Perusahaan China Minati Kambing Brawiboer
KOMUNITAS PERISTIWA

Perusahaan China Minati Kambing Brawiboer

Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya (Fapet UB) Malang sudah hampir 10 tahun mengembangkan kambing unggul jenis Boer asal Australia dan disilangkan dengan kambing lokal menjadi Brawiboer. Kambing hasil persilangan ini ternyata dimintai perusahaan asal China yang ingin membeli dan mengembangkannya.

PT Tienyen Internasional ingin menggandeng Fapet UB untuk mengembangkan kambing tipe pedaging ini. PT Tienyen Internasional adalah perusahaan penanaman modal asing asal China yang mengembangkan usahanya ke Indonesia, berbasis di Tangerang, Banten.

Berdiri sejak 2007 PT Tienyen Internasional merupakan importir dan distributor obat hewan ternak dan satwa akuatik terutama untuk produk imbuhan pakan dan suplemen pakan.

Managing Director PT Tienyen Internasional drh Albert B Winata beserta stafnya mengunjungi Fapet UB, pekan lalu. Pertemuan yang berlangsung singkat ini mengulas maksud PT Tienyen Internasional yang hendak membeli bibit kambing Brawiboer di Fapet UB namun juga membutuhkan bimbingan dalam pemeliharaan kambing-kambing ini.

Fapet UB sebagai instansi peternakan telah mengembangkan kambing Boer selama lebih dari sepuluh tahun yang merupakan hasil kerjasama dengan LDSC-Kanada.

Awal tahun 2004 silam Fapet UB mengimpor kambing boer dari Australia yang memiliki genetik unggul dan bersertifikat dikeluarkan oleh Australian Boer Goat association.

Keunggulan kambing ini yaitu mampu beradaptasi pada semua kondisi iklim, pertumbuhan cepat, bentuk tubuh bulat, perdagingan tebal, dan menghasilkan karkas tinggi, sehingga efisien dalam pemeliharaan.

Fapet UB memiliki strategi untuk meningkatkan performans produksi daging kambing lokal, yakni menyilangkan pejantan unggul Boer dengan induk kambing lokal Peranakan Etawah (PE) lalu menghasilkan keturunan yang disebut Brawiboer. Brawi berasal dari kata Brawijaya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa keturunan kambing persilangan tersebut tidak menurunkan reproduksi, yang berarti secara populasi mampu meningkatkan kinerja usaha peternakan kambing.

Dengan keunggulan-keunggulan tersebut masyarakat luas khususnya peternak menyukai kambing boer dan berupaya untuk mengembangkannya di berbagai wilayah.

Dosen Fapet spesialis kambing Ir Hermanto MP mengatakan kambing Brawiboer merupakan tipe pedaging. Brawiboer yang berumur 1,5 tahun memiliki berat rata-rata 35-60 kg sedangkan harga yang ditawarkan kambing ini tahun lalu Rp 60.000 per kg berat hidup.

Kambing Brawiboer yang digunakan untuk konsumsi adalah keturunan unggul pertama (F1) yang memiliki 50 persen genetik Boer, sedangkan Boer murni hanya digunakan untuk pembibitan. F1 Brawiboer betina akan dikawinkan dengan Boer murni untuk menghasilkan F2 genetik 75 persen. Sementara itu F1 Brawiboer jantan belum siap digunakan sebagai bibit, lebih bagus untuk produksi daging. Fapet UB dengan bantuan CRS Bank BRI telah memiliki 300 plasma atau sistem kemitraan. (sak)