Program Difabel UMSurabaya Raih Apresiasi
KOMUNITAS PERISTIWA

Program Difabel UMSurabaya Raih Apresiasi

Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSurabaya) kedatangan tamu istemewa. Ketua NGD D-Care, Wuri Handayani PhD berkunjung ke kampus yang berjuluk ‘ Kampus Sejuta Inovasi ‘ ini.

Bukan hanya itu. Dosen senior dari Universitas Malaysia Perlis (UNIPEM) Malaysia ini juga membawa ‘oleh-oleh’ istimewa. Selain silaturahmi, Wuri ternyata datang membawa apresiasi dan penghargaan Kepada UMSurabaya. Tamu istimewa ini langsung disambut Rektor Dr dr Sukadiono MM dan Wakil Rektor I Dr A Aziz Alimul Hidayat MKes, beserta staf di Rektorat.

UMSurabaya selama ini telah memberikan kuota beasiswa kepada mahasiswa dari kelompok disabilitas untuk menikmati jenjang pendidikan yang setara. Khususnya Fakultas Hukum (FH) UMsurabaya

Wuri berharap perguruan tinggi lain juga menciptakan iklim akademik yang inklusif, khususnya untuk menerima mahasiswa yang termasuk kelompok disabilitas agar dapat mengakses pendidikan tanpa terlewatkan.

“Mulai dari bangun fisik, software hingga sikap dari seluruh sivitas akademika harus mencerminkan awareness kepada penyandang disabilitas agar dapat mengakses pendidikan dengan baik,” tutur Wuri yang sekarang sedang studi di Inggris dengan beasiswa World Bank.

Bagi pemakai kursi roda ini, UMSurabaya merupakan kampus pertama yang telah declare berkomitmen menerima mahasiswa dari kelompok disabilitas.

Wuri berharap agar kuota beasiswa mahasiswa disabilitas ditingkatkan dan diperluas kepada fakultas lainnya. “Bahkan UMSurabaya dapat menjadi trigger untuk menjadi kampus inkluasid percontohan di Indonesia. Baik di PTN/PTM/PTS yang menerima beasiswa untuk lima (5) Mahasiswa,” katanya.

Rektor Dr Sukadiono menjelaskan program beasiswa pada kelompok disabilitas yang diberi nama Difabe Berdaya ini merupakan bentuk kontribusi UMSurabaya terhadap dunia pendidikan.

”Bagi kami yang berusaha mengamalkan Surat Al-Ma’un, orang berhak kita bantu bukan hanya tergolong fakir dan miskin saja. Kami juga harus mengangkat harkat mereka tertindas secara sistemik dan stereotype seperti para kalangan disabilitas,“ ujarnya. (sak)