Dokter Iko: Simpan Beku Ovarium, Harapan Hamil bagi Perempuan Penderita Kanker
KESEHATAN PERISTIWA

Dokter Iko: Simpan Beku Ovarium, Harapan Hamil bagi Perempuan Penderita Kanker

Perubahan gaya hidup membuat angka penyakit kanker meningkat setiap tahun. Penyakit ini berdampak panjang. Bagi perempuan, tindakan medis berupa kemoterapi dan radioterapi yang harus dilakukan dapat mengganggu ovarium dan mengancam kemampuan bereproduksi.

Padahal, penderita kanker usia reproduksi masih memiliki keinginan yang kuat untuk memiliki keturunan. Menekuni teknologi reproduksi sejak lama, Dr dr Budi Wiweko SpOG(K), dosen Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) melakukan sejumlah penelitian. Salah satu inovasinya adalah membuat teknologi yang memungkinkan perempuan penderita kanker untuk tetap bisa hamil.

Seperti dirilis Humas UI, teknologi tersebut adalah simpan beku ovarium. Pasien yang belum kawin, atau tidak memiliki waktu cukup untuk menunda kemoterapi, dapat menyimpan ovarium untuk mempertahankan fungsi reproduksinya.

Di samping itu, ovarium yang disimpan dapat diperoleh setiap saat sehingga sangat potensial untuk digunakan penderita kanker yang harus segera menjalani kemoterapi atau radiasi. “Teknologi ini sangat dibutuhkan perempuan penderita kanker usia muda yang masih membutuhkan fungsi reproduksi,” kata Manajer Riset di Fakultas Kedokteran UI ini.

Prinsip simpan beku adalah melindungi sel dengan cara menurunkan temperatur di bawah nol derajat celcius (0C) untuk menghentikan metabolisme intra selular. Proses pendinginan dan pelelehan dalam simpan beku dapat menyebabkan kerusakan sel terutama pada suhu antara –150C dan –600C.

Teknologi simpan beku ovarium ini juga bisa digunakan untuk menyimpan sel telur perempuan yang ingin menunda kehamilan. Lewat penelitiannya, Iko, sapaan akrab dr Budi, merupakan dokter pertama yang berhasil melakukan simpan beku ovarium di Indonesia pada 2010.

Hal ini juga mengantarkan Indonesia menjadi negara pertama di Asia yang melakukan simpan beku ovarium dengan teknik vitrifikasi, yakni pendinginan yang sangat cepat pada suhu -1960C. Lewat berbagai penelitiannya dalam teknologi reproduksi, Iko berhasil menjadi dosen berprestasi tingkat nasional pada 2015.

Dr Budi juga dikenal sebagai pencipta aplikasi Indonesia Kalkulator of Oocytes (IKO) yang membantu menghitung kemungkinan pasutri yang sudah menikah bertahun-tahun tetapi belum juga punya anak, pasangan perempuannya bisa hamil dengan mudah. Aplikasi ini membantu mengetahui kapan sebetulnya waktu yang pas bagi seorang perempuan bisa hamil.

Saat ini Iko aktif dalam banyak organisasi kedokteran, antara lain menjadi presiden pada Perhimpunan Teknologi Reproduksi Indonesia (PERFITRI), serta President Elect di Asia Pacific Initiative on Reproduction (ASPIRE). Selain itu, juga aktif di Pasific Rim Fertility Society (PRFS), dan European Society for Human Reproduction and Embryology (ESHRE). (sak)