Surili, Maskot PON yang Terancam Punah
KOMUNITAS PERISTIWA

Surili, Maskot PON yang Terancam Punah

Ada yang berbeda pada rangkain perhelatan Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX 2016 di Jawa Barat. Selain mengusung surili (Presbytis comata) sebagai maskot PON, sepasang primata endemik Jabar tersebut juga dilepasliarkan di kawasan hutan Cagar Alam (CA) Patengan, Situ Patengan, Rancabali, Kabupaten Bandung, Jabar.

Dengan jargon juara di tanah legenda, primata yang diberi nama Lala dan Lulu ini dilepasliarkan PB PON XIX yang bekerja sama dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jabar, dan Pusat Konservasi Primata The Aspinall Foundation.

Jarum jam telah menunjukkan pukul 07.36 WIB. Kabut telah menipis, namun udara dingin pagi itu masih terasa menusuk. Dari atas ketinggian 1.600 mdpl, dua ekor surili dilepasliarkan. Acara pelepasliaran surili dilakukan Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan. Kegiatan ini merupakan wujud kepedulian warga Jabar terhadap keberlangsungan hidup satwa langka surili.

Rabu, 7 September 2016 adalah hari bahagia bagi dua primata Lala dan Lili yang bernama latin Presbytis comata ini. Mereka bebas!

Seperti diberitakan Mongabay.co.id, Gubernur Jabar yang juga Ketua Umum PB PON XIX, mengatakan PON kali bukan semata memajuan olahraga nasional, melainkan juga sebagai membawa nilai budaya sekaligus upaya pelestarian alam.

Surili dijadikan maskot PON XIX, karena primata tersebut merupakan satwa asli Jabar yang keberadaannya terancam punah. Sepasang surili bernama Lala dan Lulu yang masing-masing berumur 3 dan 4 tahun itu merupakan hasil briding dari indukan lokal dengan surili di Inggris.

Aher sapaan akrab gubernur berharap agenda pelepasliaran bisa membangkitkan kesadaran, rasa memiliki, kepedulian dan kecintaan terhadap budaya dan kekayaan sumber daya alam salah satunya upaya menyelamatkan satwa dari kepunahan.

“Surili dijadikan maskot sebagai ikhtiar kita menjaganya dari kepunahan. Surili dilindungi dan dilarang diperdagangkan dengan alasan apapun apalagi diburu,” imbuhnya.

Sebagai maskot, tambah Aher, surili memakai iket alias pengikat kepala khas Sunda yang mencerminkan nilai leluhur, tradisi dan karakter masyarakat Jabar, yakni cageur, bageur, bener dan pinter.

Hanya Tersisa 300 Ekor
Kepala BBKSDA Jabar-Banten Sylvana Ratina mengatakan, saat ini, jumlah surili di hutan konservasi yang menjadi kewenangan BBKSDA terdapat hampir mendekati 300 ekor. Di CA Situ Pantengan sendiri terdapat 40 ekor lebih yang terdiri dari 6 kelompok.

Biasanya, katanya, satu kelompok terdiri dari 3 sampai 8 individu. Jumlah tersebut terbagi ke beberapa kawasan hutan di Jabar. Di antaranya, Cagar Alam Gede-Pangrango, Situ Patengan, Gunung Simpang, Gunung Tilu, Gunung Burangrang, Gunung Sancang, Kamojang Situ dan Suaka Margasatwa Gunung Syawal.

“Di Aspinall, surili ada 4 yang harus dilepasliarkan. Sekarang ada primata yang juga dihabituasi (proses mengembalikan sifat liar satwa) seperti owa jawa, lutung jawa dan surili 7 ekor,” ujar dia.

Kepala Pusat Konservasi Primata The Aspinall Poundation, Sigit Ibrahim menjelaskan sepasang surili yang dilepasliarkan tersebut didatangkan November tahun lalu dari Inggris. Kondisi saat dilepasliarkan bagus dan kesehatannya baik. “Tidak ada virus. Kita periksanya di laboratorium Parahita dan Pusat Studi Satwa Primata di Bogor,” kata Sigit.

Hidup Berdampingan
Sigit memaparkan di alam liar, primata ini memiliki komposisi makanan yang variatif dalam bertahan hidup. Misalnya saja ketika sakit perut mereka akan makan tumbuhan rasamala, kemudian besoknya ke jenis tumbuhan lain dan seminggu berikutnya mereka akan kembali lagi makan rasamala.

Surili juga merupakan primata yang sifatnya arboreal (hidup di atas pohon) sama seperti owa dan lutung jawa. Dalam sebuah kawasan, primata ini akan berbagi wilayah serta komposisi makanan dengan primata lainya.

Apabila mereka berada pada satu pohon yang sama, surili akan memakan pucuk, lutung jawa mengkonsumsi dedaunan tua dan owa mengambil buah.

Dia menuturkan masing–masing koloni primata dari spesies berbeda memiliki satu jantan dominan. Diantara ketiga primata tersebut, lanjut Sigit, jarang terjadi pertikaian. Adapun perkelahian dalam kelompok biasanya karena berebut betina atau kawasan.

Surili lebih tenang dan sedikit mengalah dari primata lainya seperti lutung jawa yang dominan karena koloninya belasan. “Ketiga koloni ini cenderung berdampingan biasanya teratur dalam membagi kawasan. Justru yang mengacau dari jenis lain adalah monyet ekor panjang,” ujarnya.

Kondisi ketiga primata ini sama status konservasinya masuk dalam keterancaman. Karena memang kondisi hutan di Jabar makin berkurang dari tahun ke tahun. Kondisi hutan yang dulunya terkoneksi, sekarang di beberapa wilayah hutannya menjadi terfragmentasi oleh penebangan liar atau perluasan perkebunan.

Pihaknya akan terus memonitor perkembangan suruli dan rencananya akan melibatkan warga juga untuk pemantauan. Agenda selanjutnya, dalam waktu dekat ada 4 ekor surili yang akan dilepasliarkan kembali.

Situ Patengan menjadi tempat pelepasliaran yang cukup ideal bagi surili karena berada 1.600 meter diatas permukaan laut. Panorama alam yang sejuk serta kelebatan hutan yang cukup luas sekitar 85 hektar. Disini masyarakat bisa menikmati keindahan alam sambil bersantai, sekaligus menjaga primata maskot PON tersebut agar tetap lestari. (sak/ist)