Pelindo III Sukses Angkat Bangkai Kapal
EKONOMI BISNIS PERISTIWA

Pelindo III Sukses Angkat Bangkai Kapal

Pengangkatan dan evakuasi bangkai kapal motor penumpang (KMP) Wihan Sejahtera selesai dilakukan secara keseluruhan PT Pelindo III. Penyelesaian pekerjaan ditandai dengan pemotongan tumpeng yang dilakukan bersama Pelindo Marine Service (PMS) anak perusahaan Pelindo III yang menangani kegiatan evakuasi dan Syahbandar Utama Tanjung Perak selaku pihak regulator.

Kegiatan berlangsung Jum’at (9/9) lalu bertempat di atas Kapal Benoa I tempat proses pengerjaan Salvage Grapper Crane yang digunakan untuk mengevakuasi kapas yang naas itu.

Pelindo III sebelumnya telah mendapatkan penugasan dan pelimpahan dari pemerintah dalam hal ini Syahbandar Utama Tanjung Perak untuk menyingkirkan bangkai kapal penumpang yang tenggelam di perairan Pelabuhan Tanjung Perak.

Selanjutnya Pelindo III melalui anak Perusahaannya, Pelindo Marine Service (PMS) melakukan kegiatan salvage kapal yang tenggelam di perairan Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Kapal yang tenggelam November 2015 lalu kini telah berhasil diangkat dalam waktu pengerjaan selama 3 (tiga) bulan.

Hari Setiobudi Kepala Kantor Syahbandar Utama Tanjung Perak menyampaikan rasa terima kasih kepada Pelindo III selaku Induk dan PMS atas keberhasilannya mengangkat bangkai kapal KMP Wihan Sejahtera.

“Saya berharap kejadian ini adalah kecelakaan kapal tenggelam terakhir yang terjadi di Pelabuhan Tanjung Perak, semoga kedepan tidak terjadi lagi kejadian yang serupa,” kata Hari.

Selanjutnya Hari berharap dengan berakhirnya proses salvage tersebut, kegiatan operasional khususnya masuk dan keluar kapal-kapal di wilayah perairan Pelabuhan Tanjung Perak makin lancar dan meningkat lagi.

Terpisah, Chairoel Anwar Direktur Utama PMS mengatakan untuk proses pengerjaan salvage diawali dari banker removal. Proses banker removal dilakukan pertama kali untuk menyelamatkan laut dan perairan agar tidak tercemar oleh tumpahan bahan bakar dan oli dalam kapal.

Kencangnya arus di Perairan Tanjung Perak juga menjadi hambatan proses removal. “Tim harus menyelam dan memasukkan selang ke dalam tempat dimana bahan bakar dan oli tersebut berada, sehingga saat terjadi arus kencang, penyelaman dihentikan” ujarnya.

Setelah bahan bakar serta oli dinyatakan kosong, dilanjutkan proses scrapping dengan alat salvage grapper crane yang didatangkan dari Jakarta.

Salvage grapper crane ini mampu meremas bangkai kapal beserta isinya hingga 100 ton. “Jadi sebelum diangkat bangkai kapal tersebut dihancurkan terlebih dahulu dengan menggunakan salvage grapper crane,” kata Chairoel.

Beberapa kendala yang terjadi saat scrapping adalah pada saat salvage grapper crane mulai mengambil bangkai kapal yang berada di kedalaman 2 meter dari dasar laut. Banyak nelayan berlomba mengambil barang-barang yang mengapung.

“Namun saya bersyukur, pekerjaan salvage tersebut dapat berjalan lancar dan aman, tidak sampai menimbulkan korban atau insiden, sehingga kegiatan salvage ini kami nyatakan zero accident,” pungkas Chairoel.(sak)