Pentingnya Sentralisasi untuk Menciptakan Kampung UMKM di Surabaya
PERISTIWA

Pentingnya Sentralisasi untuk Menciptakan Kampung UMKM di Surabaya

Pandemi Covid-19 yang tak berkesudahan mau tak mau melumpuhkan perekonomian tanah air. Tak terkecuali kota Surabaya. Pasca 2 tahun Covid-19 berlalu, sejak 2019 lalu, berbagai upaya sudah dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dalam memulihkan ekonomi, khususnya yang berbasis kerakyatan.

Meski toh, saat ini, varian virus yang sempat membunuh jutaan orang itu mulai muncul kembali, perhatian Pemkot Surabaya dalam memulihkan ekonomi kerayatan melalui Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) tak berhenti dan bahkan gak main-main.

Fasilitas yang diberikan berupa bantuan modal, pelatihan, pendampingan, pemberdayaan hingga pemasaran menjadikan wong cilik punya harapan bangkit. Menata hidupnya kembali. Memintal mimpi-mimpinya lagi demi keluarga.

Tak ayal jika pancingan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi memantik membludaknya pelaku UMKM di Surabaya. Terbukti, ada 60.007 yang tercatat hingga Nopember tahun 2022. Rinciannya, pelaku UMKM yang terdaftar di dinas terkait sebanyak 13.441. Selebihnya ada 45.566 tercatat di 31 kecamatan yang ada di Surabaya.

Produk rumahan atau home industry ini muncul dalam beberapa kategori. Usaha kuliner yang paling banyak digandrungi dan bisa dikatakan favorit, khususnya kalangan muda. Juga ada fashion, agribisnis, jasa penatu hingga otomotif dan toko kelontong.

Padahal, dari tahun 2015 – 2019 pertumbuhan UMKM tak seberapa dahsyat. Dari tidak sampai 1.000 UMKM terdaftar, yang mengurus Hak Kekayaan Intelektual (HKI) yang difasilitasi Pemkot hanya tercatat 700 UMKM. Padahal gratis. Dan yang terjadi saat ini benar-benar membanggakan..!

SENTRALISASI KAMPUNG
Banyak yang akan didapat Pemkot Surabaya, jika para pelaku UMKM itu disentralisasikan atau dipusatkan. Tentu saja sentralisasinya di kampung masing-masing. Selain menciptakan objek wisata berbasis kampung, ada kebanggan tersendiri bagi warga kampung atas julukan tertentu.

Sebut saja, Kampung Lontong di daerah Banyu Urip Kelurahan Sawahan. Sebutan Kampung Lontong yang muncul di tahun 1974 disebabkan oleh sebagian besar warga membuat lontong. Data jurnal pendidikan tulisan Septina Alrianingrum -mahasiswa Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Surabaya- menyebutkan tahun 2018 ada 78 keluarga yang jadi wirausaha lontong.

Betapa riuhnya keseharian di Kampung Lontong. Ada yang mencuci beras, menakar hingga membungkus beras dalam daun pisang kemudian direbus dalam tungku-tungku besar. Sudah bisa dipastikan berapa perputaran uang di kampung yang sebelumnya dikenal penghasil tempe itu. Mengingat pembeli lontong tidak hanya dari kalangan biasa, menengah atas hingga hotel berbintang membutuhkan lontong dari kampung Banyu Urip ini.

Belajar dari produk lontong inilah, kenapa kampung lain tidak digerakkan? Ada sih, Kampung Kue yang dimotori Choirul Mahpuduah di tempat tinggalnya, Rungkut Lor. Munculnya sentra kue tradisional yang dilaunching di tahun 2020 lalu, awalnya dari banyaknya ibu-ibu berjualan kue (basah) tradisional di depan rumah masing-masing. Oleh Irul -panggilan Choirul- para ibu rumah tangga itu digalang dan disatukan. Hal itu dilakukan setelah Irul mendapatkan pelatihan Pahlawan Ekonomi (PE) program Wali Kota Tri Rismaharini di tahun 2019.

