Sri Astuti Empat Hari Dua Kali ke Saudi
PERISTIWA

Sri Astuti Empat Hari Dua Kali ke Saudi

Seorang jemaah haji umumnya hanya akan menempuh satu kali perjalanan ke Saudi saat berangkat, lalu kembali ke Tanah Air usai berhaji. Namun hal berbeda dialami Sri Astuti. Jamaah asal Malang yang tergabung dalam kloter 52 Embarkasi Surabaya (SUB 52) ini harus bolak balik dua kali ke Saudi dalam empat hari.

Berangkat haji bersama suami, wanita 60 tahun ini terbang ke Jeddah dari Surabaya pada Selasa (30/08) lalu. Setibanya di Bandara Internasional King Abdul Azizi (KAAIA) Jeddah, Sri tertahan diimigrasi karena foto yang tertera di paspornya berbeda dengan wajahnya. Sementara suaminya Tugiman bisa masuk ke Makkah, Sri dipulangkan ke Indonesia.

Selang empat hari, atas upaya Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah bersama tim KJRI, Sri bisa terbang kembali ke Saudi untuk menunaikan ibadah haji bersama suami.

Ditemui di pemondokannya di kawasan Jarwal, Sabtu (03/09), Sri sempat berbagi cerita kepada tim Media Center Haji (MCH) Kementerian Agama tentang pengalaman hidup yang baru saja dia alami, dideportasi.

“Pertama saya daftar haji di Kemenag Malang. Nama saya di surat nikah itu Astuti. Di KTP sama KK Sri Astuti. Terus saya disuruh minta keterangan surat ke desa disamakan nama Sri Astuti,” kata Sri mengawali kisah penantian panjangnya untuk bisa berhaji.

Tiba saatnya berangkat haji, Sri bersiap diri. Segala dokumen yang diperlukan disiapkan untuk keperluan pembuatan paspor dan visa. Waktu yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Sri bersama suami tergabung dalam SUB 52 yang berangkat pada Selasa, 30 Agustus 2016.

Sehari sebelum berangkat, Sri dan jemaah haji lainnya diinapkan di Embarkasi Surabaya. Jelang keberangkatan, dia mendapatkan paspornya yang tertempel foto dirinya pada bagian muka. “(Paspor) Tidak dibuka, langsung dimasukan ke tas tentengan. Tidak saya buka karena di luar ada foto saya,” tutur Sri.

Kurang lebih sembilan jam perjalanan, Sri dan kloternya tiba di Jeddah. Semua berjalan lancar, sampai saat petugas imigrasi Saudi membuka paspor dan mendapati foto yang tertera berbeda dengan wajah Sri. “Saya langsung dibawa ke kantor. Saya ditahan di situ kira-kira 3 jam,” kenangnya.

Menurutnya, ada dua petugas yang saat itu mendampingi dan berusaha menenangkannya, yaitu Hasyim Hilaby (petugas haji) dan Ahad Fadly (KJRI). “Nanti ibu kalau dibawa ke mana ikut saja,” katanya menirukan pesan Fadly.

Singkat cerita, Imigrasi Saudi berketetapan bahwa Sri harus dideportasi. Kaget, Sri mengaku awalnya menolak, namun tak kuasa di tengah keterbatasan kemampuan bahasa. Sampai di dekat pesawat yang akan membawanya ke Jakarta, Sri masih berusaha menolak dipulangkan.

“Setelah itu, pramugari turun mengajak saya. Ayo Bu, mau berangkat pesawatnya. Saat saya jawab tidak mau ikut, pramugari itu meminta saya ikut saja. Nanti ibu dipenjara. Ibu tidak punya bukti apa-apa,” ujarnya.

Burung besi itu pun mengantar Sri kembali ke Jakarta, lalu ke Surabaya. Di Kota Pahlawan itu, Sri ditemani tim Kementerian Agama untuk mengurus visa di imigrasi. “Dari situ, saya lalu diantar menginap di Asrama Haji lagi,” kisahnya.

Dua hari berselang, terdengar kabar kalau pengurusan dokumen sudah final. Awalnya, Sri akan diberangkatkan bersama kloter 62. Hanya, Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Abdul Djamil minta agar Sri diberangkatkan pada kesempatan pertama setelah selesai seluruh persyaratan. Akhirnya, Sri diikutkan ke SUB 59, bersama rombongan asal Lumajang, menuju Saudi sebagai dluyuufur Rahman.

“Turun dari bandara, saya didampingi sama Mas Nurul Badruttamam (Kadaker Airport). Ke mana-mana saya diikuti. Sama Ibu Sri Ilham (Direktur Pelayanan Haji Luar Negeri), saya dikasih makan. Saya tidak bawa sabun dan handuk, dikasih. Mandi diantar,” kenangnya sembari terisak.

Kini Sri sudah kembali berkumpul dengan suami di Kota Suci. Bersama rombongan jemaah haji lainnya, Sri mulai menata diri untuk berhaji. “Saya berterima kasih kepada semuanya. Ucapan terima kasih sebanyak-banyaknya. Sudah cukup itu saja,” katanya disertai isak tangis.

Secara terpisah Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Abdul Djamil menceritakan atas kejadian yang menimpa Sri. Pihaknya bersama tim KJRI di Jeddah sempat melakukan negosiasi agar Sri bisa melanjutkan perjalanan ke Makkah. Namun, imigrasi bersikukuh melarang Sri masuk Saudi karena ada perbedaan foto paspor dengan wajahnya.

Tim Ditjen PHU yang ada di Tanah Air segera mengurus dokumen Sri, berkordinasi dengan pihak kedutaaan Arab Saudi untuk memintakan visa yang bersangkutan. “Tanggal 31 Agustus, Sri Astuti sudah sampai di Surabaya. Lalu kita urus dokumennya dan pada Jumat (01/09), visa yang bersangkutan sudah jadi,” kata Abdul Djamil, Sabtu (03/09).

Dokumen lengkap, Sri bisa kembali berangkat. Awalnya embarkasi Surabaya menjadwalkan pemberangkatannya bersamaan dengan kloter akhir. Namun hal itu tidak disetujui Abdul Djamil. “Saya bilang ini harus diterbangkan secepatnya pada kloter yang ada pada hari itu juga,” tegasnya.

Abdul Djamil mengaku senang karena Sri tetap bisa berangkat haji. Menurutnya, menjadi kewajiban petugas untuk terus meningkatkan pelayanan kepada jemaah. “Kalau ada apapun yang menimpa jemaah, kewajiban kita, pemerinah, untuk melindungi jemaah,” tandasnya. (sak)