PNBP Perikanan Melonjak Rp 279 Miliar
EKONOMI BISNIS PERISTIWA

PNBP Perikanan Melonjak Rp 279 Miliar

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) membukukan kelonjakan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) di sektor perikanan yang mencapai Rp 279.722.958.810 per Agustus 2016. Hal ini disampaikan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti saat konferensi pers di Gedung Mina Bahari I, Jakarta, Selasa (23/8) lalu.

“Tahun ini PNBP kenaikan luar biasa. PNBP melonjak sampai Rp 279 miliar. Jadi tidak benar kalau kelautan tidak menyumbang pendapatan negara,” ujar Menteri Susi. Rinciannya, realisasi PNBP sumber daya alam (SDA) Rp 222,3 miliar dan PNBP non-SDA Rp 57,3 miliar.

Raihan PNBP di sektor perikanan tahun ini naik signifikan dibandingkan PNBP 2015 yang totalnya hanya Rp 137,1 miliar. Tahun 20116, KKP bahkan diberi target sebesar Rp 740,1 miliar.

Menteri Susi menyebutkan seluruh PNBP itu murni berasal dari setoran kapal ikan domestik Indonesia. Tidak ada PNBP dari kapal eks asing karena keberadaannya sudah dilarang, katanya.

Selain peningkatan PNBP yang luar biasa, realisasi investasi di sektor kelautan dan perikanan pun ikut meningkat. Hingga Juni 2016, nilai realisasi investasi mencapai Rp 4,4 triliun.

“Realisasi investasi sektor KP sampai dengan Juni 2016 nilainya Rp 4.435.373 juta. Ini hanya untuk pengolahan saja,” jelas Menteri Susi.

Kenaikan PNBP yang signifikan, dijelaskan Menteri Susi, merupakan dampak dari moratorium kapal-kapal asing dan kebijakan KKP lainnya. Dari penghematan Bahan Bakar Minyak (BBM) saja, KKP menghemat sebanyak 1,2 juta kiloliter BBM.

“Yang dihemat adalah BBM 1,2 juta kiloliter. Menteri ESDM juga kemarin bicara bahwa ada kelebihan pembelian Pertamina mencapai Rp 20 triliun lebih. Itu berasal dari kapal-kapal illegal yang tidak pakai BBM Nasional,” ujar Menteri Susi.

Terkait Unit Pengolahan Ikan (UPI), Menteri Susi mengungkapkan bahwa UPI di Indonesia sedang sangat bergairah. “UPI sangat bergairah. Yang tidak bergairah itu yang melakukan illegal fishing,” tukas Menteri Susi. (sak)