Sandal Terapi Limbah Biji Salak
EKONOMI BISNIS PERISTIWA

Sandal Terapi Limbah Biji Salak

Salak pondoh adalah salah satu buah tropis yang banyak digemari. Daerah penghasil utama salak pondoh adalah di Sleman, Jogjakarta. Jika penjualan ataupun pengolahannya tidak maksimal, salak akan terbuang karena membusuk.

Selama ini buah salak baru dimanfaatkan dengan menjual buah salak dalam bentuk buah segar, selai salak, keripik salak, sirup salak, bakpia salak, dan lain-lain. Namun belum memanfaatkan biji salak.

Berdasarkan hal tersebut, mahasiswa Universitas Negeri YogYakarta (UNY) yang tergabung dalam tim Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKMK) membuat penelitian dengan judul ‘Pormathic (Portable Reumathic) Sebagai Alat Terapi Berupa Alas Kaki Kesehatan Dengan Memanfaatkan Limbah Biji Salak di Daerah Turi Sleman Yogyakarta’.

Mereka adalah Dianing Meijayanti, Gamarina Isti Ratnasari (Pend Matematika Internasional FMIPA), Sumbaji Putranto (Pend Matematika FMIPA), dan Ismi Solikhatun (Pend Akuntansi FE).

Limbah biji salak, jelas Dianing, dapat dimanfaatkan menjadi sesuatu yang bernilai jual, dengan menciptakan industri kreatif pemanfaatan limbah biji salak menjadi alat terapi berupa Pormathic (Portable Reumathic) sebagai alat terapi berupa alas kaki kesehatan.

Alat terapi ini sangat fleksibel yakni sebagai alas kaki (sandal atau sepatu) dan sebagai karpet jalan refleksi yang dapat dibawa ke mana pun.

Pembuatan Portable Reumathic dilakukan dengan melakukan beberapa tahapan. Persiapan bahan-bahan seperti limbah biji salak dan karet dilanjutkan dengan perendaman biji salak ke dalam alkohol selama 20 menit.

Setelah itu dikeringkan dan pemberian warna pada biji salak. Pada tahap pewarnaan, biji salak divernis/dicat warna sesuai keinginan konsumen supaya warnanya lebih menarik.

Dilanjutkan pembuatan desain dan pola. Lalu alas karet ditempeli biji salak, kemudian dibentuk berdasarkan ukuran kaki yang diinginkan yaitu ukuran mulai dari 28 sampai 43.

Setelah itu dilakukan finishing berupa merapikan hasil tempelan, pewarnaan dan jahitan sehingga dihasilkan produk Pormathic (Portable Reumathic) yang siap dipasarkan.

“Promosi produk ini kami lakukan antara lain dengan melalui jejaring sosial twitter @por_matic dan blog pormatic.blogspot.com. Selain itu, promosi melalui iklan pada pamflet, maupun di stand saat pameran berlangsung. Harga per pasang dipatok Rp 89.999. (sak)