Prof Aulia: Profesor Teknik Fisika Perempuan Pertama Indonesia
PERISTIWA PROFIL

Prof Aulia: Profesor Teknik Fisika Perempuan Pertama Indonesia

Perempuan Indonesia patut berbangga. Seorang wanita yang berkutat pada pendidikan Teknik Fisika dinobatkan sebagai profesor untuk yang pertama kalinya di Indonesia. Dialah Prof Dr Ir Aulia Siti Aisjah MT yang tidak lain dosen jurusan Teknik Fisika Fakultas Teknik Industri ITS. Dr Aulia akan dikukuhkan menjadi guru besar bersama Dr Ir Kuswandi DEA dan Ir Muhammad Sigit Darmawan MengSc PhD pada 7 September mendatang.

Ketiga guru besar yang akan dilantik masing-masing berasal dari jurusan Teknik Fisika, Teknik Kimia dan D3 Teknik Sipil. Bahkan, Aulia merupakan profesor perempuan pertama pada pendidikan teknik fisika di Indonesia. Uniknya lagi, meski keilmuan teknik fisika selama ini banyak diterapkan di bidang industri, Aulia ternyata memilih berkontribusi lebih dalam bidang pembangunan maritim di Indonesia.

“Saya menggeluti bidang pengendalian kelautan sejak 2004, sehingga hampir semua penelitian dan paper yang saya buat tentang kelautan,” jelas guru besar ke-2 di Jurusan Teknik Fisika ITS ini dalam jumpa pers di Rektorat ITS, Jumat (2/9).

Tak heran, wanita yang berasal dari Magetan ini merupakan lulusan S1 dari jurusan Teknik Fisika, S2 dari jurusan Teknik Elektro, dan kemudian meraih gelar doktor dari jurusan Teknik Kelautan. Ketiga jenjang tersebut kesemuanya dia tempuh di ITS.

Saat ini, Aulia sedang fokus pada tiga penelitian yang dia kembangkan. Salah satunya adalah penelitian tentang ‘Buoy Weather’. Alat ini memungkinkan nelayan memperoleh informasi tentang cuaca laut secara real time melalui SMS.

“Selama ini sudah ada penelitian tapi berbasis aplikasi dan website, sehingga tidak semua nelayan bisa menggunakannya,” ujar Aulia yang juga Ketua Lembaga Penjamin Mutu, Pengelolaan dan Perlindungan Kekayaan Intelektual (LPMP2KI) ITS.

Isteri Syamsul Arifin yang tergabung dalam tim Konsorsium Kapal Perang Nasional ini pun turut andil mengembangkan sistem kendali kapal perang Indonesia. Bersama seorang rekannya, ia juga sedang merancang semua perangkat lunak auto-pilot untuk kapal-kapal buatan Indonesia yang diberi nama Monitoring and Control Sea Transportation (MCST).

Menurut alumni SMA Negeri 1 Magetan angkatan 1984 ini MCST akan sangat berguna bagi kapal yang menempuh jarak jauh. “Selain itu, bisa juga untuk menggantikan peran kapal pandu karena adanya automatic identification system yang mengirim informasi posisi kapal secara real time ke darat,” ujar perempuan kelahiran 16 Januari 1966 tersebut. (sak)