Pembinaan Berkelanjutan Perajin Ulos
PEMERINTAHAN PERISTIWA

Pembinaan Berkelanjutan Perajin Ulos

Kementerian Perindustrian tengah aktif melaksanakan berbagai upaya pengembangan kain tenun nasional sekaligus melakukan pembinaan kepada para perajin. Langkah sinergi bersama pemerintah daerah, perajin, pelaku uaha, dan desainer ini bertujuan melestarikan warisan budaya Indonesia.

“Indonesia sebagai negara yang terdiri dari beragam suku bangsa, menyimpan potensi yang sangat besar untuk pengembangan industri fashion berbasis tradisi dan budaya. Salah satunya adalah kain tenun Ulos sebagai wastra nasional,” kata Dirjen Industri Kecil dan Menengah (IKM) Gati Wibawaningsih di Medan Sumut.

Gati menjelaskan, pada 17 Oktober 2015 lalu, pemerintah telah menetapkan kain Ulos sebagai warisan budaya tak benda, sehingga setiap tanggal tersebut dirayakan Hari Ulos Nasional.

“Untuk mendukung pengrajin tenun dan ulos, dilakukan pembinaan peningkatan kapabilitas IKM di bidang teknis produksi tenun,” tutur Gati

Ada program restrukturisasi mesin peralatan, penguatan akses sumber bahan baku melalui pembuatan material center, dan promosi produk tenun melalui media audio visual seperti pembuatan film animasi, tambahnya.

Menurut Gati, yang juga perlu menjadi perhatian ke depannya dalam pengembangan fashion dengan bahan kain Ulos adalah motif yang ditampilkan.

Motif yang ditampilkan bukan motif Ulos yang digunakan dalam berbagai upacara ritual sehingga tidak merusak konsep sakral dari Ulos itu sendiri.

“Selain itu, tidak memotong kain Ulos yang digunakan dalam upacara ritual, maka ada baiknya apabila Ulos untuk bahan produk fashion sudah dipersiapkan sesuai dengan tujuan penggunaan,” paparnya.

Saat ini, lanjut Gati, Ulos masih digunakan sebagai kain dengan fungsi simbolik dalam tatanan masyarakat Batak, seperti halnya kegiatan Mangulosi yang melambangkan pemberian restu, kasih sayang, harapan dan kebaikan lainnya.

“Seiring perkembangan zaman, saat ini kain Ulos juga menjadi produk fashion bernilai seni tinggi, dengan motif khas seperti Gorga atau ukiran rumah khas adat Batak yang dapat memberi nuansa unik dan keindahan tersendiri,” jelasnya.

Gati menyampaikan beberapa kegiatan yang telah dilakukan Ditjen IKM Kemenperin dalam pengembangan dan mempromosikan kain tenun Ulos.

Antara lain partisipasi melalui fashion show yang menampilkan hasil rancangan Deden Siswanto selaku desainer nasional yang memadukan Tenun Ulos dengan tren desain internasional pada acara Festival Danau Toba di Pulau Samosir 2013. Bahkan di acara Miss World 2013 di Bali, busana tersebut digunakan pembawa acaranya.

Kemudian, pada tahun 2014, melaksanakan pendampingan tenaga ahli dalam pengembangan produk tenun untuk Kelompok Usaha Bersama (KUB) perajin yang menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM) di Tobasa Sumut.

Fokus kegiatannya membina perajin ATBM mengenal bahan baku benang berkualitas, teknik pewarnaan benang, strategi memasarkan produk, serta pengembangan dan penempatan motif sesuai produk fashion.

Juga dilakukan pembinaan di Kabupaten Samosir, diantaranya melalui pembuatan brand produk tenun Samlos (Samosir Ulos) dan melaksanakan pelatihan produk fashion bagi kelompok penjahit.

Selain itu, pembinaan di Kabupaten Tapanuli Utara dan Tapanuli Tengah, dengan melaksanakan pelatihan pembuatan busana bermotif tenun Ulos dan fasilitasi mesin jahit untuk penjahit daerah tersebut.

Sedangkan, pada 2015, melanjutkan pengembangan tenun di Sumut dengan melaksanakan kegiatan seperti partisipasi dalam Pameran Indonesia Fashion Week, yang menampilkan produk tenun Ulos hasil pembinaan dari Tobasa dan Samosir. Selanjutnya, pendampingan tenaga ahli tenun di Samosir dan Tobasa untuk meningkatkan keahlian dan kualitas produk tenun. (sak)