PTN Jatim Minta Biaya Hidup Bidikmisi Naik
KOMUNITAS PERISTIWA

PTN Jatim Minta Biaya Hidup Bidikmisi Naik

Universitas Airlangga menjadi tuan rumah “Paguyuban Rektor Perguruan Tinggi Negeri se-Jatim”, Rabu (5/10) di Ruang Sidang Pleno, Kantor Manajemen, Kampus C Unair Surabaya. Muncul usulan agar biaya hidup yang diterima mahasiswa Bidikmisi dinaikkan.

10 PTN yang hadir adalah Institut Teknologi 10 Nopember, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel, Universitas Brawijaya, Universitas Trunojoyo, Universitas Jember, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jatim, Universitas Negeri Surabaya, Universitas Negeri Malang, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, dan UNAIR sebagai tuan rumah.

Ada tiga agenda yang dibahas dalam pertemuan yang dihadiri 31 pemimpin universitas yang hadir. Koordinator Paguyuban yang juga Rektor UNEJ Drs Moh Hasan MSc PhD mengatakan, tiga agenda yang dibicarakan adalah pengadaan bersama jurnal dan buku elektronik, penulisan buku tentang pengabdian masyarakat, dan kerjasama konsorsium PTN se-Jatim dan PT se-Australia Barat.

Namun dalam pertemuan tersebut berkembang diskusi soal kenaikkan biaya bantuan pendidikan mahasiswa miskin berpretasi (Bidikmisi) berdasarkan indeks kemahalan kota untuk tahun mendatang.

Sejak diluncurkan 2010, program Bidikmisi belum mengalami perubahan besaran dananya. Setiap mahasiswa mendapatkan Rp 6 juta per semester. Dengan perincian, Rp 2,4 juta dikelola perguruan tinggi, sedangkan Rp 3,6 juta diberikan langsung kepada mahasiswa sebagai biaya hidup.

Mohammad Hasan mengatakan, prinsip dari pemerintah menyamakan biaya hidup adalah menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Namun, bila dihitung kembali, jumlah itu tidak cukup bagi mahasiswa yang tinggal di kota-kota besar. Biaya hidup itu diberikan kepada penerima Bidikmisi Rp 600 ribu per bulan. “Hal itu akan kita sampaikan lebih lanjut ke Kementerian untuk ditingkatkan jumlahnya,” katanya kepada media.

Rektor Universitas Negeri Jember ini menjelaskan, dengan menggunakan indeks kemahalan kota, maka besaran biaya hidup yang diterima mahasiswa Bidikmisi akan berbeda-beda. “Kami rasa lebih masuk akal menggunakan indeks kemahalan itu,” jelasnya.

Hasan lantas mencontohkan kondisi di Jember bahwa idealnya tiap mahasiswa Bidikmisi berhak menerima Rp 750 ribu tiap bulan. Atau sama dengan Rp 4,5 juta tiap semester. “Kalau di Universitas Indonesia sana malah mengusulkan Rp 1,5 juta tiap bulan,” katanya.

Jika dilihat dari cara penyaluran atau pendistribusianya pihaknya tidak mempermasalahkan. Karena itu dirasa sudah tepat tanpa ada kendala. “Untuk biaya pendidikan yang dikelola perguruan tinggi, sejauh ini tidak ada persoalan. Tapi substansinya itu meningkatkan biaya hidup mahasiswa Bidikmisi saja,” jelasnya.

Rektor Unair Prof Moh Nasih menambahkan, besaran dana biaya hidup yang diterima mahasiswa Bidikmisi di Unair perlu dinaikkan. “Saya rasa kalau Rp 600 ribu itu masih kurang. Hitung saja berapa biaya kos, makan, transportasi, dan sebagainya di Surabaya,” papar Nasih.

Menurutnya biaya pendidikan yang dikelola perguruan tinggi sudah cukup. Namun, biaya hidup di Kota Pahlawan pada ukuran mahasiswa penerima Bidikmisi idealnya Rp 1 juta per bulan. (sak)