Sri Mulyani: Kita Punya 65 Juta Generasi Muda yang Mencintai Indonesia
OBROLAN PERISTIWA PROFIL

Sri Mulyani: Kita Punya 65 Juta Generasi Muda yang Mencintai Indonesia

Sehari sebelum dilantik menjadi Menteri Keuangan yang baru, Sri Mulyani Indrawati SE MSc PhD selaku Managing Director dan Chief Operating Bank Dunia memberikan ceramah dihadapan mahasiswa di Kampus Universitas Indonesia (UI) Depok, Selasa (26/7).

Di kampus almamaternya itu, Sri Mulyan memberikan kuliah umum bertema ‘Yang Muda Yang Beraksi: Peranan Pemuda dalam Mensukseskan Pembangunan Berkelanjutan yang Inklusif’ di Auditorium Djokosetono, FH UI.

Apa saja yang disampaikan? Berikut ringkasan isi pidato Sri Mulyani.

Disini saya mulai belajar ekonomi, disiplin ilmu yang membekali saya dengan pengetahuan teknis tentang berbagai masalah pembangunan dan ekonomi. Di UI juga idealisme dan pemikiran saya mengenai politik mulai tumbuh dan berkembang.

Selama di UI, saya melihat dan terlibat dengan proses transisi Indonesia menuju demokrasi dan menerapkan desentralisasi dan otonomi daerah. Saya juga melihat bagaimana Indonesia menangani krisis ekonomi 1997/1998.

Pengetahuan teknis yang saya pelajari sangat membantu memahami masalah dengan objektif dan akurat, yang menghasilkan pemikiran, solusi kebijakan yang kredibel yang sangat bermanfaat pada saat saya mengemban tugas sebagai pejabat negara. Kini, saya menjabat sebagai Managing Director dan Chief Operating Officer Bank Dunia.

Di Washington DC, saya sering menerima kunjungan kelompok pelajar dan mahasiswa Indonesia yang memiliki keingintahuan yang begitu tinggi. Satu pertanyaan paling sering ditanyakan, apa yang dapat dilakukan kaum muda Indonesia agar bisa meraih kesuksesan di dalam negeri maupun arena global?

Pertanyaan ini sangat penting. Kini, anak muda merupakan sepertiga dari jumlah penduduk Indonesia, jumlah mereka melebihi 65 juta warga. Di tangan generasi muda inilah terletak kunci keberhasilan negeri ini.

Pada saat yang sama tantangan lingkungan makin sulit. Saat ini di Bank Dunia, kami mengkhawatirkan rapuhnya pertumbuhan ekonomi dunia yang sering disertai gejolak.

Melambatnya pertumbuhan ekonomi dan perubahan strukturan ekonomi di Tiongkok sangat berpengaruh di seluruh dunia. Saya baru kembali dari Argentina minggu lalu, di mana melemahnya ekspor ke Tiongkok telah melemahkan ekonomi di Argentina, yang memiliki 35 persen ekspor ke Tiongkok.

Kondisi yang sama dialami negara-negara di Amerika Latin, Afrika, Asia Tengah, serta Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Tiongkok menerima 11 persen barang ekspor Indonesia.

Negara-negara berkembang yang selama dua dekade terakhir menjadi mesin pertumbuhan dunia, saat ini menghadapi tantangan berat, ibarat badai yang datang bersamaan secara sempurna, atau ‘perfect storm’. Negara-negara pengekspor komoditas, dengan jutaan penduduk miskin, mengalami pukulan paling keras.

Kondisi seperti ini memerlukan kerjasama makin erat dan kuat dan koordinasi kebijakan antar negara. Kerjasama ini dapat membangun kembali kepercayaan, dan menghilangkan halangan perdagangan dan investasi untuk menunjang produktivitas dan memulihkan pertumbuhan ekonomi.

Namun yang terjadi sebaliknya. Populisme tengah bangkit dan bahkan meluas. Kesediaan bekerjasama antar negara berada pada titik terendah sepanjang sejarah. Apa yang terjadi di Inggris dengan keputusan keluar dari Uni Eropa (Brexit) adalah contohnya.

Bagaimana Indonesia menyikapi?

Indonesia memiliki potensi besar dan dapat menjadi pelaku global yang disegani. Namun potensi ini harus diwujudkan menjadi kinerja dan prestasi.

Untuk itu diperlukan generasi muda yang percaya diri, dengan visi luas dan ambisi dan kreativitas yang kuat untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi yang diperlukan guna menciptakan kemakmuran, kemajuan peradaban, dan keadilan sosial.

Pertama, jadilah bagian dunia yang berperan aktif.

Globalisasi memberikan dan menciptakan peluang menciptakan kemajuan perekonomian semua negara di dunia. Negara yang sukses mengentas kemiskinan dan mencapai kemakmuran adalah mereka yang mampu memanfaatkan globalisasi, serta membangun ketahanan dan menjaga diri dari gejolak globalisasi.

Bagi bangsa Indonesia, visi global dan cita-cita untuk mendunia sudah lama ditanamkan oleh pendiri bangsa ini. Dalam kurun waktu lebih dari 50 tahun terakhir, Indonesia telah memanfaatkan perdagangan dan investasi global untuk mengatasi kemiskinan dan memajukan pembangunan.

