Saatnya Kopi Liberika Tungkal Mendunia
CANGKIR KOPI EKONOMI BISNIS PERISTIWA

Saatnya Kopi Liberika Tungkal Mendunia

Pemerintah terus berupaya meningkatkan ekspor nonmigas, salah satunya melalui diversifikasi produk. Upaya diversifikasi produk dengan melakukan fasilitasi pendampingan dan adaptasi produk dapat meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar ekspor.

“Diversifikasi produk melalui peningkatan kualitas dan nilai tambah mutlak dibutuhkan agar produk Indonesia dapat terus bersaing dan diterima pasar ekspor,” tegas Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kemendag Arlinda saat meninjau pelaku usaha di Provinsi Jambi yang telah memperoleh fasilitasi DDS 2016, Kamis (4/8).

Salah satu yang didorong bisa segera masuk ke pasar internasional adalah kopi Jambi. Kegiatan adaptasi produk specialty coffee telah dilangsungkan di Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi, Tujuannya menginformasikan kepada pelaku usaha dan petani kopi mengenai klasifikasi dan standar specialty coffee berdasarkan standar Specialty Coffee Association of America (SCAA).

Arlinda meminta pemerintah dan pengusaha daerah juga melakukan inovasi. Sebab, melihat keberhasilan Indonesia sebagai Portrait Country pada pameran SCAA 2016 di Atlanta, pemerintah perlu mendorong pelaku usaha agar terus menciptakan inovasi dan kreativitas dalam memanfaatkan peluang pasar internasional. “Sekaligus mengangkat citra Indonesia sebagai negara penghasil kopi yang berdaya saing dan bernilai tambah,” papar Arlinda.

Selain standar kopi SCAA, kepada para petani dan pelaku usaha juga diterangkan tentang cara meningkatkan kualitas biji kopi, pentingnya aktivitas green grading dalam dunia perkopian, serta hal-hal yang perlu dilakukan untuk memasuki pasar kopi di luar negeri, misalnya standardisasi produk.

Saat ini permintaan dunia untuk produk kopi mulai mengutamakan kualitas, yakni melalui specialty coffee. Specialty coffee yaitu sebutan umum untuk kopi ‘gourmet’ atau ‘premium’ yang memiliki grade nilai 80 atau lebih dengan biji kopi terbaik dalam rasa maupun bentuk.

Specialty coffee yang semakin lekat dengan gaya hidup, menjadikan alasan semakin menjamurnya kafe dan coffee shop yang menyajikan kopi dengan cita rasa unik.

Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai jenis specialty coffee terbanyak di dunia. Sebut saja Kopi Arabika Gayo, Kopi Mandailing, Kopi Kintamani Bali, Kopi Malabar Honey, Kopi Java Cibeber, Kopi Flores Ende, Kopi Arabika Toraja, Kopi Bajawa Flores, Kopi Wamena Papua, dan masih banyak lainnya.

Selain itu, yang tak kalah terkenal adalah specialty coffee Kopi Liberika Tungkal yang berasal dari daerah Jambi yang juga telah terdaftar sebagai produk Indikasi Geografis.

Kopi Liberika adalah kopi dari Afrika yang bisa tumbuh di dataran rendah (< 700 m dpl) dan tinggi pohon sekitar 9 meter. Kopi Liberika dibawa Belanda dari Afrika dan ditanam di Indonesia sebagai pengganti kopi Arabica yang rentan serangan hama. Untuk kualitas, Kopi Liberika adalah jenis kopi yang terbaik bila dibandingkan jenis kopi lainnya. Hanya saja kopi jenis Liberika tidak sepopuler kopi Arabika karena harganya yang sedikit lebih mahal dan produksinya yang terbatas. Hasil produksi sebagian besar diserap di Malaysia, sisanya yang sedikit di lokal. Salah satu jenis Kopi Liberika berasal dari Jambi, tepatnya Tanjung Jabung Barat. Jika setelah disangrai, Kopi Libtukom mengeluarkan aroma khas cokelat. Berdasarkan data BPS 2011-2015, kinerja ekspor nonmigas Provinsi Jambi mencapai 1,75 miliar USD. Namun pada 2015, ekspor nonmigas menurun sebesar 15,09 persen hingga berada di level 864,46 juta USD. Sementara periode Januari-Mei 2016, kinerja ekspor nonmigas Provinsi Jambi sebesar 312,28 juta USD. Negara yang menjadi pasar tujuan ekspor utama Provinsi Jambi antara lain Tiongkok (53,58 juta USD), Jepang (52,39 juta), Malaysia (27,64 juta), India (23 juta), AS (20,93 juta), Korea Selatan (15,43 juta), Thailand (14,64 juta), Taiwan (12,90 juta), Singapura (10,17 juta) dan Bangladesh (9 juta). (sak)