Smartphone Sulitkan Bayi Rekam Ekspresi
KESEHATAN PERISTIWA

Smartphone Sulitkan Bayi Rekam Ekspresi

Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi jangan sampai menjadi bumerang. Kecanggihan piranti tidak boleh justru membawa keburukan pada manusia dan kehidupan sosialnya.

Terlebih, bagi anak-anak. Hal itu disampaikan Dr Dewi Retno Suminar MSi, Wakil Dekan III Fakultas Piskologi Unair Surabaya. Orangtua berperan penting memastikan anak-anak tidak kecanduan smart phone dan segala aplikasi di dalamnya.

“Sejak dini, anak-anak harus dikondisikan agar tidak tergantung pada smart phone. Bahkan, di usia 0 sampai masuk SD, jangan biarkan mereka menikmati kecanggihan layar ponsel,” ungkap dia seperti dirilis Humas Unair.

Alasannya, pada usia itu balita sedang berlatih merekam ekspresi manusia. Khususnya, orang-orang yang ada di sekitarnya. Bila di masa tersebut mereka lebih banyak melihat layar ponsel, kepekaan terhadap ekspresi wajah menjadi tergerus.

Padahal, dalam interaksi sosial, kepedulian terhadap ekspresi orang lain merupakan keniscayaan. Sebab, ekspresi berhubugan dengan perasaan dan kondisi jiwa.

Bila kemampuan reflektif dari memahami perasaan orang lain buruk, komunikasi pun ikut menjadi jelek. Kalau komunikasi yang terjalin jelek, interaksi pun jadi kacau. Sehingga, hubungan dengan orang lain tidak bisa berjalan lancar.

“Nantinya, anak-anak sendiri yang kesulitan dalam kehidupan. Baik di sekolah, kampus, maupun tempat kerja,” kata Dewi.

Bahkan, di usia sekolah dasar, anak-anak mesti diberi pengertian. Bahwa, smartphone maupun ponsel merupakan sarana, bukan kebutuhan primer. Sarana apa? Sarana belajar. Jadi, kalau mereka menggunakan ponsel, belajar mesti jadi lebih maksimal. Bukan terbalik: gara-gara pakai ponsel, lupa dengan belajar.

Selain itu, ponsel merupakan sarana berkomunikasi. Jadi, saat ingin berkomunikasi jarak jauh, gunakan ponsel. Bukan terbalik: gara-gara lagi main ponsel, lupa menjalin komunikasi dengan orang lain.

Penggunaan piranti teknologi informasi dan komunikasi anak-anak harus dalam pantauan orangtua. Ayah, Ibu, atau wali anak, tidak boleh abai dan menyerahkan situasi ini semata pada perkembangan zaman yang tak dapat ditawar. Harus digarisbawahi, anak selalu butuh bimbingan dan arahan dari orang yang lebih tua. (sak)