Indonesia memiliki rata-rata upah di bidang manufaktur terendah. Namun biaya per unit tenaga kerjanya relatif tinggi, mencerminkan produktivitas tenaga kerja yang belum baik. Ini tantangan besar.

Baru-baru ini, Indonesia melakukan paket kebijakan perdagangan yang cukup signifikan, untuk mengurangi hambatan perdagangan dan investasi. Ini perkembangan yang baik. Fokus mempercepat pembangunan infrastruktur di seluruh Kepulauan Indonesia merupakan langkah yang tepat.

Dan ini membawa saya pada rekomendasi kedua: Jangan melupakan mereka yang tertinggal.

Salah satu kekhawatiran terbesar saya adalah meningkatnya ketimpangan di masyarakat. Indikator kesenjangan (koefisien gini) Indonesia meningkat tajam dari 30 pada tahun 2003, ke 41 pada tahun 2014. Ketimpangan yang bisa menghambat potensi pertumbuhan jangka panjang Indonesia.

Masalahnya, ketimpangan di Indonesia banyak ditentukan hal-hal di luar kendali penderita.

Sepertiga dari ketimpangan di Indonesia disebabkan empat faktor, pada saat seseorang lahir: provinsi di mana mereka lahir, apakah tempat lahir itu desa atau kota, apakah kepala rumah tangga perempuan, dan tingkat pendidikan orangtua.

Dengan kata lain, kesenjangan pendapatan bukan sekedar dampak dari ketimpangan semata, tetapi akibat adanya ketimpangan peluang.

Anak-anak Indonesia yang lahir dengan ketimpangan tersebut akan sulit mengatasi ketimpangan di masa depannya. Ketidakadilan ini harus diatasi segera.

Faktor pertama yang menentukan adalah layanan kesehatan. Faktor kedua adalah belum meratanya kualitas pendidikan di Indonesia.

Tapi beberapa data membuat saya optimis. Lebih dari 50 juta pengguna Twitter di Indonesia, dan Jakarta disebut sebagai kota pengguna Twitter teraktif di dunia.

Bagaimana kita dapat memanfaatkan dunia teknologi yang kita kagumi ini?

Bagaimana kita tidak hanya menjadi penerima teknologi dan informasi namun juga produktif sebagai pencipta?

Saya lihat perkembangan positif akhir-akhir ini dalam inovasi aplikasi teknologi yang telah menciptakan bisnis seperti Go-Jek, yang memberikan inspirasi peluang bisnis, terutama bagi generasi muda. Indonesia mampu memanfaatkan teknologi untuk aktivitas kreatif dan produktif.

Jangan lupa, generasi muda saat ini adalah generasi yang hidup pada masa demokratisasi pengetahuan. Saat ini, kita semua memiliki akses informasi yang instan melalui smartphone. Saya juga melihat banyak kampus memiliki fasilitas wi-fi, sehingga mahasiswa setiap saat mampu terkoneksi dengan informasi dan data.

Hal lain yang membesarkan hati adalah semakin banyak generasi muda yang semangat belajar di tingkat pasca sarjana. Tahun lalu, sekitar 4.500 mahasiswa sarjana dan pasca sarjana mendapat beasiswa LPDP untuk belajar di luar negeri dan di Indonesia.

Selain ketimpangan di bidang kesehatan dan pendidikan, terdapat ketimpangan lain yang juga sangat penting yaitu yang dialami perempuan dan anak perempuan.

Menurut laporan terkini Global Gender Gap oleh World Economic Forum, Indonesia berada pada peringkat 114 dari 145 negara terkait partisipasi peluang ekonomi perempuan.

Penting bagi Indonesia untuk mencapai peringkat yang lebih baik. Ketimpangan peluang bagi perempuan dan anak perempuan berdampak langsung pada peluang ekonomi mereka, dan secara tidak langsung, kemampuan untuk mengambil keputusan yang bisa mempengaruhi kehidupan mereka dan keluarga mereka.

Ajakan terakhir yang ingin saya sampaikan terutama kepada generasi muda adalah selalu lakukan yang terbaik dan berikan yang terbaik bagi orang lain.

Tuntutlah ilmu dan kuasai kemampuan teknis yang terbaik. Jangan pernah berhenti belajar. Carilah ilmu yang bermanfaat bukan hanya untuk kita sendiri namun juga bagi tim anda. Mudah untuk mencapai sukses sendiri.

Lebih sulit untuk membangun sukses bersama dan membangun institusi. Reformasi di institusi publik dan swasta harus terus dilakukan guna meletakkan dan membangun tata kelola yang baik, efisien, dan akuntabel.

Setelah enam tahun saya bekerja di lembaga internasional Bank Dunia dan berkeliling dunia mengunjungi negara-negara berkembang maupun negara maju, saya merasa optimis melihat generasi muda Indonesia.

Indonesia dapat menjadi negara maju yang dibanggakan rakyatnya dan disegani bangsa lain. Karena Indonesia memiliki generasi muda yang selalu ingin belajar dan ingin maju, yang haus akan prestasi, dan memiliki daya juang yang tidak pernah luntur.

Indonesia memiliki 65 juta generasi muda yang tidak pernah berputus asa mencintai negerinya. (sak)