Pabrik di Bandung Pasok Kain Merek Dunia
EKONOMI BISNIS PERISTIWA

Pabrik di Bandung Pasok Kain Merek Dunia

Mungkin tak banyak yang tahu, fashion merek dunia seperti Wacoal, H&M, Walmart, Aeon, Uniqlo, Vanity Fair, dan Victoria’s Secret, bahan kainnya berasal dari Indonesia. Produsennya ada di Bandung, yaitu Sipatatex Group.

Sipatatex Group, yaitu PT Sinar Para Taruna dan Sipata Moda, konsisten menyerap kain dalam negeri di tengah keadaan ekonomi global yang lesu. Bahkan perusahaan tercatat telah menembus pasar dunia dengan memasok untuk merek fesyen internasional dan produk mainan.

Direktur Utama Sinar Para Taruna Slamet Wijono memaparkan perusahaannya telah menembus pasar dunia dengan mengekspor ke 28 negara seperti ke Asia, Eropa dan Timur Tengah termasuk Dubai.

“Kapasitas produksi kami 30 juta yard per tahun dengan lebih dari 140 unit mesin. Nilai omzet mencapai Rp250 miliar per tahun dan jumlah karyawan 1.500 orang,” ungkapnya seperti dikutip dari siaran pers di Bandung.

Sipatatex telah menjadi suplier bagi merek dunia seperti Wacoal, H&M, Walmart, Aeon, Uniqlo, Vanity Fair, dan Victoria’s Secret. Mereka juga memasok kain boneka Barbie yang diproduksi PT Mattel Indonesia di Cikarang. Selain itu, memproduksi kain untuk otomotif seperti Toyota dan Honda.

Pada kesempatan yang sama, Kantor Kementerian Perindustrian mengapresiasi dua perusahaan tersebut karena konsisten memproduksi barang sejenis untuk kepentingan pasar dalam negeri dan ekspor yang selama ini pasarnya telah terbentuk.

Hingga saat ini, Sipatatex tercatat berkontribusi dalam menyerap produk dalam negeri karena menggunakan bahan baku produksi PT Indorama Synthetics Tbk dan PT Indonesia Toray Synthetics.

Pemerintah mendorong diversifikasi produk yang telah dilakukan PT Sinar Para Taruna dan Sipata Moda, yang beralamatkan di Batujajar, Kabupaten Bandung. Sinar Para Taruna juga memproduksi kain rajut sedangkan Sipata Moda menghasilkan kain brokat.

Diversifikasi itu menjadi langkah strategis mengingat saat ini perkembangan permintaan pasar terhadap bahan baku untuk kepentingan fesyen yang relatif spesifik semakin tinggi dan sayangnya sebagian besar dipenuhi dari impor.

Dua tahun belakangan, Kementerian Perindustrian mencatat perkembangan industri TPT cenderung stagnan baik di pasar domestik maupun internasional yang diakibatkan melambatnya perekonomian dunia.

Dirjen Industri Kimia, Tekstil dan Aneka Kemenperin Harjanto mengatakan pemerintah mengeluarkan berbagai paket kebijakan guna mendorong pertumbuhan ekonomi dengan melakukan deregulasi, memangkas berbagai peraturan, perizinan, dan birokrasi yang masih dirasa menghambat di berbagai kementerian dan lembaga.

Kemudian, menyusun sistem pengupahan untuk menjamin kepastian bagi tenaga kerja dan pelaku usaha, penurunan harga gas, diskon dan penundaan pembayaran rekening listrik bagi industri, dan beberapa kebijakan lainnya. “Pengembangan pusat logistik berikat juga didorong untuk memfasilitasi dan memudahkan pelaku industri,” katanya. (sak)