Prof Myrta: Spesialis Rekonstruksi Tengkorak
PERISTIWA PROFIL

Prof Myrta: Spesialis Rekonstruksi Tengkorak

Rektor Unair Prof M Nasih SE MT Ak mengukuhkan tiga orang guru besar (profesor) di Aula Garuda Mukti, Sabtu (27/9) pagi. Sejak Unair didirikan 1954, ketiganya merupakan gubes ke-450, 451, dan 452. Namun, jika dihitung sejak Unair berstatus perguruan tinggi negeri berbadan hukum (PTN–BH), ketiganya guru besar ke-158, 159, dan 160.

Guru besar yang dikukuhkan adalah Prof dra Myrtati Dyah Antaria MA PhD bidang ilmu Antropologi (Fisip), Prof Dr drh Suherni Susilowati MKes bidang ilmu Inseminasi Buatan Fakultas Kedokteran Hewan (FKH), serta Prof Dr I Komang Wiarsa Sardjana drh bidang Ilmu Penyakit Dalam dan Bedah Veteriner FKH.

Prof Myrtati Dyah Antaria MA PhD menekuni bidang ilmu yang termasuk langka, yaitu antropologi ragawi. Myrta -panggilan akrabnya lebih memilih antropologi biologis yang satu-satunya hanya ada di Unair. Mayoritas dari jurusan antropologi yang ada di Indonesia adalah antropologi budaya.

Ketertarikan Myrta pada bidang ini tidak lain bisa merekonstruksi wajah manusia yang berasal dari tengkorak. Memang, jadinya tidak sama persis karena pada tengkoran tidak terdapat tahi lalat, jika misalnya saat hidup manusia itu punya tahi lalat, tetapi rekonstruksi yang kemudian digambar itu bisa dikatakan mendekati identik.

“Memang rekonstruksi wajah tengkorak tidak bisa dijadikan tes DNA karena akurasinya tidak 100 persen. Tetapi ini sangat membantu dan bisa dikatakan paling murah jika ada kecelakaan atau bencana yang membutuhkan identifikasi,” jelas akademisi yang pernah meraih Kartini Award tersebut

Tak ayal jika profesor termuda diantara ketiga yang akan dikukuhkan itu memiliki berbagai macam tengkorak di laboratoriumnya. Aneka tengkorak itu dikumpulkan tidak saja dari berbagai daerah di Indonesia, tetapi juga dari negara lain.

Myrta sendiri merupakan satu-satunya ahli rekonstruksi wajah dari tengkorak yang dimiliki negeri ini. Selain tertarik pada tengkorak, ibu dari satu anak tersebut paling suka meneliti gigi. Alasannya gigi inilah satu-satunya bagian tubuh manusia yang sangat identik jika dilakukan penelitian.

Makanya, jika ada kecelakaan pesawat terbang atau sejenis, penelitian utama biasanya diarahkan pada gigi korban. “Untuk urusan DNA gigi paling genetically. Makanya saya suka meneliti gigi karena orangtua saya dokter gigi yagn sehari-hari berkutat pada gigi,” ujarnya. Pada pengukuhannya, Prof Myrtati menyampaikan orasi ilmiah berjudul ’Identifikasi Individu Tak Beridentitas di Indonesia’. (sak)

One Comment

Comments are closed.