Penawaran Obligasi Perdana KAI
EKONOMI BISNIS PERISTIWA

Penawaran Obligasi Perdana KAI

Bertempat di Ballroom I The Ritz Carlton Jakarta telah dilakukan Due Diligence Meeting dan Public Expose, PT Kereta Api Indonesia (Persero) menerbitkan obligasi perdana melalui penawaran umum obligasi I KAI tahun 2017. Obligasi I KAI diterbitkan dengan nilai nominal Rp 2 triliun. Penerbitan obligasi ini dipergunakan untuk memperkuat kondisi finansial serta untuk mendukung pembiayaan pembangunan sejumlah proyek operator plat merah tersebut

Direktur Utama KAI Edi Sukmoro dalam sambutan pembuka acara mengatakan pengalaman dan track record Perseroan dan manajemen operasi yang baik serta proyeksi arus kas yang baik membuat kami mendapatkan peringkat Obligasi yang bagus dengan peringkat AAA dari PEFINDO (PT Pemeringkat Efek Indonesia). “Kami optimis penawaran umum ini akan sukses,” ujar Edi.

Direktur Keuangan KAI Didiek Hartantyo memaparkan presentasi tentang Company Profile dan Business Overview KAI dihadapan para Investor yang hadir. “Kita mengantisipasi banyak hal. Bayangkan LRT itu Rp 27,5 triliun, sementara aset KAI Rp 27,3 triliun. Kita harus hati-hati mengelola ini, kita harus jamin sumber dana bagus sehingga penugasan pemerintah bisa selesai dengan baik untuk masa depan negeri,” ujar Didiek.

Dana yang diperoleh dari penawaran umum ini setelah dikurangi dengan biaya-biaya emisi, sebesar 55% akan digunakan untuk penyelesaian proyek kereta Bandara Soekarno Hatta dan 45% untuk pengadaan kereta. “Sebanyak 55% akan digunakan untuk penyelesaian kereta api bandara, dan 45% untuk kereta api,” kata Didiek.

KAI memesan 438 unit gerbong dari PT Industri Kereta Api (Inka) untuk remajakan kereta. Didiek mengatakan, hal itu dilakukan guna remajakan kereta dan meningkatkan pelayanan kepada penumpang karena saat ini banyak gerbong kereta milik KAI yang berusia 30 tahun.

Peremajaan armada KAI dilakukan bukan hanya untuk meningkatkan pelayanan kepada penumpang, namun juga untuk kenyamanan, keamanan, serta efisiensi perusahaan. “Supaya pelayanan masyarakat bisa makin bagus, kalau kereta makin bagus kan senang. Kenyamanan dan keselamatan juga seperti itu, efisiensi bagi kami juga,” kara Didiek.

KAI juga akan menyelesaikan proyek kereta bandara Soekarno Hatta sesuai target, meski dalam proses pengerjaannya memiliki beberapa kendala. KAI optimistis akan memperoleh pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 13 November 2017 dan melakukan penawaran umum pada 14 dan 16 November 2017 serta ditutup dengan pencatatan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 22 November 2017.

“Pendanaan melalui penerbitan obligasi dilakukan KAI dengan pertimbangan tingkat bunga yang lebih rendah dibandingkan pinjaman perbankan. Sehingga, opsi ini lebih menguntungkan bagi perseroan. Kalau perbankan bunganya di atas rate obligasi. Kita opsi efisienkan pendanaan,” ujar Didiek.

Obligasi terbagi menjadi dua seri, yakni seri A berjangka waktu lima tahun dengan indikasi tingkat kupon obligasi 7,25% sampai 8%, dan seri B berjangka waktu tujuh tahun dengan indikasi tingkat kupon obligasi 7,5-8,35%. Bunga obligasi dibayarkan sesuai dengan tanggal pembayaran masing-masing bunga obligasi.

Tingkat kupon Obligasi I Kereta Api Indonesia Tahun 2017 yang akan diterbitkan oleh KAI dinilai mampu menarik minat investor. Fixed Income Fund Manager Ashmore Asset Management Indonesia, Anil Kumar mengatakan, jika investor benar-benar memiliki kebutuhan dengan obligasi korporasi, maka obligasi perdana dari KAI bisa menjadi tawaran yang menarik. “Apalagi perusahaannya termasuk BUMN plus rating obligasinya juga tinggi,” katanya. (sak)