Siswa SMP Coba Tape dari Non Singkong
KOMUNITAS PERISTIWA

Siswa SMP Coba Tape dari Non Singkong

Pengolahan hasil bumi di daerah Takalar Sulawesi Selatan seperti padi, jagung, sukun dan lainnya untuk menjadi produk makanan masih banyak bersifat tradisional.

Agar bervariasi, metode bioteknologi bisa dilakukan untuk menghasilkan produk-produk makanan yang baru, unik dan layak dijual.

“Saya mencoba mengarahkan siswa dengan pembelajaran aktif membuat percobaan bioteknologi menghasilkan tape dari berbagai macam bahan makanan yang mereka tentukan sendiri seperti sukun, pisang dan talas dan ternyata berhasil dengan baik,” ujar Mukhlis, guru IPA SMPN 2 Takalar kelas 9, seperti dirilis USAID Prioritas, Senin (15/8) lalu.

Sebagai langkah awal, para siswa dalam pelajaran IPA oleh Mukhlis diminta mengamati tekstur dan mencoba rasa masing-masing produk bioteknologi sederhana tape yang sudah umum di masyarakat yaitu dari sinkong dan ketan.

Setelah itu, mereka diminta membuat tape dari bahan-bahan makanan yang mereka pilih sendiri seperti jagung, kentang, sukun, talas, pisang tua, dan ubi jalar.

Prosedur pembuatannya adalah setiap kelompok siswa memilih masing-masing bahan yang akan dijadikan tape, yaitu pisang tua, jagung, sukun, talas, kentang dan ubi jalar.

Bahan makanan tersebut dicuci sampai bersih dan kemudian dikukus menggunakan panci. Setelah dikukus, bahan makanan dikupas dan dipotong sesuai selera sambil diamati tekstur dan rasanya. Bahan kemudian ditaburi ragi yang sudah dihaluskan dan dibungkus daun pisang dengan rapat.

Setelah itu disimpan dalam plastik atau wadah lain yang tertutup rapat di laboratorium selama tiga hari untuk proses fermentasi. “Bahan harus tertutup rapat agar tidak ada bakteri lain yang bisa mencampuri proses-proses fermentasi dan menghasilkan rasa berbeda,” ujar Mukhlis, salah satu fasilitator daerah USAID Prioritas Takalar yang konsisten menerapkan pembelajaran aktif di sekolahnya.

Setelah hari ketiga, ternyata semua bahan berhasil berubah menjadi tape. “Namun setelah kami amati dan kami rasakan, rasanya berbeda-beda,” ujar Fatriasi Amiruddin, salah satu siswa kelas 9 yang melakukan percobaan.

Kentang setelah menjadi tape ternyata rasanya menjadi hambar dan talas menjadi sama sekali tidak enak, dengan bau yang sangat menyengat. “Strukturnya menjadi gembur berair dengan warna kecoklatan dan tidak cocok jadi makanan,” ujar Buya Ibnu Fulqan, siswa lainnya.

Sementara sukun, pisang tua dan jagung rasanya berubah jadi unik, kecut-kecut manis dan enak. “Hasil percobaan untuk ketiga bahan ini, kami simpulkan bisa menjadi alternatif makanan yang bisa dijual,” tegas Mukhlis. (sak)