ReadMe, Aplikasi Belajar Al-Quran untuk Tunanetra
PERISTIWA TEKNOLOGI

ReadMe, Aplikasi Belajar Al-Quran untuk Tunanetra

Siapa sangka bermula dari sebuah diskusi ringan akhirnya terciptalah alat yang mampu membantu para penyandang disabilitas. Tiga mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menggagas aplikasi bernama ReadMe. ReadMe merupakan aplikasi hardware berupa konsep iqro braile yang dirancang secara digital untuk membantu penyandang tunanetra berlatih membaca Al-Quran.

Mereka adalah Rahmat Bambang Wahyuari, Edy Hamid Saifullah dan Nida Amalia. Awalnya, perhatian Bambang tertuju pada sebuah ide tentang cara berkomunikasi antar penyandang disabilitas. Ide itu terus diskusikan hingga muncullah gagasan tentang Al-Qur’an Braile elektronik. “Ide ini sudah tercetus sejak tahun lalu, namun masih terbungkus rapi di kepala,” ungkapnya seperti dikutip Humas ITS.

Setelah dilakukan wawancara langsung terhadap penyandang tunanetra, ternyata mereka lebih membutuhkan media pembelajaran Al-Qur’an braile. Saat itulah Bambang dan tim mulai merancang ReadMe. “Sekaligus menjadi batu loncatan, kami pun terlebih dahulu mendesain iqro,” papar mahasiswa Jurusan Teknik Mesin ini.

Iqro pada dasarnya adalah sebuah kitab yang berisi cara membaca dan mengeja huruf hijaiyah. Sehingga bagi siapapun yang ingin belajar membaca Al-Qur’an, akan lebih mudah jika belajar iqro terlebih dahulu. Adapun Bambang dan tim mencoba mengemas iqro dalam bentuk digital dengan huruf braile.

ReadMe secara bahasa berarti ‘baca aku’. Benar, nyatanya alat ini mampu mengajak siapapun, khususnya penyandang tunanetra untuk membaca dengan alat tersebut. Tak lain, yang dibaca adalah iqro sebagai panduan untuk membaca Al-Qur’an.

Meskipun ide ini telah tercetus sejak satu tahun lamanya, namun baru mulai digarap dua bulan terakhir. Bambang mengatakan, ia hanya memesan suku cadang yang dibutuhkan. Selanjutnya suku cadang tersebut mereka rakit sendiri bersama tim. “Proses perakitannya itu yang memakan banyak waktu, bahkan kami sampai lembur semalaman,” akunya.

Jika dikembangkan lebih lanjut, alat ini memungkinkan penyandang tunanetra dapat dengan mudah membaca Al-Qur’an tanpa harus terganggu oleh tebalnya setiap lembar mushaf braile konvensional. Dengan ReadMe, mushaf yang semula cukup tebal itu dapat ditransformasi menjadi kotak kecil seukuran tempat nasi. Bahkan tambahan fitur berupa speaker juga turut membantu mereka mempelajari Al-Qur’an.

Namun, karena membutuhkan kapasitas memori yang besar dan terhalang keterbatasan dana, konten aplikasi yang diciptakan tim masih terbatas. Sementara ini ReadMe baru memiliki enam karakter huruf hijaiyah braile serta dua karakter tambahan sebagai penunjuk halaman.

Bambang dan tim akan terus menyempurnakan alat ini ke depannya. “Yang paling dekat adalah menambahkan karakter huruf hijaiyah serta pemakaian baterai sebagai sumber daya agar lebih praktis saat digunakan,” jelasnya.

Alat tersebut rencananya juga akan dirancang agar dapat terkoneksi dengan smarthphone, serta dilakukan desain ulang agar ukurannya lebih kecil. “Kami ingin ada kerjasama dengan perusahaan, tapi kembali lagi, ada gak perusahaan yang mau untuk investasi?” tanya Bambang ragu. Ia juga mengutarakan keinginannya mengembangkan alat ini hingga tahap pembelajaran tajwid.

Tak hanya itu, kendala lain yang dihadapi tim adalah cara mengefisiensikan hasil kodingan, karena kapasitas memori yang terbatas. “Kalau hanya sekedar menambah karakter sebenarnya gampang, tinggal menambahkan database pada hasil kodingan. Yang susah itu cara membuat kodingan jadi efisien,” tuturnya.

Piranti yang diciptakan tim hasil kolaborasi dari Jurusan Teknik Mesin, Teknik Elektro dan Teknik Informatika ini berhasil mengharumkan nama ITS di ajang kompetisi mahasiswa. ReadMe berhasil meraih juara pertama dalam Musabaqah Tilawatil Qur’an Mahasiswa Regional Jawa Timur (MTQ MR) IV di Universitas Trunojoyo Madura, Kamis (21/7). “Kesan saat dinyatakan sebagai juara satu yang pasti adalah senang. Artinya usaha keras kami selama ini ada hasilnya,” ujar Bambang sumringah.

Sebelumnya tim dengan karya yang sama juga pernah masuk dalam babak final di Pagelaran Mahasiswa di Bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (Gemastik). ReadMe pun telah mendapat banyak pembaharuan sebelum akhirnya didaftarkan mewakili ITS pada MTQ. (sak)