Pentingnya Pengelolaan Limbah Radioaktif
KESEHATAN PERISTIWA

Pentingnya Pengelolaan Limbah Radioaktif

Makin maraknya penggunaan teknologi nuklir pada beberapa bidang, seperti industri, kesehatan, dan penelitian, memunculkan kekhawatiran terkait limbah radioaktif. Hal ini mendorong Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) berperan aktif meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan limbah radioaktif.

Di Indonesia, saat ini, menurut data Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten), sudah ada sekitar 15.000 industri dan layanan kesehatan yang terdaftar sebagai pemegang izin penggunaan unsur radioaktif dan pengoperasian instalasi nuklir.

Bapeten selaku lembaga yang mengeluarkan izin, memiliki otoritas untuk memastikan pemegang izin taat akan hukum yang berlaku. “Serta memastikan bahwa limbah radioaktif tidak mengkontaminasi masyarakat, sesuai dengan mandat UU yang berlaku,” kata Deputi Pengkajian Keselamatan Nuklir Bapeten Dr Yus Rusdian Ahmad, kepada media saat Seminar Nasional Pengelolaan Limbah XIV, di UI Salemba, Jakarta, Rabu (5/10).

Batan saat ini menjadi satu-satunya institusi yang secara khusus ditugasi untuk mengolah dan menyimpan limbah radioaktif yang dihasilkan oleh aktivitas industri, rumah sakit, dan litbang.

”Saat ini ada sekitar 40-60 pelanggan Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (PTLR) Batan Serpong,” imbuh Suryantoro, Kepala PTLR.

Dijelaskan, paparan radioaktif memang tidak bisa dirasakan secara langsung. Efeknya bisa dalam hitungan tahun, puluhan tahun maupun ratusan tahun. Setiap unsurnya menyerang titik organ yang berbeda. Akan tetapi, banyak masyarakat yang belum memahami secara penuh, bagaimana proses kontaminasi radioaktif bisa terjadi.

”Kami menyadari bahwa sangat penting untuk membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya pengelolaan limbah radioaktif. Hal ini sejalan dengan prinsip tridharma perguruan tinggi, di mana mahasiswa berperan sebagai agen penyebar hasil penelitian tentang keselamatan energi nuklir, dengan tetap mempertahankan aspek keselamatan dan social-acceptable,” papar Tri Edhi Budhi Soesilo, perwakilan dari Universitas Indonesia.

Pada seminar nasional yang sudah menginjak tahun ke-14 ini, Batan mengharapkan adanya penambahan stakeholder dalam pengelolaan nuklir, sehingga proses sosialisasi dan pengamanannya jauh lebih terjamin.

Seminar nasional kali ini dihadiri tujuh pembicara. Antara lain Kepala Batan Djarot S Wisnusubroto, Bapeten, perwakilan Kementerian Lingkungan Hidup Sri Purwati, perwakilan Institut Teknologi Bandung, Manager Litbang PT Timah Robertus Bambang Susilo, dan 40 pemakalah poster. (sak)