Sosialisasi Tax Amnesty Berorientasi Target
EKONOMI BISNIS PERISTIWA

Sosialisasi Tax Amnesty Berorientasi Target

Tax Amnesty yang baru saja disosialisasikan secara langsung oleh Presiden Joko Widodo di Surabaya, 15 Juli lalu kini ditindaklanjuti Komisi XI DPR RI. Wakil rakyat yang berkantor di Senayan itu melakukan kunjungan spesifik ke Jatim terkait persiapan tindak lanjut pengesahan UU Pengampunan Pajak tersebut.

Kehadiran 6 orang anggota Komisi XI tersebut dilakukan ke Kantor Kanwil Pajak Jawa Timur di jalan Jagir Wonokromo. Tampak hadir dalam kunjungan spesifik, pihak Otoritaas Jasa Keuangan (OJK), Direktoran Jendral Pajak (DJP), Perbankan, Persepsi, Bank Indonesia serta Kamar Dagang Indonesia Daerah (Kadinda).

Eva Sundari, salah satu anggota Komisi yang membidangi keuangan itu menekankan jika desain sosialisasi UU Tax Amnesty tidak bisa pasif, seperti layaknya UU lainnya. Mengingat pada UU TA ini sudah mendapatkan respon positif.

“Bedanya sosialisasi UU TA dengan UU lainnya karena ada target waktunya serta dana yang harus masuk,” kata mantan dosen Unair itu memberi sederat alasan. Pada peserta yang hadir, Eva juga memberikan masukan, untuk mendekati target-target kelas kakap, harus dilakukan kerja pro aktif. Bila perlu, dilakukan pembentukan tim khusus untuk melakukan pendekatan pada target kakap yang tidak mungkin datang ke Help Desk di Kantor Pelayanan Pajak (KPP).

Tidak itu saja. Eva yang juga politisi dari Fraksi PID Perjuangan meminta agar pelaksana di lapangan menggunakan data yang sudah ditangan pemerintah untuk melakukan sosialisasi berbasis target. “Silahkan, gunakan saja data yang dimiliki pemerintah agar sosialisasinya memenuhi target,” tegas politisi yang berangkat dari daerah Pilihan Jatim 8 tersebut.

Ditanya sampai kapan kunjungan spesifiknya berkaitan dengan TA, politisi yang dua periode melenggang di Senayan melalui proses Pergantian Antar vWaktu (PAW) itu mengatakan sampai target terpenuhi. “Kita akan keliling Indonesia. Teman-teman se-Komisi disebar. Kami kebetulan di Jawa Timur. Ada yang ke Makassar, Medan dan provinsi lainnya,” tambah ibu dua anak tersebut.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi XI Supriyadi menegaskan, jika komitmen komisinya serius mengawal dan membantau pelaksanan UU TA setiap bulannya. Demi memastikan tercapainya target hingga 2017. Bagi DPR, kata Supriadi, keberhasilan UU TA ini merupakan pertaruhan serius. Begitu juga bagi pemerintah. Untuk keperluan itulah, langkah ini mendapatkan dukungan seluas-luasnya.

Jokowi Sosialisasi Lagi
Sementara di Medan, Presiden Joko Widodo melakukan sosialisasi seperti yang sudah dilakukan di Jakarta dan Surabaya. Jokowi mengemukakan, semua negara saat ini bersaing untuk mendatangkan arus uang masuk, padahal kita memiliki uang uang itu.

“Bukan uang siapa-siapa, itu uang kita. Ada yang ditaruh di bawah bantal. Saya tahu, ada yang ditaruh di bank Swiss, ada yang ditaruh di Hongkong, ada yang ditaruh di BPI, ada yg ditaruh di Singapura. Datanya ada di kantong saya,” kata Jokowi dalam sosialisasi Tax Amnesty di Hotel Santika, Medan, Sumatera Utara, Kamis (21/7) petang.

Jokowi mengingatkan, kita hidup dan makan di Indonesia, kita bertempat tinggal di Indonesia. Kita juga dengan kemudahan pemerintah mencari rejeki di Indonesia. Karena itu, Jokowi menilai, kalau ada uang ditempatkan di luar negeri tidak pantas sebetulnya.

“Gapapa sebetulnya dalam bisnis biasa tetapi dalam saat ini negara membutuhkan partisipasi dari saudara semuanya, sehingga kita carikan payung hukumnya,” terang Jokowi seraya menyebutkan, payung hukumnya bukan Peraturan Presiden karena nanti ada yang mempermasalahkan. Payung hukumnya adalah Undang-Undang Pengampunan Pajak.

Karena itu, Jokowi mengajak para pengusaha memanfaatkan payung hukum yang sangat kuat ini dengan sebaik baiknya. Pada kesempatan itu, Jokowi juga mengucapkan terima kasih kepada 9 anggota Komisi Xl DPR RI yang hadir dalam sosialisasi itu.

“Beliau-beliau inilah yang memberikan persetujuan dengan sangat cepat menyelesaikan UU Tax Amnesty ini, patut dihargai, karena kita berkejar kejaran bersaing dengan negara yang lain. Begitu momentumnya hilang udah enggak tahu akan kapan lagi kita bisa menarik uang itu. Kesempatannya sekarang, momentumnya sekarang,” tutur Jokowi. (sak)