Sugeng Pujiono: Resign dari GM, Sukses Kembangkan Bisnis Kopi Luwak Cikole
CANGKIR KOPI PERISTIWA PROFIL

Sugeng Pujiono: Resign dari GM, Sukses Kembangkan Bisnis Kopi Luwak Cikole

Lulus dari Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Airlangga pada tahun 1988, Sugeng Pujiono kini lebih dikenal sebagai pengusaha ‘Kopi Luwak Cikole’.

Pria berusia 53 tahun lalu tersebut, resign dari jabatannya sebagi General Manager PT Sanbe Farma dan PT Caprifarmindo Labs di tahun 2013 demi fokus dalam usaha kopi luwak yang dirintis sejak tahun 2012.

Usaha Sugeng boleh dikata tidak berjalan mulus. Awalnya, dia memulai usaha tersebut dengan budidaya 10 ekor luwak. Untuk bisa mendapatkan biji kopi luwak berkualitas, Sugeng melakukan banyak eksperimen.

Antara lain dengan mengatur pola makanan juga pola hidup luwak yang dibudidayakannya. Menurut Sugeng, hal tersebut mempengaruhi metabolisme dalam tubuh luwak dalam menghasilkan biji kopi luwak yang berkualitas.

Dalam menjalankan bisnisnya, tidak jarang Sugeng menjumpai banyak penolakan terhadap produk kopi luwak miliknya. Terutama, harga kopi luwak yang memang melambung tinggi. Namun dengan terus memperbaiki kualitas kopi luwak miliknya, Sugeng mulai meraih banyak kepercayaan dari penikmat kopi.

“Masih jarangnya studi mengenai hewan luwak, membuat saya tertantang terus mempelajari hewan asli Indonesia tersebut. Di samping itu, sedikitnya produsen kopi luwak dan penikmat kopi luwak di Indonesia membuat saya termotivasi mengembangkan usaha ini,” ujar Sugeng usai mengisi Seminar di FKH Unair, beberapa waktu lalu.

Kerja keras yang diawali Sugeng dengan 10 ekor luwak tersebut, kini berkembang dengan jumlah sekitar 250 ekor luwak. Di atas lahan di kampung Babakan, Desa Cikole, Lembang Bandung, Sugeng kini memiliki pusat penangkaran dan rumah produksi kopi luwak yang satu-satunya diakui pemerintah Indonesia.

Di Desa Cikole tersebut, disamping menjual produk kopi luwak, pengunjung bisa menikmati secara langsung suasana pegunungan disana. Selain itu, ada pula breeding farm luwak yang bisa menjadi sarana edukasi bagi pengunjung.

Adanya paket tour and destination semakin memanjakan pengunjung yang justru banyak berdatangan dari mancanegara. Tercatat, lebih dari 55 negara yang pernah datang ke kedai, workshop, dan penangkaran luwak milik Sugeng.

“Kendala yang bermunculan seperti keluarnya protes keras tentang tuduhan eksploitasi terhadap luwak,” ujar Sugeng.

Jaga Kesehatan Luwak
Sugeng dengan tegas menolak tuduhan tersebut, sekaligus menunjukkan bahwa usahanya tidak menyiksa luwak. Sugeng memperhatikan pola makanan dan menjaga pola hidup luwak-luwak miliknya. Namun seiring berjalannya waktu, protes itupun terbantahkan.

Bagi Sugeng, cita rasa kopi luwak yang khas dan berkualitas harus diikuti oleh kesehatan hewan tersebut. Agar kesehatannya terjaga dengan baik, luwak harus diberi pakan yang bergizi.

Dijelaskan, makanan utama luwak adalah buah-buahan manis seperti pepaya, pisang, sawo dan buah lainnya. Setiap hari, satu ekor luwak bisa mengonsumsi pepaya atau pisang sebanyak 1 kilogram (kg). Buah kopi justru diberikan sebagai pakan sampingan luwak.

Idealnya, kata Sugeng, luwak hanya diberi pakan buah kopi sebanyak dua kali dalam sepekan. Itu pun dengan takaran 500 gram per ekor. Tak hanya pakan yang bervariasi dan bergizi, air minum luwak juga tidak boleh sembarangan.

