Pelanggar Batas Kecepatan Diawasi Kamera
PEMERINTAHAN PERISTIWA

Pelanggar Batas Kecepatan Diawasi Kamera

Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Surabaya berencana memasang kamera pemantau kecepatan kendaraan di ruas jalan yang kerap dipakai pengendara memamcu kendaraannya dengan kecepatan tinggi.

Harapannya, kamera bisa menjadi ‘rem’ agar pengendara tidak melajukan kendaraannya melebihi batas yang berpotensi menjadi penyebab kecelakaan lalu lintas (Laka).

Pelaksana Tugas (Plt) Dishub Kota Surabaya, Irvan Wahyudrajat mengatakan, pemasangan kamera ini akan dipasang di beberapa jalan utama seperti Jalan A Yani ataupun Frontage Road (FR). Nantinya, jelas Irvan, kamera tersebut tidak hanya difungsikan sebagai pengawasan (monitoring).

“Kamera ini juga untuk penindakan bekerjasama dengan kepolisian. Nanti kami buat MoU dengan Satlantas Polrestabes untuk kamera itu selain menjaring parkir ilegal juga pelanggaran batas kecepatan,” ujar Irvan ketika jumpa pers di Kantor Bagian Humas, Kamis (8/9).

Menurut Irvan, secara teknis, kamera akan mendeteksi nomor polisi kendaraan dan jenis kendaraan dari satu titik ke titik lain, juga dengan kecepatan berapa. Kamera itu akan menjadi dasar untuk menindak. Kalaupun tidak bisa melakukan tilang langsung, bisa juga diterapkan lewat surat (tilang). Meski, bila di luar kota agak kesulitan.

Rencananya, kamera dipasang pada setiap ruas bukaan dari FR menuju Jalan A Yani maupun dari Jalan A Yani masuk FR. Selain kamera, Dishub juga akan memasang warning light pada jarak kurang lebih 4,5 kilometer.

“Selama ini dari teknologi ATCS sering jadi alat bukti bila ada kecelakaan,” jelas Irvan ketika ditanya efektivitas kamera pemantau kecepatan itu bila terpasang.

Menurut Irvan, dalam lima tahun terakhir, Surabaya mendapat penghargaan karena berhasil menurunkan fatalitas kecelakaan. Namun, akhir-akhir ini, kecelakaan lalu lintas kembali cukup sering terjadi.

Utamanya yang terjadi pada malam hari atau dini hari. Paling baru adalah kecelakaan maut yang terjadi di Jalan A Yani pada Kamis (1/9) dini hari lalu.

Karenanya, Irvan mengimbau agar warga Surabaya tertib dalam berlalu lintas. Pasalnya, penyebab utama kecelakaan sejatinya bukan karena sarana (jalan atau kendaraan) ataupun cuaca. Tetapi karena faktor manusia.

Semisal karena mengantuk atau ugal-ugalan mengumbar kecepatan ketika mengendara di jalan. “Beradasar data kami, penyebab kecelakaan itu, 99 persen karena manusia. Karena itu, mari kita semua tertib berlalu lintas,” ujarnya.

Irvan menambahkan, sesuai aturan, batas kecepatan di jalan arteri adalah 60 kilometer/jam. Lalu untuk kawasan perkotaan, batas kecepatannya adalah 50 km/jam. Nah, kecelakaan yang terjadi umumnya karena melebihi kecepatan tersebut.

Sesuai Pasal 287 Ayat (5) UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang LLAJ, disebutkan bahwa pelanggaran batas kecepatan dipidana kurungan paling lama dua bulan atau denda paling banyak Rp 500 ribu.

Dishub Kota Surabaya juga telah melakukan berbagai upaya agar pengendara jalan tidak melebihi batas kecepatan yang telah ditentukan ketika berkendara. Seperti melengkapi jalan dengan batas rambu kecepatan, memasang traffic calming, warning light, juga pedestrian crossing traffic light.

“Kami baru memasang 170 rambu batas kecepatan di jalan-jalan utama. Seperti di jalan A Yani. Ke depan, kami berharap bisa membangun JPO (Jembatan Penyeberangan Orang) baru, sehingga keselamatan penyeberang jalan terjamin,” jelasnya.

Kanit Pengaturan Jalan dan Pengawalan Lalu Lintas Polrestabes Surabaya, AKP Moch Suud menyebut, pihaknya akan mengevaluasi pola jam patroli menyusul kecelakaan yang kerap terjadi pada waktu dini hari.

Namun, yang terpenting dalam menekan Laka menurutnya adalah kesadaran warga berlalu lintas. “Ayo ciptakan situasi tertib berlalu lintas di Surabaya. Ini menjadi tantangan bagi kami dan juga tanggung jawab semua,” jelas Suud. (sak)