta banjir dan kekuatan media sosial yang dimanfaatkan masyarakat dalam melaporkan daerah yang terendam banjir banyak dilakukan. Melalui info tersebut, maka berapa luas wilayah yang terdampak akan cepat diketahui,” ungkapnya.

Dipilihnya Kota Surabaya setelah DKI Jakarta, karena dianggap sebagai kota besar terbesar kedua di Indonesia. “Surabaya ini kota besar yang complicated dan multi bencana seperti rawan gempa dan banjir. Jadi akan dicoba dulu pemetaan di Surabaya melalui InAWARE ini,” katanya.

Sutopo mengaku optimistis InAWARE bisa diterapkan di Jawa Timur. “BPBD Jatim ini sangat bagus. Saya pikir bisa lebih berhasil dari pada Jakarta, karena dukungan provinsi kuat. Mulai dari dukungan politik lokal dan keterlibatan mayarakat hingga relawan juga sangat kompak dalam menghadapi bencana,” ungkapnya.

Kepala Pelaksanan Harian BPBD Jatim Sudarmawan menjelaskan, InAWARE ini bisa menjadi sistem peringatan dini, khususnya fokus di Kota Surabaya. Untuk penerapannya, kata dia, bagaimana BPBD Jatim kemudian melakukan fasilitasi terhadap perangkat yang akan dikembangkan.

“Tidak hanya pada teknologinya saja tapi juga akan melakukan pendataan peta rawan bencana sampai tingkat RT RW. Ini dimulai hari ini dan dilakukan dalam rentang waktu selama tahun 2016,” tuturnya. Ia memisalkan terjadinya banjir di Surabaya juga dapat diintegraikan dengan InAWARE sebagai upaya memantapkan penangan bencana dan memperkuat sektor kelembagaan.

Dalam proses pemetaan titik rawan bencana, selain menggandeng Pacific Disaster Centre, BNPB juga melibatkan dua lembaga lain. Keduanya yakni Massachusetts Institut of Technology melalui program PetaBencana.id dan Humantarian OpenStreetMap Team.

Jatim Dominan Hydrometeorologi
Jawa Timur yang dikelilingi gunung berapi aktif dan lautan serta intensitas curah hujan tinggi menjadikan wilayahnya menjadi rawan terjadi bencana. Namun dari data BPBD Jatim diketahui, bencana didominasi oleh faktor hydrometeorologi hingga mencapai 53,84 persen.

“Bencana di Jatim ini kita identifikasi. Yang mendominasi itu hydrmeteorologi yang persentasenya 53,84 persen. Ini tak lepas dari kondisi geografis, di mana Jatim memiliki tujuh sungai dengan dua sungai besar, yakni Brantas dan Bengawan Solo serta lima sungai di bawah kewenangan pemkab dan provinsi,” kata Sudarmawan.

Dalam bencana hydrometeorology, sungai menjadi bagian yang memberi kontribusi banjir dipicu curah hujan tinggi. Selain itu, dataran tinggi sebagai sumber dari banjir bandang dan faktor geografis dikelilingi Laut Jawa membuat Jawa Timur rawan bencana banjir.

Selain itu, pihaknya juga menyiagakan petugas guna memantau kondisi wilayah rawan bencana. BPBD Jatim juga melakukan sosialisasi kepada masyarakat yang tinggal di daerah aliran sungai (DAS) di sepanjang Sungai Brantas dan Bengawan Solo yang rawan banjir.

Adapun daerah yang rawan banjir yaitu di Ngawi, Madiun, Lamongan, Tuban, Gresik, Mojokerto dan daerah di Pasuruan hingga Bondowoso. Untuk bencana lain, yakni gelombang ekstrim dan abrasi hanya memiliki persentase 25,74 persen. Sedangkan bencana yakni gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi mencapai 23,42 persen.

Guna mencegah risiko dan kerugian akibat bencana alam, BPBD Jawa Timur melakukan serangkaian aksi. Mulai dari kesiapsiagaan sebelum bencana meliputi mitigasi bencana, pencegahan,rencana siaga, dan peringatan dini pada masyarakat.

Sedangkan saat tanggap darurat meliputi operasi tanggap darurat, rencana operasi dan kanjian darurat. Setelah bencana juga dilakukan kerja pemulihan meliputi rehabilitasi, rekonstruksi dan pembangunan kembali. (sak)