KSEI Manfaatkan Data Kependudukan
EKONOMI BISNIS PERISTIWA

KSEI Manfaatkan Data Kependudukan

Sebagai lembaga penyimpanan dan penyelesaian di Pasar Modal Indonesia, salah satu layanan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) adalah penyimpanan Efek yang diperdagangkan di Bursa maupun Luar Bursa.

Atas fungsi dan layanan tersebut, maka basis data investor pasar modal tercatat di KSEI secara terpusat, dengan mengacu pada data Single Investor Identification (SID).

Sebagai lembaga yang mengadministrasikan basis data investor, KSEI berupaya membentuk data investor yang akurat, dengan mengacu pada basis data kependudukan milik Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Ditjen Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri.

Pemadanan data investor dengan data kependudukan merupakan hasil kerjasama KSEI dan Ditjen Dukcapil melalui penandatanganan MoU Pemanfaatan NIK, Data Kependudukan dan KTP pada Agustus 2014, yang sekaligus tindak lanjut dari MoU antara OJK dan Ditjen Dukcapil Depdagri.

Penerapan KTP elektronik secara nasional bagi penduduk Indonesia kurang lebih sejak 2 tahun lalu, memberi harapan tersedianya basis data kependudukan nasional yang dapat dijadikan sebagai acuan data investor pasar modal yang dibentuk di KSEI.

Sejak ditandatanganinya PKS tersebut, KSEI telah melakukan proses pemadanan seluruh data investor lokal individu yang tercatat di KSEI. Bila terdapat data yang belum sepadan, KSEI menghubungi Pemegang Rekening KSEI (Perusahaan Efek dan Bank Kustodian) untuk melakukan pengkinian data nasabah.

Untuk peningkatan keakuratan data investor yang tercatat di KSEI, dalam waktu dekat Perusahaan Efek juga dapat memanfaatkan data Ditjen Dukcapil.

Direktur KSEI Syafruddin memaparkan rencana tersebut melalui sosialisasi Perjanjian Kerjasama Perusahaan Efek dengan Ditjen Dukcapil dengan topik ‘Administrasi Data Investor dan Pemanfaatan Data Kependudukan’ di Main Hall, Galeri Bursa Efek Indonesia Jakarta, Selasa (27/9).

Pemanfaatan data kependudukan oleh Perusahaan Efek secara langsung merupakan upaya menghindari risiko terjadinya potensi kesalahan input data dalam proses pembukaan Sub Rekening atau SID, yang dilakukan melalui modul Static Data Investor yang terhubung dengan sistem utama KSEI (C-BEST). “Hal ini juga untuk menghindari potensi terbentuknya SID Ganda,” kata Syafruddin.

Manfaat lainnya, ungkap Syafruddin, untuk meningkatkan efisiensi pendaftaran investor baru dan pengkinian data nasabah, serta verifikasi kebenaran informasi data nasabah sebelum dilakukan proses pembukaan Sub Rekening Efek lebih lanjut.

Saat ini, proses verifikasi data investor dengan data kependudukan hanya dilakukan di KSEI. Pada proses penerbitan nomor SID bagi investor individu lokal, proses pemadanan dengan data kependudukan dilakukan bagi investor baru.

Syafruddin berharap, bila Perusahaan Efek melakukan kerjasama dengan Ditjen Dukcapil, maka dapat dilakukan pemadanan data KTP Elektronik secara langsung, sehingga verifikasi data nasabah dilakukan di tahap awal dengan mengecek kebenaran dan validitas data investor.

Perusahaan Efek diharapkan dapat berperan aktif melakukan proses pengkinian data nasabah dan memastikan validitasnya, serta membangun prosedur internal yang dapat meminimalisasi risiko kesalahan penyampaian data nasabah ke sistem KSEI.

“Pemanfaatan data KTP Elektronik secara langsung merupakan salah satu upaya agar data investor dapat divalidasi di awal yakni Perusahaan Efek,” pungkas Syafruddin.

Kerjasama pemanfaatan data kependudukan oleh Perusahaan Efek direncanakan dilakukan 21 Oktober 2016 melalui penandatanganan PKS antara PE dengan Ditjen Dukcapil. Namun, kerjasama tersebut bersifat optional dan Perusahaan Efek dapat memilih jenis akses yang diinginkan, apakah melalui Web Service atau dengan penyediaan card reader KTP Elektronik.

“Keduanya memiliki kelebihan maupun kekurangan masing-masing. Bila card reader maka PE tinggal menscan KTP investor yang akan digunakan untuk proses pembukaan Sub Rekening Efek. Sedangkan Web Service dapat diakses PE di beberapa lokasi, bahkan dapat diakses PE di cabang atau daerah,” kata Syafruddin.

Menanggapi rencana tersebut, Kepala Departemen Pengawas Pasar Modal 2A OJK, Fakhri Hilmi menyatakan terima kasih dan mengapreasi inisiatif KSEI, Dukcapil dan juga Perusahaan Efek.

Kerjasama ini menurutnya sangat membantu dari sisi data integrity serta adanya easy access, dari proses yang sebelumnya berhari-hari kini menjadi hitungan menit. “Kami harapkan PE dapat berpartisipasi penuh untuk memanfaatkan kerjasama tersebut, karena selain mempermudah PE juga membantu industri secara keseluruhan,” kata Fakhri. (sak)