Saat Rumah Sejarah jadi Warung Kopi
JALAN-JALAN PERISTIWA

Saat Rumah Sejarah jadi Warung Kopi

Memiliki gedung bersejarah peninggalan jaman Belanda di Surabaya dengan sebutan Kota Pahlawan memang mempunyai nilai seni dan budaya tersendiri. Lantas berdampak apa terhadap pemilik bangunannya?

Ini yang dialami pasangan suami istri Djarot Indra Edhi dan Rahma Rondang A, penghuni sekaligus penunggu bangunan dengan berstempel cagar budaya di Jl Plampitan 8/34-36 Surabaya, yang merupakan peninggalan salah satu tokoh nasional bernama Roeslan Abdulgani.

Saat ini rumah bersejarah yang menjadi tempat kelahiran Roeslan Abdulgani disulap Djarot dan Rahma menjadi kedai warung kopi berlabel ‘Waroeng Omah Sejarah’, dibuka pukul 19.00-24.00 wib. Namun seluruh kondisi rumah serta perabotnya masih tetap dipertahankan.

Rahma adalah cucu keponakan dari adik kandung Roeslan Abdulgani bernama Siti Zaenab Soeinggar, yang saat ini dengan setia menempati sekaligus merawat keaslian rumah peninggalan sekaligus tempat kelahiran Roeslan Abdulgani, bersama suami dan anak-anaknya.

Dan Beruntung Rahma mendapatkan Djarot, suaminya yang ternyata pecinta seni, budaya dan barang sejarah, padahal berlatar belakang sekolah perhotelan dan telah beberapa tahun malang melintang bekerja di sejumlah hotel berbintang.

“Saya alumni sekolah perhotelan, dan sudah kenyang bekerja sebagai buruh di sejumlah hotel, tetapi akhirnya saya memilih membuka usaha di rumah kuno peninggalan Eyang Roeslan meskipun terbilang kecil karena masih merintis,” ucap pria dengan tubuh tegap ini, Sabtu (17/9).

Djarot menceritakan jika dirinya mulai menempati dan merawat rumah peninggalan Roeslan Abdulgani sejak menikah dengan Rahma pada 1991. Kemudian mulai menelusuri dan mempelajari sepak terjang Roeslan Abdulgani sebagai tokoh nasional, sekaligus sejarah rumah peninggalannya.

Dia kini banyak mengetahui sejarah perjuangan Kota Pahlawan yang berkaitan dengan keberadaan rumah milik Roeslan Abdulgani, yang ternyata bersebelahan dengan rumah Ahmad Jais.

“Pak Ahmad Jais itu adalah seorang penjahit pakaian favorit orang-orang Belanda yang tinggal disekitar sini, karena dulunya ini perkampungan orang Belanda, tetapi Pak Ahmad Jais sekaligus menjadi pembisik pejuang masa itu. Karena banyak menguping perbincangan orang Belanda. Sehingga namanya diabadikan menjadi nama jalan, itupun atas perintah langsung Eyang Roeslan Abdulgani,” terang Djarot.

Tidak hanya Ahmad Jais, di kampung Plampitan juga tinggal mantan ajudan Bung Karno yang saat ini masih hidup meski kondisinya sedang sakit. Ajudan ini dulunya bertugas di kesatuan Brimob dengan pangkat terakhir AKBP.

Sayangnya cerita dan sejarah yang disampaikan Djarot dan Rahma ini hanya menjadi kebanggan diri dan keluarganya, karena keduanya mengaku jika keberadaan rumah tinggalnya yang saat, meski telah di-stempel Cagar Budaya sejak 2015 oleh Pemkot Surabaya tidak mendapatkan perhatian apapun.

“Rumah ini kami tempati dan kami rawat sendiri dengan biaya sendiri, karena janji Dinas Pariwisata pemkot Surabaya yang katanya akan membantu perwatan dan perbaikan rumah ini tidak pernah muncul, jadi kami tidak merasa mendapatkan manfaat apapun dengan stempel cagar budaya yang terpampang di depan rumah peninggalan ini,” ucap Djarot.

Entah apa alasannya, lanjut Djarot, rumah bersejarah yang dirawat ini juga tidak dijadikan tujuan wisata bagi Pemkot Surabaya. Padahal banyak situs dan cerita sejarah perjuangan yang berkaitan kampung Plampitan, terutama rumah ini karena menjadi pusat perjuangan kala itu.

“Saya juga berharap Bu Risma berkenan berkunjung kesini, itu sudah menjadi kebanggaan, kami tidak berharap apapun apalagi bantuan materiil, tetapi paling tidak pimpinan wilayah di Surabaya ini menghargai Eyang kami,” tandasnya.

Roeslan Abdulgani, lahir di Surabaya 24 November 1914 dan meninggal di Jakarta 29 Juni 2005, adalah negarawan dan politikus Indonesia. Dikenal aktif saat pertempuran 10 November 194 dan pernah menjadi Menteri Luar Negeri pada Kabinet Ali Sastromidjojo II 1956-1957. Lalu Menteri Penerangan 1962-1966 dan Wakil Perdana Menteri pada 1966-1967.

Pada era Soeharto, Roeslan dipercaya menjadi Duta Besar RI di PBB 1967-1971 dan menjabat Ketua Tim Penasihat Presiden mengenai Pancasila selama 20 tahun sejak 1978. Roeslan juga mempunyai gelar Jenderal TNI Kehormatan Bintang Empat, Bintang Mahaputra. Pada Agresi Militer ke-2, 19 Desember 1945, Roeslan yang kala itu menjadi Sekjen Departemen Penerangan tertembak tangan kanannya dan membuat jari tangannya terpaksa dipotong. (sak/spn.net)