Rancang Aplikasi bagi Penderita Tuberkulosis
PERISTIWA TEKNOLOGI

Rancang Aplikasi bagi Penderita Tuberkulosis

Kesehatan dan kesejahteraan masyarakat merupakan isu yang sangat penting bagi kehidupan di setiap negara. Dengan mengangkat tema ini, dua mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) berpartisipasi dalam lomba Dow Indonesia Business Plan Competition yang diadakan PT Dow Indonesia.

Melalui stopTB, aplikasi yang ditujukan untuk membantu penderita tuberkulosis, Aninda Fariza (Teknik Industri 2012) dan Dilla Anindita (Sistem dan Teknologi Informasi 2012) keluar sebagai juara pertama dalam perhelatan final di Jakarta. Kemenangan ini menambah rangkaian daftar kemenangan yang berhasil diraih mahasiswa ITB dalam kompetisi berskala nasional.

Dow Indonesia Business Plan Competition merupakan kompetisi bisnis yang diadakan PT Dow Indonesia untuk mendorong munculnya ide-ide bisnis mahasiswa dari berbagai universitas terbaik di Indonesia.

Dari delapan kategori bisnis yang ditawarkan, Aninda dan Dilla memilih isu kesehatan dan kesejahteraan sebagai kategori yang ingin mereka kembangkan. Mereka pun mengajukan bisnis aplikasi stopTB, yakni aplikasi yang ditujukan bagi penderita tuberkulosis.

Pada tahap pertama, setiap tim harus menyerahkan rencana bisnis dalam bentuk dokumen. Sebanyak lebih dari 70 tim menyerahkan rencana bisnis mereka, namun hanya terdapat 34 tim yang berhasil lolos ke babak semifinal, salah satunya adalah tim Aninda dan Dilla.

Keduanya pun mengikuti babak semifinal dan mempresentasikan rencana bisnis mereka dihadapan empat dewan juri yang berasal dari PT Dow Indonesia.

Berbekal pengalaman dari berbagai kompetisi bisnis yang pernah diikuti keduanya, mereka dapat memberikan presentasi yang sangat baik pada tahap semifinal. Alhasil, Aninda dan Dilla berhasil menjadi salah satu dari enam finalis yang lolos ke babak final.

Di perhelatan final yang diadakan di Wisma GKBI Jakart, Aninda dan Dilla kembali mempresentasikan rencana bisnis mereka dihadapan dewan juri yang terdiri dari jajaran direktur PT Dow Indonesia hingga pimpinan Dow Chemical Corporation di luar negeri.

Dengan ide dan rencana bisnis yang sukses memukau semua juri, Aninda dan Dilla keluar sebagai juara pertama pada kompetisi ini. “Salah satu juri bahkan berkata bahwa dia sangat tertarik berinvestasi untuk bisnis kami,” ujar Dilla.

Mengenai stopTB
Tuberkulosis merupakan salah satu dari tiga penyakit yang paling banyak diderita masyarakat di Indonesia, namun tingkat kesadaran masyarakat terhadap penyakit ini masih sangat rendah.

Berbeda dengan anggapan umumnya bahwa penyakit ini hanya diderita masyarakat pedesaan lanjut usia, tuberkulosis justru lebih banyak diderita masyarakat perkotaan dengan usia relatif muda.

Sayangnya, pengobatan terhadap tuberkulosis memakan waktu dan tenaga cukup besar. Tiap hari, penderita harus meminum berbagai macam obat, dan pengobatan ini dapat berlangsung dalam jangka waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun.

Jika penderita sewaktu-waktu lupa meminum obat, pengobatan harus dimulai dari awal lagi, sehingga pengobatan sebelumnya menjadi sia-sia.

Berangkat dari kondisi tersebut, Aninda dan Dilla mengajukan bisnis aplikasi stopTB, yakni aplikasi yang memiliki fungsi utama mengingatkan penderita tuberkulosis meminum obat.

Dengan aplikasi ini, diharapkan semua penderita tuberkulosis dapat menjalani pengobatan mereka dengan baik dan lancar sehingga penyakit tersebut dapat benar-benar disembuhkan.

Selain itu, dengan adanya fitur-fitur tambahan seperti pelacak posisi obat, diharapkan proses pengobatan dapat berjalan lebih mudah. Melalui kemenangan di kompetisi ini, Aninda dan Dilla berharap aplikasi ini dapat direalisasikan perusahaan atau investor yang tertarik dengan ide bisnis mereka.

Mereka berpendapat bahwa aplikasi ini dapat memberikan manfaat yang sangat besar bagi penderita tuberkulosis di Indonesia dan di dunia.

Rekan Magang
Berasal dari jurusan berbeda, Aninda dan Dilla dipertemukan melalui program magang di LINE Corporation yang sedang dijalani keduanya. Dengan tujuan menambah pengalaman sekaligus menutup perjalanan perkuliahan di ITB, keduanya senang berhasil memenangkan kompetisi terakhir sebagai mahasiswa ITB.

Walaupun harus mempersiapkan kompetisi di sela-sela tugas magang yang menyibukkan, keduanya berhasil memberikan performa terbaik dalam kompetisi ini.

Bagi mahasiswa yang masih dalam proses studi, Aninda dan Dilla sangat menyarankan agar semuanya ikut serta dalam berbagai ajang perlombaan. “Jangan takut ikut lomba, jangan takut kalah, karena ilmu kita akan bertambah baik menang maupun kalah,” ujar Dilla.

Mereka berpendapat ilmu yang didapatkan dari kampus berguna sebagai bekal berkompetisi, tidak hanya dari mata kuliah di masing-masing jurusan tetapi juga dari berbagai aktivitas lain di luar kuliah.

Dengan mengikuti lomba, mereka dapat mengaplikasikan ilmu dalam berbagai kondisi dunia nyata, bahkan hingga membuka pengalaman dan kesempatan baru.

Sebagai penghargaan atas kemenangan di kompetisi ini, keduanya akan berangkat ke Singapura pada bulan November untuk mengikuti tur laboratorium Dow, mengikuti sharing session dengan pihak eksekutif Dow, hingga mempresentasikan bisnis mereka di depan presiden direktur Dow Asia Tenggara. (sak)