Setiap pagi, luwak harus diberi susu sapi segar yang dimasak. Sore harinya, luwak diberi air minum biasa. Lalu, setiap Selasa dan Jumat, luwak diberi empat butir telur.

Sementara itu, madu diberikan tiga kali setiap minggu dan daging paha ayam diberikan satu minggu sekali. Agar terhindar dari rabies, luwak harus mendapatkan vaksin setahun sekali dan ditambah pemberian obat cacing setiap tiga bulan.

Untuk menghasilkan biji kopi luwak, biasanya Sugeng memberikan pakan buah kopi untuk hewan mamalia ini tiap Senin dan Kamis. Lazimnya, buah kopi diberikan pada sore hari. Ini agar keesokan paginya biji kopi bisa langsung dicerna dan keluar dari perut luwak.

Setelah itu, biji kopi dikumpulkan untuk dibersihkan. Selanjutnya, biji kopi luwak yang sudah bersih, dikeringkan sampai tersisa kadar airnya hanya 12%. Proses selanjutnya adalah pengupasan kulit tanduk (kulit dari biji kopi). Terakhir, biji kopi disangrai, digiling dan dikemas.

Proses perawatan luwak hingga mampu menghasilkan biji kopi berkualitas butuh biaya besar. Wajar, jika harga kopi luwak dibanderol Sugeng Rp 3 juta per kg. Mahalnya harga kopi luwak, justru jadi kendala Sugeng dalam memasarkan produknya. “Ini tantangan terberat, karena bisnis ini sangat berbeda dengan profesi saya sebagai dokter hewan,” imbuh Sugeng.

Saking sulitnya menembus pasar kopi luwak, pada pertengahan 2013, ayah dari dua orang anak ini sempat dibuat frustrasi. Menurutnya, sebagian besar masyarakat Indonesia tak bisa menerima keberadaan kopi dengan harga yang mahal.

Selain itu, Kopi Luwak Cikole juga ditolak di beberapa tempat seperti cafe, hotel, tempat hiburan, dan tempat wisata. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk tak lagi aktif memasuki pasar. “Selain karena harganya mahal, alasannya karena kemasan kita tak menarik,” kenang Sugeng.

Hal itu pula yang membuat Sugeng menerapkan strategi pemasaran berkonsep edukasi atau yang disebutnya blue ocean strategy. Setiap tamu yang datang, disuguhkan kopi sekaligus diberi edukasi soal produksi kopi luwak.

Strategi itu tak sia-sia. Seiring berjalannya waktu, rumah produksi kopi luwaknya mulai diliput sejumlah media nasional hingga semakin banyak tamu yang berkunjung ke tempatnya. Praktis, Kopi Luwak Cikole mulai terkenal di pasaran.

Menciptakan Peluang
Keputusan Sugeng resign dari posisi general manager dan mengelola kopi luwak adalah langkah besar yang dibuatnya untuk menantang dirinya sendiri dalam berpikir berbeda dan berani mengambil resiko.

“Dunia entrepreneurship yang saya geluti saat ini membuat saya menjadi pribadi yang memiliki nilai berbeda. Hal ini dibuktikan dengan keberhasilan saya menghadapi tantangan dalam memperoleh peluang dan menerima resiko,” kata Sugeng.

Tidak puas dengan bisnis kopi luwak, Sugeng kini merambah dunia kuliner dengan membangun sebuah kafe dan resto bernama ‘Kangen Lembur Cikole’ yang masih satu lokasi dengan pusat penangkaran luwak miliknya.

“Saya berharap seluruh civitas akademika Unair memiliki jiwa entrepreneurship. Karena hal ini akan membuat mereka berani menjadi seseorang yang berbeda, dan terbiasa menciptakan peluang dan berpikir inovatif. Yang terpenting adalah jangan hanya menunggu peluang, jadilah orang yang menciptakan peluang,” kata Sugeng.

Selain itu, Sugeng juga mengembangkan bisnis dalam bidang produk kesehatan hewan, yakni PT ISSU Medika Veterindo yang dimulainya sejak 2013. Menurutnya, PT ISSU tidak hanya sekedar rumah produksi melainkan sebagai sarana edukasi. Hingga saat ini, tidak sedikit para akademisi yang datang untuk melihat proses produksi di PT ISSU. (sak)