Peserta Colombo Plan Kagumi Eks Dolly
KOMUNITAS PERISTIWA

Peserta Colombo Plan Kagumi Eks Dolly

Delegasi peserta Sharing Best Practices on Woman and Leadership dari Colombo Plan di Surabaya mengunjungi beberapa lokasi yang jadi pusat UMKM. Salah satunya kawasan Dolly dan Jarak, eks lokalisisasi yang kini jadi salah satu primadona tujuan wisata tamu asing.

Eks lokalisasi yang katanya dulu terbesar Asia Tenggara itu telah berubah wajah menjadi sentral UMKM. Ada perajin sepatu dan sandal, pembuatan kerupuk Samiler Samiaji, pembuatan batik, sablon maupun produksi tempe.

Kepala Bagian Penyusunan Program dan Anggaran Biro Perencaan dan Data Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PP&PA) Fakih Usman mengatakan, penyelenggaraan Colombo Plan digelar di Surabaya karena keberhasilan Pemerintah Kota Surabaya dalam menutup lokalisasi. “Makanya kita ajak ke sini para pesertanya,” katanya.

Dijelaskan, Kementrian PP&PA ingin menunjukkan ditutupnya Dolly merupakan prestasi besar. Sebab, pusat kemaksiatan itu bisa berganti rupa menjadi tempat positif. “Keberhasilan walikota lainya bisa memobilitasi SKPD yang ada secara total. Sehingga jadilan Dolly berubah bentuk seperti sekarang ini,” jelasnya pada media.

Peserta dari 14 negara, masing-masing Sri Lanka, Myanmar, Fiji, Afghanistan, Filipina, Vietnam, Pakistan, Malaysia, Iran, Bhutan, Nepal, Maladewa, Bangladesh dan Indonesia sebagai tuan rumah memang terheran-heran melihat perkampungan Dolly.

Selain mempertanyakan banyaknya wisma-wsima yang telah ditutup. Rupanya para peserta Colombo Plan belum banyak yang tahu jika wisma di Dolly itu tempat pelacuran. Begitu tahu, para peserta juga banyak kemana saja para PSK setelah lokalisasi yang sudah ada sejak zaman Belanda itu.

Setelah mendapatkan pejelasan panjang lebar dari Camat Sawahan Mohamad Yunus, seluruh peserta manggut-manggut. Sebaliknya, UMKM yang memamerkan hasil produksi warga terdampak diborong. Salah satunya produksi sepatu dari Kelompok Usaha Bersama (KUB) Mampu Jaya. UMKM yang seluruh anggotanya perempuan itu memproduksi sepatu dan sandal dengan merek PJ Craf kepanjangan dari Putat Jaya.

Camat Sawahan Yunus mengaku bangga dengan kunjungan dari delegasi organsiasi perempuan tingkat dunia itu ke tempatnya. Menurutnya, warga Dolly dan Jarak akhirnya merasakan jerih payah mereka selama mengikuti pelatihan dihargai warga negara asing.

“Alhamdulillah, yang membuat saya gembira karena warga Dolly dan Jarak ini senang karena hasil karya mereka berhasil mencatat transasikan puluhan juta rupiah. Kalau warga senang, saya gembira dan puas,” tambah Yunus sambil mengatakan transaksi sebesar itu hasil dari penjualan sepatu dan batik.

Kunjungi Batik Saraswati
Selain ke eks Dolly, dengan difasilitasi Ikatan Wanita Pengusaha (Iwapi) Surabaya, peserta Colombo Plan juga diajak mengunjungi Galeri Batik Saraswati jalan Jemursari Utara II/19 Surabaya. Mereka melihat langsung proses pembuatan batik tulis mulai dari desain hingga menjadi kain siap pakai.

Putu Sulistiani, pemilik Galeri Batik Saraswati mengaku gembira dengan hadirnya para delegasi yang mayoritas perempuan dari 14 negara itu. “Pasti senang ya, dapat kunjungan dari para wanita istimewa peserta Colombo Plan. Minimal kita bisa tunjukkan kalau perempuan Indonesia itu mandiri dengan karya dan inovasinya,” kata Putu.

Sebagai anggota Iwapi Surabaya, ibu dua anak itu mengaku bangga atas kunjungan Colombo Plan sebab bisa menularkan ilmu bagaimana perempuan Indonesia berdikari, serta sekaligus promosi tentang kain tradisional Indonesia pada wanita-wanita mancanegara tersebut.

Ms Bandana Shrestha, Director of Gender Affairs Program (GAP) mewakili delegasi mengaku kagum melihat proses pembuatan batik tulis. Banyak pertanyaan yang disampaikan Bandana. Melihat kesulitan dan ketelatenan pembatik, Bandana serius mengamati sambil berjongkok. “Amazing,” ujarnya. (sak)