Sumi Wijaya: Cetuskan IHSEP, Gara-Gara Kesulitan di Kerja Praktek
PERISTIWA PROFIL

Sumi Wijaya: Cetuskan IHSEP, Gara-Gara Kesulitan di Kerja Praktek

Sumi Wijaya, Kepala Program Studi (Prodi) Fakultas Farmasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) mendulang prestasi berkat inovasinya. Mencetuskan Integrated Health Science Education Programs (IHSEP) menjadi mata kuliah di Fakultas Farmasi UKWMS membawanya Juara I Ketua Program Studi Berprestasi Tingkat Kopertis wilayah VII Jatim.

“Mata kuliah IHSEP merupakan program yang menggabungkan 5 fakultas kesehatan yang ada di Kampus UKWMS Pakuwon,” ujarnya. Kelima fakultas tersebut adalah Farmasi, Kedokteran, Keperawatan, Psikologi dan Filsafat. Awalnya, IHSEP merupakan sebuah kegiatan yang diterapkan dalam bentuk diskusi ilmiah lintas prodi di luar mata kuliah wajib.

Sumi menjelaskan saat proses trial, perwakilan mahasiswa dari tiap fakultas mendapat studi kasus bidang kesehatan dan kemudian diminta menanggapi kasus tersebut dari sudut pandang ilmu masing-masing.

Hal tersebut menurut Sumi demi membantu mahasiswa yang nantinya bekerja sebagai tenaga kesehatan dapat terbuka dan mampu berkomunikasi, sehingga memunculkan koordinasi antar rekan dengan baik.

Pengalamannya tidak dapat berkomunikasi secara terbuka dengan atasan saat kerja praktek dahulu, membulatkan tekad Sumi menjadikan IHSEP masuk kurikulum. Program ini sangat bagus dan bermanfaat bagi mahasiswa dan tentunya beda dengan mata kuliah lintas program studi (prodi) lain.

Jika pada mata kuliah lintas prodi hanya terjadi pembelajaran satu arah, pada program IHSEP ini mahasiswa dituntut berperan aktif. Mahasiswa dikelompokkan sesuai bidang ilmu mereka. Setelah selesai mendiskusikan studi kasus, kesimpulan dan hasilnya dipresentasikan di depan dosen perwakilan tiap fakultas.

Saat ini, IHSEP sudah jadi mata kuliah pilihan wajib di Fakultas Farmasi. Sumi mengatakan mahasiswa yang berminat pada mata kuliah ini cukup banyak, terbukti adanya seleksi yang dilakukan agar tidak melebihi kuota. “Kami mengutamakan mahasiswa semester 7 dan 8 mengambil mata kuliah ini,” ungkapnya.

Selama kurang lebih satu tahun program ini berjalan, ia mendapatkan feedback positif dari mahasiswa. Kebanyakan mereka mengungkapkan lebih percaya diri dan terbuka, terlebih saat kerja praktek. Tak hanya itu, banyak dari tempat Praktek Kerja Profesi yang disinggahi mahasiswa UKWMS yang mengatakan mahasiswa lebih berani dan terbuka menyampaikan pendapat.

Apresiasi baik juga diberikan Duta Besar Australia untuk Indonesia, Paul Grigson. Saat mengunjungi UKWMS beberapa waktu lalu, ia mengatakan program tersebut sangat bagus dan perlu dikembangkan. Namun dibalik itu semua, Sumi sempat mengalami beberapa kendala sebelumnya. Ia sempat kesusahan mengumpulkan perwakilan dosen dari tiap fakultas lainnya karena keterbatasan waktu.

“Selain itu kan, kami harus membuat modul dan merancang topik baru untuk berikutnya,” ungkapnya. Hal tersebut tentu banyak menyita waktu, namun Sumi terus berupaya agar program ini tetap berjalan demi kemajuan mahasiswanya. “Harapan saya cuma ingin program ini dapat dijadikan kurikulum untuk seterusnya,” pungkasnya. (sak)