Pesona Lima ‘Kapal Pesiar’ di Alek Bakajang
JALAN-JALAN PERISTIWA

Pesona Lima ‘Kapal Pesiar’ di Alek Bakajang

Sejak pagi di hari keempat Lebaran 2022, Kamis (05/05), suasana tepian Batang Mahat yang melintas di Jorong Koto Lamo, Nagari Gunung Malintang, Kecamatan Pangkalan Koto Baru, Kabupaten Lima Puluh Kota sudah ramai disesaki warga.

Mereka tak hanya datang dari sekitar Jorong Koto Lamo, melainkan dari tujuh jorong lainnya di kenagarian seluas 249,43 kilometer persegi tersebut.

Ketujuh jorong atau desa itu adalah Batu Balah, Bancah Lumpur, Balik Bukik, Koto Mesjid, Bukit Talao, Sungai Pimping dan Lubuk Ameh. Tak sedikit pula yang datang dari kota-kota di sekitar Lima Puluh Kota, kabupaten di Sumatra Barat yang berbatasan dengan Provinsi Riau.

Kemeriahan warga di tepian Batang Mahat yang dikenal juga sebagai Sungai Kampar Baru, dapat terlihat jelas dari sisi Jembatan Koto Lamo. Jembatan yang membentang sepanjang 80 meter ini merupakan penghubung Gunung Malintang dengan lima nagari lainnya di Pangkalan Koto Baru.

Ratusan warga, umumnya anak-anak dan remaja, turun ke sungai yang pagi itu debit airnya surut yang di beberapa tepiannya mulai tampak batu-batu kali sebesar kepala orang dewasa. Sebagian anak-anak bergembira bermain di atas perahu-perahu karet yang melintas di air dangkal setinggi dada orang dewasa.

Tak terlihat raut takut akan tenggelam di wajah mereka. Maklum saja, mereka sudah sangat mengenal sungai ini karena sehari-hari selalu berenang di sekitarnya.

Perahu-perahu karet tadi umumnya mereka sewa kepada pedagang-pedagang yang berjualan di bawah tenda-tenda plastik aneka warna di tepian Batang Mahat, satu dari enam sungai yang melintas di Gunung Malintang ini. Para pedagang ini biasanya menjual aneka kuliner seperti sate, bakso, dan minuman ringan.

Di sisi lain dari sungai ada pemandangan tak biasa yang begitu mencolok mata. Sebanyak lima kapal pesiar terlihat berjejer berlabuh dalam jarak yang begitu rapat di tepian sungai.

Corak kelima kapal wisata ini pun hampir seragam, didominasi warna putih dengan umbul-umbul bendera merah putih terhias di bagian atas kapal.

Meski sedang berlabuh, kapal-kapal ini justru tidak menurunkan jangkar mereka seperti lazimnya yang dilakukan angkutan sejenis. Kapal-kapal itu mengandalkan tali tambang seukuran jempol kaki orang dewasa untuk menambatkan diri ke batang pohon kelapa yang banyak tumbuh di tepian sungai selebar hampir 50 meter itu.

Ratusan warga tampak menyemut di sekitar kapal. Lucunya, tinggi badan kapal hanya sekitar tiga kali tinggi tubuh orang dewasa sehingga kehadiran kapal-kapal ini tak ubahnya kapal pesiar mini saja.

Jangan pula bandingkan dengan Symphony Of The Sea, kapal pesiar terbesar di dunia milik operator kapal pesiar ternama Royal Carribean, yang tinggi dari dasar hingga ke puncaknya saja mencapai 72 meter atau setinggi bangunan 20 lantai.

Atraksi Alek Bakajang
Rupanya, kelima kapal pesiar ini adalah miniatur dari kapal sesungguhnya dan menjadi peserta pada Alek Bakajang, sebuah acara budaya di Nagari Gunung Malintang yang sudah berlangsung sejak awal abad 20. Tak seperti kapal sesungguhnya, miniatur kelima kapal pesiar ini bahkan tidak dilengkapi mesin.

Badan kapal hanya terbuat dari triplek dan batang-batang kayu yang dirangkai sedemikian rupa oleh tangan-tangan terampil pemuda-pemuda desa. Mereka berasal dari empat jorong yang mewakili empat suku pendiri Gunung Malintang, yakni suku Domo, Piliang, Melayu, dan Pagar Cancang.

Alek sendiri dalam bahasa Minangkabau diartikan sebagai sebuah acara besar dan bakajang berasal dari kata Melayu kuno kajang yang artinya perahu kecil atau sampan.

Sehingga Alek Bakajang merupakan sebuah festival sampan yang diwujudkan dengan hadirnya miniatur lima kapal pesiar dari empat jorong dan perwakilan dari pemerintahan dan alim ulama nagari.

Selama lima hari festival terhitung sejak hari keempat hingga hari kesembilan Lebaran, kapal-kapal yang masing-masing terbuat dari dua sampan kecil ini dipamerkan kepada masyarakat.

Pada jam-jam tertentu, kelima kapal ini diarak dengan cara ditarik oleh puluhan orang menggunakan tali tambang berkeliling lima istano suku pendiri Gunung Malintang.

Istano atau istana bukanlah seperti umumnya tempat tinggal pemimpin yang biasanya megah karena di Gunung Malintang, istano merupakan surau atau musala yang telah didandani sedemikian rupa agar terlihat menarik.

Demikian diuraikan peneliti dari Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumbar, Ernatip seperti dikutip dari website Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

Seperti umumnya di wilayah adat Minangkabau, surau bukan sekadar rumah ibadah. Surau acap menjadi tempat berdiskusi atau sosialisasi rencana-rencana kegiatan suku yang disampaikan para ninik mamak, sebutan untuk kelompok tetua adat, kepada warga di jorong mereka.

