Solar Boat ITS: Suro dan Boyo ke Jepang
PERISTIWA TEKNOLOGI

Solar Boat ITS: Suro dan Boyo ke Jepang

Tim Batharasurya Solar Boat ITS yang akan berlaga dalam ajang Yanagawa Solarboat Festival di Fukuoka, Jepang 6-7 Agustus mendatang, secara resmi dilepas langsung Rektor ITS Prof Ir Joni Hermana MScES PhD dengan disaksikan sejumlah petinggi ITS di aula Jurusan Teknik Perkapalan ITS, Kamis (28/7).

Dalam sambutan singkatnya, Joni menegaskan pada tim bahwa perjuangan mereka bukan lagi sekedar bagi almamater Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, namun juga bagi seluruh bangsa Indonesia.

“Saya dengan sangat bangga, untuk kesekian kalinya kembali melepas salah satu tim terbaik dari ITS. Kali ini adalah Tim Batharasurya Solar Boat ITS yang akan berlaga di Yanagawa Jepang,” ujar Joni sumringah.

Guru Besar Teknik Lingkungan ini berharap agar capaian tim tahun ini dapat lebih baik dari pada tahun sebelumnya. Ini merupakan tahun kedua tim Batharasurya mengikuti ajang yang sama tersebut.

Berbekal evaluasi dari laga tahun lalu, ditambah persiapan yang matang selama hampir satu tahun, Joni yakin bahwa kali ini ITS jauh lebih siap.

“Sekarang kita mengirim dua kapal dengan spesifikasi yang berbeda, saya sebut kapal Suro dan Boyo, karena desainnya juga mirip ikon Surabaya. Selain itu lebih enak didengar daripada Triton dan Batharakala,” candanya menanggapi keberadaan dua kapal yang akan dibawa Tim Batharasurya untuk berlaga.

Dijelaskan Andhika Estiyono MT, dosen pembimbing Tim Batharasurya, kedua kapal dirancang secara khusus. Triton dirancang untuk bergerak lincah, sehingga unggul dalam kategori Slalom.

“Pada kategori ini, jarak yang harus ditempuh kapal tak terlalu jauh, namun kapal diharuskan zig-zag menghindari rintangan yang ada,” papar dosen dari jurusan Desain Produk Industri ini.

Sedangkan Batharakala, dirancang bergerak cepat dan efisien, tujuannya bisa unggul dalam kategori Endurance. Berbeda dengan Slalom, kata Andhika, dalam kategori ini kapal diharuskan menempuh medan sepanjang sepuluh kilometer dengan kapasitas baterai terbatas.

Maka kapal harus bergerak cepat agar efisien dalam penggunaan daya. Meski demikian, kecepatan bukanlah tujuan utama kategori ini melainkan daya tahan. “Menjadi juara bukanlah sesuatu yang mustahil, terutama dengan banyaknya masukan dari para dosen yang terlampau ahli,” ujarnya.

Ketua Tim Batharasurya Solar Boat ITS Dwiko Hadianto, menargetkan bisa masuk tiga besar nantinya di ajang berskala internasional tersebut. “Dengan semua persiapan ini, kami menargetkan untuk setidaknya meraih posisi tiga besar. Namun bukan berarti hal tersebut adalah sebuah keharusan, intinya kami akan memberikan yang terbaik untuk ITS dan Indonesia,” tegasnya.

Sebelumnya, Rektor juga berharap agar ke depan tidak hanya mahasiswa yang bisa berprestasi, namun juga para dosen di lingkungan ITS. “Saya tahu sebenarnya banyak penelitian keren dari para dosen di ITS, termasuk di Fakultas Teknologi Kelautan ini. Contohnya riset tentang kapal siluman, itu sangat baik apabila terus dikembangkan,” paparnya.

Terakhir, Joni berpesan pada tim agar bisa menjaga nama baik bangsa Indonesia dengan memperlihatkan kepada dunia bahwa sebenarnya Indonesia mampu sejajar dengan mereka.

“Semoga apa yang telah ditargetkan dapat tercapai. Yang terpenting adalah berjuang semaksimal mungkin dengan tidak mensia-siakan kesempatan beharga ini,” pungkasnya. (sak)