Puluhan Artis Totak Reklamasi Bali
KOMUNITAS PERISTIWA

Puluhan Artis Totak Reklamasi Bali

Kurang lebih 30 artis dan musisi menyatakan penolakan terhadap Reklamasi Teluk Benoa Bali. Mereka menginginkan Bali seperti adanya yang lekat dengan budaya, hangat serta ramah secara sosial kemasyarakatn, dan lingkungan yang asri, hijau tanpa manipulasi ekologi.

Sejumlah musisi yang menyatakan penolakan ini antara lain Melanie Subono, Kojek Rap Betawi, Marjinal, Brianna Simorangkir, Happy Salma, Djenar Maesa Ayu, Coky, Marcello Tahitu, Pongky Barata, Deni Frust, Tony Q, Steven Jam, Superglad, Glenn Fredly, Nosstress, Wanggi Hoediyatno, Superman is Dead, Andreas Iswinarto, Sandrayati Fay, The Hydrant, The Bullhead, Made Mawut, Navicula, Soundbowy Dodix, Taring Babi, Iksan Skuter, Alit Ambara.

“Bali, dalam konteks pariwisata, adalah mutiara utama di Republik Indonesia. Beragam gelar adilihung disematkan pada Bali. Mulai Pulau Dewata, Pulau Seribu Pura, hingga tempat yang mesti dikunjungi sebelum kamu mati. Ditambah serbaneka penghargaan bergengsi kelas dunia seperti pada 2014 oleh majalah Travel+ Leisure Bali dianugerahi peringkat kedua sebagai pulau terbaik di dunia,” kata Melanie Subono, dalam acara konferensi pers yang digelar di Jakarta, Sabtu (04/09).

Namun eksotisme Bali yang mencengangkan tersebut, kata Melanie berujung pada serbuan investor. Mereka berlomba-lomba meraih sekeping hingga segepok pundi-pundi keuntungan.

Baginya, di periode awal fenomena ini masih cukup bisa dimaklumi. Dengan mengatasnamakan ‘pembangunan’ serta ‘kemajuan’ pulau Bali berkembang begitu pesat.

Belakangan, kompetisi untuk merebut profit mulai mengarah ke wilayah tak sehat: ‘pembangunan’ dan ‘kemajuan’ tergelincir menuju ‘eksploitasi’ dan ‘degradasi’.

“Contoh ketamakan investor tercuat vulgar direncanakan reklamasi Teluk Benoa. Demi menggaet keuntungan berlipat pemilik modal menggelontorkan niat mengurug laut lalu membuat pulau baru. Segala fasilitas modern turisme hendak dibangun di situ,” jelas Melanie seperti dikutip situs KabarKampus.

Anak perempuan Andrie Subono menegaskan, apa yang dilakukan investor tersebut, bukan saja berkhianat pada spirit Bali yang lekat dengan adat dan budaya, tapi juga jahat pada kelestarian lingkungan hidup. Belum lagi Bali yang sudah kelebihan ribuan kamar, tak perlu lagi dibangun hotel.

“Sebab sudah amat berlebih serta trauma yang belum hilang atas kegagalan reklamasi Pulau Serangan yang terbukti menghancurkan garis pesisir dari Serangan, Sanur hingga jauh ke Utara,” ungkapnya.

Bahkan kata Melanie, demi mencapai tujuan mengurug Teluk Benoa tersebut, investor tiada segan menempuh jalur lancung. Yang paling mutakhir, mereka berupaya mengkriminalisasi aktivis penolak rencana reklamasi yaitu, I Wayan ‘Gendo’ Suardana sekaligus membungkam perlawanan desa adat.

Para pengemban jabatan penting di pemerintahan, oknum aparat bersenjata, serta barisan ormas pun ramai-ramai dikerahkan mengintimidasi gerakan anti investor tersebut. “Kami menyatakan solidaritas setinggi-tingginya kepada para pejuang lingkungan dan desa adat yang saat ini sedang brutal diintimidasi, dikriminalisasi,” tegasnya.

Selain sejumlah artis diatas, sebelumnya Gerakan Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa juga telah didukung artis dan pegiat seni diataranya, Iwan Fals, Sandy Sondoro, Glenn Fredly adalah sederet nama artis nasional yang menyuarakan Tolak Reklamasi Teluk Benoa. (sak)