Petrogas Jatim Utama Menuju IPO
EKONOMI BISNIS PERISTIWA

Petrogas Jatim Utama Menuju IPO

PT Petrogas Jatim Utama (PJU) sebagai BUMD milik pemprov Jatim menargetkan omzet penjualan gas sebesar 18 juta dolar USD atau Rp 220 miliar tahun depan. Mereka berharap kenaikan omzet bisa terealisasi sebelum IPO dilaksanakan.

Penjualan gas tersebut bisa terjadi setelah proyek kerjasama pembangunan LPG PLant di Gresik selesai dibangun dengan kapasitas 40 mmscfd. Juga tuntasnya pembangunan infrastruktur pipa gas berdiamater 16 inch sepanjang 21 kilomter. Kedua pekerjaan ini investasinya mencapai 77 juta USD atau sekitar Rp 1 triliun.

“Kalau tahun depan kami optimis omzet penjualan gas mencapai Rp 220 miliar. Soal IPO kami menunggu perintah stakeholder. Kalau diminta pemegang saham yaitu Pemprov Jatim untuk IPO ya pasti sangat siap,” kata Direktur PJU Leo Herlambang usai pembukaan Investor Summit and Capital Market Expo di Grand City Surabaya, Kamis (18/8).

Dia mengatakan, saat ini omzet penjualan gas PT PJU mencapai 12,25 mmscfd per bulan dengan total nilai transaksi sebesar Rp 35 miliar. PJU sendiri merupakan BUMD pertama di Indonesia yang mempunyai jaringan infrastuktur dari produsen ke pelanggan. “Gass trading saat ini sudah jalan. Omzetnya sekarang sekitar 12,25 mmscfd,” tandasnya.

Terkait IPO, Leo mengaku pihaknya sudah ada komunikasi intensif dengan Pemprov Jatim. Tanpa diminta, perusahaannya sudah melakukan persiapan, agar jika diminta bisa secepatnya ‘melantai’ di bursa saham. “Jika untuk Go Public sudah mendapatkan persetujuan dari Gubernur maka pergerakan bisnis ini adalah lompatan yang besar. Saya berharap setahun ke depan sudah bisa masuk pasar saham,” tambahnya lagi.

Selain menjadi trader gas, PJU juga mulai mengembangkan sayap mengelola pelabuhan melalui anak usahanya PT Jatim Nusa Usaha (JNU). Bahkan, perusahaan itu tercatat sebagai satu-satunya yang memperoleh izin pengelolaan pelabuhan di Indonesia. “Kalau sampai semester kemarin jumlah kapal yang bersandar mencapai 48 unit. Dan kami yakin akan meningkat. Terkait merger memang sudah tidak ada masalah,” tambahnya.

Sekadar diketahui, PT PJU awalnya mendapat pasokan gas dari Petronas sejak 2014 sebesar 50 juta kaki kubik gas per hari (mmscfd). Pasokan gas yang dihasilkan Petronas berasal dari ladang Lapangan Bukit Tua Blok Ketapang, Madura, Jawa Timur. “Kalau harga yang disepakati mencapai 4 juta dolar USD,” jelasnya.

Gubernur Jatim Soekarwo menyatakan kondisi Jatim sangat bagus untuk iklim investasi dan juga prospek perkembangan pasar modal di Jatim juga bagus, menyusul pertumbuhan industri di provinsi ini tumbuh signifikan.

“Saat ini posisi investasi dari luar negeri di Jatim mengalami kenaikan yang signifikan, bahkan kondisi keamanan di Jatim kondusif untuk investasi. Oleh karena itu para investor untuk segera menanamkan modalnya ke Jatim,” tegasnya.

Pelabuhan Probolinggo Berkembang

Lebih lanjut Pakde Karwo sapaan akrab Gubernur Jatim menyampaikan untuk mendukung iklim investasi di Jatim pada 2016 ini, Pemrpov Jatim telah menambahkan anggaran untuk perbaikan infrastruktur yaitu mulai udara, darat, dan laut.

Untuk sektor laut, Pemprov telah membangun pelabuhan baru yaitu Pelabuhan Probolinggo, dimana demand di kawasan Probolinggo cukup besar. Sejak Pelabuhan Probolinggo dikelola PT Jatim Nusa Usaha (JNU) milik Pemprov Jatim melalui PT Delta Artha Bahari Nusantara (DABN), itu terjadi perkembangan cukup signifikan terhadap kapal-kapal yang melakukan bongkar muat.

Diterangkan, saat ini di pelabuhan tersebut akan dikembangkan dengan membangun dermaga minus 13 meter dan dermaga minus 16 meter. “Tentu saja akan menggandeng investor-investor dengan badan usaha pelabuhan,” ujarnya.

Jika sudah terbangunan, industri besar di Problinggo dan sekitarnya tidak perlu ke Tanjung Perak. Dengan melalui Pelabuhan Probolinggo akan mengurangi biaya transportasi yang besar.

Pemerintah juga bisa mengurangi pengeluaran biaya untuk perawatan jalan. Kebijakan Pemprov Jatim menekan biaya transportasi ini membuat barang-barang ekspor akan lebih bersaing harganya, baik di provinsi lain maupun internasional.

Pelabuhan Probolinggo ini memiliki kelebihan diantaranya, jika kapal-kapal menuju Pelabuhan Tanjung Perak harus melalui alur pelayaran barat Surabaya. Alur itu ada dua pintu, yaitu pintu gratis yang kedalamannya hanya 9 meter. Ada yang membayar, itu melewati alur yang kedalamannya 13 meter. Jadi kapal besar harus membayar channel fee. Sedangkan di Probolinggo bebas channel fee.

Selain mengembangkan BUMD di pelabuhan, Pemprov Jatim juga mengembangkan BUMD bidang industri gas. Melalui PT PJU, dimana tahun depan menurut Pakde akan dilakukan IPO. Hal tersebut bahkan sudah dilaporkan ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK). (sak)