Ryan Timothy A : Inspirator Smart Trash Bin
PERISTIWA TEKNOLOGI

Ryan Timothy A : Inspirator Smart Trash Bin

Pada peringatan detik-detik Proklamasi tahun ini, Presiden Joko Widodo mengundang tamu istimewa untuk hadir. Sejumlah inspirator pembangunan masyarakat dan para juara olimpiade berkesempatan langsung menghadiri peringatan di Istana Kepresidenen tersebut.

“Dengan kami mengundang mereka, minimal kita semua tahu mereka. Nanti juga ada dialog antara Presiden dengan mereka, siapa tahu pemerintah punya program untuk mereka,” ujar Kepala Sekretariat Presiden Darmansjah Djumala beberapa waktu sebelumnya.

Ryan Timothy Abisha adalah salah satu sosok inspirator masyarakat yang mendapatkan undangan. Dirinya diundang atas kontribusi nyata dirinya terkait alat yang dikembangkannya.

Ryan terpacu membuat tempat sampah yang bisa memilah jenis sampah sendiri secara otomatis. Alat temuannya ini dinamakan Smart Trash Bin. “Jadi smart trash bin itu adalah tong sampah yang bisa membedakan sampah berdasarkan jenisnya. Antara organik, anorganik, dan besi,” terang Ryan di tengah persiapan peringatan kemerdekaan RI.

Temuan pelajar Sampoerna Academy Jakarta ini adalah memberikan solusi bagi masyarakat, khususnya anak-anak, yang belum paham mengategorikan dan memilah jenis sampah organik, non organik, atau metal. Alat ini dapat memberikan petunjuk jenis sampah yang akan dibuang.

Alat yang dia kembangkan tersebut membuatnya menyabet medali perak di ajang penemu muda International Exhibition for Young Inventors (IEYI) di Tiongkok. Selain itu, Smart Trash Bin ini juga dapat dua penghargaan lainnya, yakni Japan Special Award dan Macau Special Award.

Ryan bersama empat pelajar Indonesia sebelumnya berhasil menorehkan prestasi membanggakan pada ajang bergengsi International Exhibition for Young Inventors (IEYI) di Harbin, Tiongkok, 15-20 Juli lalu. Mereka dengan tiga karya ilmiahnya itu meraih 1 medali emas, 1 medali perak, dan sejumlah penghargaan khusus. Para pelajar ini merupakan binaan kompetisi ilmiah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Berdasar Arus Listrik
Menurut Ryan, pemerintah DKI Jakarta telah melakukan beberapa upaya penanggulangan masalah sampah. Tersedia tempat sampah umum dengan 3 kategori yang berbeda di tempat umum.

Namun, masyarakat masih saja tidak peduli dan masih membuang sampah mereka secara acak tanpa mempertimbangkan kategori.

Maka Ryan merancang prototype tempat sampah yang dapat membedakan sampah berdasarkan kategorinya dan dapat terbuka-tertutup secara otomatis dengan bantuan mikrokontroler Arduino dan motor servo.

Tempat sampah tidak akan dapat dibuka apabila kategori sampah yang ditempelkan ke sensor tidak sesuai. Caranya dengan membedakan benda berdasarkan materinya.

Ryan menggunakan karbon aktif sebagai pengganti cat listrik dari bare conductive karena sifatnya yang mampu menghantarkan arus listrik.

Dengan mengalirkan arus listrik (electric pulse) melalui mikrokontroler ke sensor (capacitive sensor), dan apabila seseorang menempelkan sampah ke sensor tersebut maka diperoleh data yang berbeda berupa angka.

Hal ini dikarenakan adanya perbedaan kemampuan benda menghantarkan arus listrik. Sampah dengan kategori yang sama akan memiliki arus listrik yang hampir sama, sedangkan sampah dengan kategori yang berbeda akan memiliki perbedaan yang signifikan.

Maka dibuatlah sensor yang dapat menghantarkan arus listrik, menerima arus listrik, dan mengirimkannya kembali ke mikrokontroler dalam bentuk data.

Dengan data ini, program mikrokontroler untuk mengoperasikan tempat sampah secara otomatis dengan bantuan motor servo (terbuka-tertutup) dan mengatur rentang data untuk mendeteksi benda organik, anorganik, dan sampah logam. “Mikrokontroler dapat membedakan sampah berdasarkan materi dan memutuskan tutup manakah yang akan terbuka,” jelasnya.

“Dengan alat ini diharapkan masyarakat sadar pentingnya pengolahan sampah, terutama memilah sampah berdasar kategorinya. Pengolahan sampah menjadi lebih mudah karena sampah-sampah tersebut telah dipilah sejak awal,” harap Ryan. (sak)