Target Lahan Tebu di Madura 3.500 Hektare
EKONOMI BISNIS PERISTIWA

Target Lahan Tebu di Madura 3.500 Hektare

PT Perkebunan Nusantara (PTPN) X menargetkan pengembangan lahan tebu di Madura bisa mencapai 3.500 hektare pada 2016. Hingga 2015, realisasi lahan tebu di Pulau Madura baru tercatat 1.008 hektare.

“Madura memiliki lahan potensial seluas 124.975 hektare yang tersebar di empat kabupaten yaitu Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep. Jadi perluasan lahan tebu masih sangat memungkinkan dilakukan di Madura,” kata Direktur Utama PTPN X, Subiyono kepada media di Surabaya, Selasa (16/8).

Bahkan, mantan Kepala Dinas Perkebunan Jatim ini menargetkan pengembangan tak hanya sebatas perluasan areal tebu. “Ke depan, perusahaan kami ingin merealisasikan gagasan adanya kawasan industri gula terpadu di Pulau Madura,” jelas Subiyono.

Ia menyebutkan, peluang dan tantangan pembangunan industri gula di Madura masih cukup besar. Menurutnya, kebutuhan gula di Indonesia baik untuk konsumsi maupun industri terus meningkat setiap tahunnya. Untuk itu dibutuhkan peningkatan produksi yang salah satu caranya adalah dengan perluasan lahan tebu.

”Peningkatan produktivitas melalui ekstensifikasi lahan tebu di Pulau Jawa sulit dilakukan. Untuk itu, upaya perluasan lahan di Pulau Madura yang masih potensial secara agroklimat dan ketersediaan lahan harus dioptimalkan,” tuturnya.

Kepala Dinas Perkebunan Jatim, Moch Samsul Arifien menambahkan, pengembangan areal tanam tebu di Madura yang makin meluas, maka peluang membangun PG pun semakin besar. Ia memisalkan, untuk mebangun PG dengan kapasitas kecil 1.500 TCD (ton cain day/ton tebu per hari) hanya perlu lahan tebu seluas 3.000 hektare.

Jika kapasitas 5.000 TCD, maka lahan yang dibutuhkan 10 ribu hektare. Selain lahan yang luas, pengembangan PG di Madura cukup potensial. Dari segi infrastruktur, kata dia, di Sumenep ada pelabuhan untuk bongkar muat pengiriman, bahkan ada Bandara Trunojoyo, sehingga akses di sana juga relatif mudah, terlebih ke Surabaya juga ada Jembatan Suramadu.

Dari hasil panen awal tebu Madura pada tahun 2013, tebu Madura dari Bangkalan dan Sampang, mampu menghasilkan rendemen mencapai 9,85 persen. Adapun produktivitas tebu Madura yang saat ini hanya 60 ton/hektar dianggapnya masih kurang.

Diminta Punya Kebun Sendiri
Terkait aksi demonstrasi yang dilakukan petani tebu di kantor Gubernur Jatim, Samsul Arifien menegaskan bahwa PG Kebun Tebu Mas (KTM) harus segera melakukan langkah konkret untuk melakukan perluasan lahan tebu.

“Menyikapi permintaan petani tebu, maka KTM kami minta tidak menggiling raw sugar impor melebihi kapasitas yang diizinkan. KTM harus memiliki lahan sendiri dan menyerap tebu petani lebih banyak,” kata Samsul.

Menurutnya, produksi tebu Jatim saat ini mencapai 15 juta ton tebu per tahun. Jumlah tebu itu, untuk memasok seluruh kebutuhan PG yang sudah beroperasi. Namun, lanjut dia, dengan berdirinya KTM, maka pasokan tebu tersebut menjadi kurang untuk menyuplai seluruh PG di Jatim.

“Karena stok tebu terbatas, maka KTM harus memiliki lahan tebu sendiri. Hal ini sudah disetujui sejak sebelum KTM beroperasi giling, sehingga realisasi perluasan lahan tebu baru untuk pasokan tebu KTM harus segera terealisasi,” tegasnya.

Wagub Jatim Saifullah Yusuf menjelaskan KTM memang menggiling raw sugar impor. Namun impor rawsugar yang sudah dilakukan PG KTM Mas sebanyak 49 ribu ton dan sudah dilakukan bongkar di Jatim.

PT KTM punya tiga izin, yaitu izin produksi gula mentah atau rawsugar, produksi gula Kristal putih, dan produksi gula kristal premium khusus untuk industri.

Gus Ipul menyatakan kesepakatannya dengan petani tebu, jika KTM mengimpor gula tidak sesuai dengan perizinannya. “Kalau impor dan giling rawsugar tidak sesuai kesepakatan maka aturan harus ditegakkan dengan menutup pabrik gula KTM,” tegasnya. (sak)