Banyak perempuan seperti Irul dalam data yang dimiliki Pemkot Surabaya. Utamanya yang sudah lulus dari pelatihan PE, Apalagi, mayoritas pelaku UMKM adalah kaum hawa.

Gak sulitlah, jika hanya menciptakan kampung UMKM baru di Surabaya. Selain warganya responsif, partisipasi warga kota sangat tinggi. Apalagi, jika dikaitkan dengan cuan. Dijamin! Salah satu misalnya makanan Peyek atau Rengginang. Banyak perempuan bisa membuat jenis camilan yang bisa dipakai lauk (peyek).

Jika dalam sebuah kampung ada yang piawai membuat peyek enak dan rekomended, tunjuk saja sebagai leader. Beri kepercayaan sang perempuan tadi menjadi mentor dalam pelatihan membuat peyek. Di Balai RW misalkan pelatihannya. Jika sudah mahir dan bisa, Pemkot melalui dinas terkait turun memberi pendampingan. Mulai dari pelatihan pengemasan, manajemen, pemasaran, hingga fotografi dan video. Seperti yang sudah dilakukan selama ini.

Jika sudah jadi, ajak pameran dan pasarkan. Otomatis, cikal bakal kampung peyek sudah bisa dimunculkan. Tiga bulan, bisa jadi kampung peyek terwujud. Agar mudah mengenalkan, papan nama pada sebuah kampung, segera disematkan dan dilauncing Cak Eri Cahyadi.

Begitupun dengan jenis makanan olahan atau camilan yang banyak di Surabaya. Jika sentralisasi UMKM ini dilakukan, Cak Eri akan mendapakan legasi baru. Produk UMKM made in kampung yang gak kampungan muncul di berbagai sudut kota.

Warga juga sudah pasti bangga dengan munculnya kampung mereka sebagai icon UMKM di Surabaya. Dampak lain, terciptanya lapangan kerja baru juga terwujud. Seiring dengan dikenalnya kampung mereka diluaran.

So, objek wisata UMKM ala kampung bermunculan. Jika saja dari 154 kelurahan muncul satu ikon kampung UMKM, berarti sudah ada 154 pula sentra kampung UMKM yang tersebar di 31 kecamatan. Ini fenomena baru yang patut diapresiasi. Bukankan Surabaya surganya kuliner dan makanan enak? Itu dari jenis kuliner. Belum fesyen dan sebagainya.

Jika sentralisasi UMKM jalan, lapangan pekerjaan tercipta secara otomatis. Paling mudah juru parkir karena wisatawan pastilah bawa kendaraan. Entah roda dua atau empat.

PEMKOT JADI PROMOTOR
Selain pendampingan, Pemkot juga wajib mempromosikan. Caranya, setiap rapat atau ada even, baik kecil atau besar tampilkan produk made in kampung ini sebagai salah satu sajiannya. Misalkan kue basah untuk rapat, pesankan pada kampung kue. Gilir pesanan tersebut hingga semua UMKM jenis kue produknya pernah ‘nongkrong’ di balai kota.

Pola ini juga harus sampai ke bawah. Tingkat kelurahan. Jika pola ini dilaksanakan, tak akan ada lagi keluhan bisa memproduksi tapi sulit pemasaran.

Dr Suko Widodo drs MSI pakar komunikasi Universitas Airlangga setuju dengan sentralisasi UMKM. Seperti Kampung Lontong. Alasannya, Surabaya punya potensi produk lokal cukup variatif. Menurutnya, penguatan produk lokal perlu dioptimalkan untuk membangun ekonomi warga Surabaya. “Tugas Pemkot membina dalam bentuk pelatihan kwalitas produk sekaligus mempromosikan,” paparnya.

Jika hal itu dilakukan secara masif, lanjut Suko, ekonomi Surabaya akan cepat bangkit. Objek wisata rekreasi muncul dan wisata edukasi tercipta. Kampung UMKM menjadi pusat pembelajaran siswa. “Surabaya pasti akan jadi proyek percontohan,” tambah akademisi yang juga host berbagai acara televisi itu. (Ita Siti Nasyi’ah)