Pelindo Bidik Bisnis Maritim di Pulau Sambu
EKONOMI BISNIS PERISTIWA

Pelindo Bidik Bisnis Maritim di Pulau Sambu

Pelindo 1 Cabang Batam membidik bisnis Maritim Service di Pulau Sambu, Kepulauan Riau. Pasalnya, Pertamina saat ini sedang merenovasi terminal bahan bakar minyak (BBM) miliknya di pulau tersebut menjadi terminal modern yang mampu menampung kapal-kapal besar yang memiliki panjang 12 meter.

Pertamina kini sedang melakukan pembangunan besar-besaran di Pulau Sambu. Terminal BBM Pertamina yang pada tahun 2013 ditutup, saat ini sedang dibangun menjadi terminal BBM bergaya modern.

Di dermaga terminal BBM Pertamina dengan kedalaman 18-20 Low Water Spring (LWS) atau air laut surut terendah itu nantinya kapal besar berbobot 100.000 ton dengan panjang sekitar 12 meter akan bisa bersandar untuk melakukan aktivitasnya.

Dengan pesatnya kegiatan kapal bersandar di terminal BBM Pertamina di Pulau Sambu tersebut, Pelindo 1 Batam akan bisa meraup pendapatan dari segmen pemanduan. Bahkan segmen tunda juga bakal bisa masuk dengan catatan Pelindo 1 harus menyiapkan dua unit kapal tunda.

“Tahun ini Pelindo 1 akan mendatangkan dua unit kapal tunda sehingga pelayanan tunda bisa ditangani Pelindo 1 Batam,” kata General Manager Pelindo 1 Cabang Batam Herry Amas sepertti dikutip situs BUMN.go.id.

Sampai saat ini, kata Herry, Pelindo 1 di Batam baru sebatas berbisnis di laut seperti pelayanan pemanduan, tunda dan ship to ship (STS) di Pulau Nipah dan Batu Ampar karena bisnis di darat masih dikuasai penguasa Batam yakni Badan Pengusahaan (BP) Batam.

Dia menegaskan, bisnis Maritime Service yang menjadi andalan pendapatan Pelindo 1 Batam memiliki saingan dari perusahaan swasta yang bekerjasama dengan BP Batam. Kendati demikian, Pelindo 1 Batam masih tetap unggul dalam hal pelayanan. Sebab, Pelindo 1 jauh lebih berpengalaman dibanding pihak swasta yang juga melakoni bisnis serupa di Pulau Batam.

Tenaga pelaut Pelindo 1 yang memiliki kualifikasi internasional jauh lebih berpengalaman dibanding perusahaan swasta yang masih pemain baru dalam bisnis pemanduan dan penundaan serta STS. “Perbandingannya 70:30 sehingga persaingannya tidak diragukan oleh Pelindo 1 Batam,” tambah Herry.

Salah satu segmen bisnis yang bakal menunjang pendapatan Pelindo 1 Cabang Batam adalah rencana pengelolaan Pelabuhan Batu Ampar di Pulau Batam. Rencananya Pelabuhan Batu Ampar akan dijadikan Pelabuhan Peti Kemas pertama di Pulau Batam. “Hasil pembicaraan di pusat Pelabuhan Batu Ampar akan diserahkan kepada Pelindo 1. Kami masih menunggu proses penyerahan,” katanya.

Herry mengakui, Batam berpotensi sangat cepat dalam pengelolaan bisnis peti kemas mengingat pertumbuhan ekonomi di Pulau Batam cukup tinggi. Sebab Batam berdekatan dengan jalur perdagangan internasional terpadat di dunia yakni Selat Malaka. Selain itu Batam juga merupakan sub pengembangan tol laut.

Saat ini arus lalu lintas peti kemas di Singapura sudah padat sehingga negeri Singa itu sudah kesulitan menyimpan peti kemas. Dengan demikian Pelabuhan Batu Ampar yang saat ini dikelola BP Batam dan memiliki luas 20 hektare serta panjang dermaga 600 meter yang hanya melakukan kegiatan 300.000 teus per tahun bisa dioptimalkan Pelindo 1.

Herry juga menambahkan, tahun ini pendapatan Pelindo 1 Batam mengalami kesulitan terkait gejolak ekonomi dunia. Hingga Juni 2016, pendapatan Pelindo 1 Batam baru sekitar 40 persen dari target yang ditetapkan. “Harga minyak dunia turun sehingga kunjungan kapal tanker jauh berkurang. Ini terjadi sebagai imbas perekonomian dunia yang belum pulih,” katanya. (sak)