Soekarwo Tawarkan Destinasi Gunung Bromo dan Kawah Ijen
PEMERINTAHAN PERISTIWA

Soekarwo Tawarkan Destinasi Gunung Bromo dan Kawah Ijen

Ribuan delegasi The Third Preparatory Committee (Prepcome) for UN Habitat III mulai mengikuti serangkaian acara di Grand City Surabaya. Saat pembukaan, Gubernur Jatim H Soekarwo menyarankan para peserta delegasi agar tidak segera pulang ke daerah masing-masing dan bisa berwisata alam dan kuliner di Jawa Timur

“Di Surabaya ini ada rawon yang rasanya nikmat. Anda juga bisa mengunjungi destinasi wisata alam seperti Gunung Bromo dan Blue Fire di Kawah Ijen,” jelas Pakde Karwo, saat menyampaikan sambutanya, Senin (25/7).

Menanggapi event Prepcom 3 for UN Habitat III tersebut, Pakde Karwo mengaku cukup bangga. “Event ini menjadi kebangaan bagi Jawa Timur khususnya Surabaya sebagai Ibukota. Ini menjadi perhelatan besar dan sangat strategis,” jelasnya.

Selain mempromosikan kuliner dan destinasi wisata, Pakde Karwo juga mempresentasikan keberhasilan Jawa Timur. Mulai dari program pemberdayaan desa guna mengurangi laju urbanisasi, hingga sektor ekonomi dan lingkungan hidup.

Menekan dan mengendalikan urbanisasi dengan langkah preventif Membangun desa dengan menjalankan program pemberdayaan desa. “Seperti sektor keuangan, kita buatkan koperasi wanita dengan modal usaha dari pemerintah. Kita beri bantuan modal usaha juga bagi UMKM di desa, bantuan sektor pertanian dari alat dan modal,” ujarnya.

Atas upaya tersebut, lanjut dia, berdampak positif pada sektor pertumbuhan ekonomi Jatim. “Tahun 2015 ekonomi Jatim tumbuh 5,44 persen. Tahun ini di triwulan I 2016 sudah mencapai 5,34 persen. Ini lebih tinggi dari rata-rata periode sama tahun lalu dan rata-rata nasional,” ungkapnya.

Dari aspek dayadukung lingkungan, penutupan vegetasi dari total luas daratan Jatim juga cukup baik. “Dengan rasio penutupan 43,85 persen. Lahan kita ada 2.115.079 hektare. Terdiri dari hutan negara, hutan produksi, hutan lindung dan hutan rakyat,” tuturnya.

Sedangkan, program spesifik di bidang Sumber Daya Manusia (SDM) diimplementasikan penyetaraan kurikulum pendidikan melalui Biaya Operasional Sekolah untuk Madrasah Diniyah Ula dan Wustho. tahun 2016, pembangunan pedesaan melalui pembangunan industri primer didukung penyediaan SDM trampil dari SMK Mini.

“SMK Mini yang dibangun 2014 sampai 2016 berjumlah 270 unit dan mampu mencetak 24.300 tenaga trampil di 9 bidang keahlian serta memaksimalkan pembangunan Balai Latihan Kerja (BLK) Plus,” tegasnya.

Pembangunan Industri Primer di pedesaan yang telah terlaksana ini, kata Pakde Karwo—sapaan akrabnya– bertujuan menciptakan perluasan lapangan kerja di pedesaan serta mendapat nilai tambah dari sektor primer yang ada di lingkungan pedesaan. “Targetnya sampai 2019 angkatan kerja pedesaan akan jadi tenaga kerja di sektor industri primer dan masih tetap tinggal di pedesaan,” imbuhnya.

Pakde Karwo secara rinci juga menjelaskan, bahwa pembangunan industri primer tersebut, melibatkan pembiayaan model Loan Agreement antara Pemprov Jatim dengan PT Bank Jatim. Pembiayaan yang dilakukan tersebut memiliki suku bunga kompetitif dan murah antara 7-9%.

Dengan pola ini, akan terjadi hubungan desa-kota yang baik dan positif. Karena arus distribusi barang dari desa sudah memiliki nilai tambah dan menarik untuk dikonsumsi penduduk perkotaan. “Inilah komitmen kami, bagaimana menyeimbangkan pembangunan antara desa dan kota, sehingga urbanisasi bisa kita kendalikan dan tidak membebani kawasan perkotaan,” tutup Soekarwo. (sak)