RS Unair Percontohan RS PTN se-Indonesia
KESEHATAN PERISTIWA

RS Unair Percontohan RS PTN se-Indonesia

Rumah Sakit Universitas Airlangga dijadikan model sebagai rumah sakit pendidikan bagi perguruan tinggi negeri lainnya di Indonesia. Hal ini diungkapkan Direktur RS Unair Prof Nasronuddin SpPD K-PTI FINASIM pada acara ‘Forum Group Discussion: Upaya Peningkatan Mutu Pelayanan Rumah Sakit Pendidikan dalam Menyongsong MEA’, di RS Unair, Senin (5/9).

Acara FGD tersebut diselenggarakan Komite Bersama Rumah Sakit Perguruan Tinggi Negeri Pendidikan yang merupakan gabungan Kemenrisetdikti, Kemenkes dan pihak-pihak PTN yang memiliki rumah sakit akademik. Acara dihadiri Rektor Unair Prof Dr M Nasih SE MT Ak, perwakilan Kemenkes Dr Ina Rosalina dr SpA (K) MKes MHKes, perwakilan Kemenristekdikti Ulfiandri SH MH dan sejumlah pihak.

“Acara ini mendiskusikan pengelolaan rumah sakit PTN. Jadi, kita menentukan pola dan model pengelolaannya itu bagaimana. RS Unair dijadikan pilot project. Kalau hasilnya bisa disepakati bersama, bisa diaplikasikan ke RS PTN yang lain,” tutur Prof Nasron.

Sebagai bagian dari perwujudan Tri Dharma Perguruan Tinggi, rumah sakit pendidikan juga menyelenggarakan tiga fungsi utama, yakni penelitian, pendidikan, dan pengabdian masyarakat.

Demi menjalankan fungsi dan tugas rumah sakit pendidikan, manajemen dari rumah sakit pendidikan perlu menyediakan dosen yang melakukan bimbingan dan pengawasan terhadap mahasiswa.

Oleh karena itu, salah satu hal yang dibahas dalam forum diskusi adalah perihal mengenai status kepegawaian. Menurut Prof Nasron, SDM yang bekerja di RS PTN Pendidikan berasal dari Kemenkes dan Kemenristekdikti.

Oleh karena itu, harus ada persamaan persepsi mengenai status kepegawaian. Di RS Unair sendiri, profesi dokter merangkap menjadi dosen.

Di bidang penelitian, RS Unair telah menyelenggarakan beberapa kali riset di Surabaya. Pada 2013, mengadakan survey demam berdarah di Surabaya. Pada 2014 dan 2015, melakukan deteksi MERS pada jemaah haji embarkasi Juanda Surabaya. Pada 2016, melakukan penelitian infeksi virus Zika terhadap seratus penderita demam berdarah di Surabaya.

“Dari hasil penelitian, maka tidak ditemukan virus Zika pada seratus penderita DB itu. Seandainya ditemukan, maka kami (RS Unair) sudah siap untuk merawat,” tutur Prof Nasron.

Diakui, RS PTN Pendidikan memang masih banyak mengalami keterbatasan. Di RS Unair sendiri, diakui masih membutuhkan dukungan anggaran universitas.

Karena ada banyak anggaran yang dialokasikan untuk pembangunan fisik maupun pengajuan akreditasi. Terbukti, pada 2 September 2016, status RS Unair naik dari rumah sakit tipe C menjadi tipe B.

Perwakilan Kemenkes Dr Ina Rosalina dr SpA (K) MKes MHKes mengatakan, dengan sederet prestasi maupun kemajuan yang dicapai manajemen RS Unair, maka diharapkan RS Unair bisa menjadi contoh bagi RS PTN Pendidikan yang lain.

Dr Ina menuturkan, Kemenkes nantinya akan melihat rasio jumlah dosen-mahasiswa, dan jumlah variasi dan jenis kasus penyakit. Hal itu tertulis dalam Permenkes No 93 Tahun 2015 tentang Rumah Sakit Pendidikan.

Selain masalah rasio, ada beberapa poin lain yang perlu diperhatikan, yakni perjanjian kerjasama rumah sakit pendidikan dengan fakultas kedokteran, maupun dengan afiliasi, serta keberadaan komite koordinasi pendidikan.

Rektor Unair Prof Nasih mengatakan ada tiga hal yang perlu diperbaiki dalam manajemen pelayanan RS PTN Pendidikan. Pertama mendorong kemandirian. Kedua optimalisasi sumber daya dan ketiga menjaga serta membangun jejaring yang harmonis terutama dengan rumah sakit pendidikan jenis utama. (sak)