Ada lima istano utama di nagari ini, yaitu Istano Datuk Bandaro di Jorong Koto Lamo, Istano Dt. Sati (Jorong Batu Balah), dan Istano Dt. Paduko Rajo (Jorong Balik Bukik/Jorong Boncah Lumpur). Kemudian Istano Dt. Gindo Simarajo (Jorong Koto Mesjid) dan Istano Pemerintahan Nagari, Alim Ulama dan Pemuda di Jorong Balik Bukik/Jorong Boncah Lumpur.

Mengutip website Pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota, Alek Bakajang yang dikenal juga sebagai kegiatan manjalang mamak ini untuk memperingati upaya para ninik mamak empat suku pendiri Gunung Malintang di masa lampau dalam membuka keterisolasian daerah mereka.

Mereka memanfaatkan Batang Matah sebagai jalur transportasi satu-satunya menuju ke kawasan Candi Muara Takus dengan memakai kajang, atau bakajang.

Tempat peribadatan masa lampau umat Buddha di Riau ini pada eranya pernah menjadi pusat perdagangan bagi masyarakat di sekitarnya. Para ninik mamak Gunung Malintang menjual hasil bumi seperti gambir dan ikan-ikan hasil tangkapan di Batang Mahat ke Muara Takus yang berada di tepi Batang Takus yang bermuara ke Sungai Kampar.

Bentuk-bentuk kapal pesiar untuk keperluan Alek Bakajang ini mulai diadopsi para pemuda dari empat jorong sejak 15 tahun terakhir agar acara ini bisa makin menarik perhatian warga dari luar Gunung Malintang. Kian lama, model kapal pesiar yang ditiru pun makin beragam seiring makin banyaknya kehadiran kapal-kapal pesiar sungguhan di perairan luas.

Puluhan Juta Rupiah
Setiap kajang mewakili jorong pendiri nagari dan dibuat oleh para pemuda, tokoh masyarakat serta alim ulama dengan lama pengerjaan mencapai satu bulan, dilakukan sejak sebelum bulan puasa hingga menjelang Lebaran. Tak jarang pembuatannya turut melibatkan arsitek dan perajin kapal kayu dan dikerjakan di lahan terbuka dekat surau jorong.

Mereka membangun kapal semegah dan semenarik mungkin. Tak jarang, model kapal pesiar sungguhan terbaru pun mereka contek habis-habisan. Seperti yang dilakukan oleh para pemuda Jorong Batu Balah yang membuat miniatur Genting Dream Cruise, kapal pesiar terbesar di Asia Pasifik saat ini.

Untuk satu kapal berukuran panjang 7-8 meter, tinggi rata-rata 4 meter dan lebar 1,5 meter menghabiskan biaya Rp15 juta-Rp25 juta.

Anggaran pembuatan kapal didapat dari hasil swadaya masyarakat dan sumbangan para perantau dan pengusaha perkebunan gambir dan kelapa sawit yang banyak terdapat di Gunung Malintang.

Ternyata, kapal-kapal ini pun dilombakan bentuk desainnya dan pemenangnya akan diumumkan saat hari terakhir Alek Bakajang dan mendapatkan hadiah uang tunai dalam jumlah yang menggiurkan.

Agar mampu berlayar di aliran sungai dan tidak tenggelam ketika hari H, kapal-kapal yang baru setengah jadi akan menjalani serangkaian uji coba.

Caranya, puluhan orang akan menggotong kapal beramai-ramai dari lahan pembuatannya hingga 1-2 km ke tepian sungai untuk dilayarkan. Ketika kajang sudah berada di sungai, akan ditarik tali tambang oleh para penggotongnya tadi yang menceburkan diri ke aliran sungai.

Kendati terbuat dari bahan triplek untuk dinding kapal dan kayu sebagai kerangkanya, kapal-kapal ini sanggup mengangkut hingga delapan orang. Mereka yang diangkut di dalam kapal ini adalah para pemain talempong, kesenian musik tradisional asli Minangkabau yang telah mendunia.

Sambil diarak, kapal-kapal berisi para pemain talempong akan menghibur ratusan penonton yang menyemut di tepi sungai. Di bagian depan kapal, biasanya terdapat sepasang anak muda berpakaian adat Minangkabau.

“Alek Bakajang ini tidak sebatas kegiatan seremonial tahunan saja. Tetapi dari segi kandungan nilai adat dan budaya pada tradisi bakajang juga sarat dengan tingginya nilai-nilai budaya yang menjadi nilai luhur yang dimiliki oleh masyarakat Gunuang Malintang,” ujar Bupati Kabupaten Lima Puluh Kota Safaruddin Dt. Bandaro Rajo ketika membuka Alek Bakajang di Jorong Koto Lamo.

Bupati yang kedatangannya disambut oleh Tari Persembahan ini sempat menjajal naik kapal pesiar bersama sang istri. Selama sekitar 15 menit, Bupati Safaruddin merasakan naik kapal pesiar yang ditarik oleh puluhan pemuda dari dalam air mengitari Batang Matah di sekitar Jorong Koto Lamo. Dua tahun terakhir ajang ini ditiadakan karena pandemi virus corona.

Serunya Alek Bakajang ini tak hanya dirasakan oleh warga lokal saja. Gaungnya pun telah mencapai tingkat nasional yang dibuktikan dengan keberhasilan merebut penghargaan Anugerah Pesona Indonesia 2021 untuk kategori Atraksi Budaya yang diadakan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif di Musi Banyuasin, Sumatra Selatan, 30 November 2021. (indonesia.go.id)