Target ‘Science and Technology Park’ Turun
PERISTIWA TEKNOLOGI

Target ‘Science and Technology Park’ Turun

Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) merevisi target pembangunan science and technology park (STP) dari semula 100 STP hingga 2019 menjadi hanya 60. Revisi ini tidak mempengaruhi terhadap rencana pembangunan STP di lingkungan perguruan tinggi.

Hal itu disampaikan Dirjen Kelembagaan Kemeristekdikti, Patdono Suwignyo dalam Forum Koordinasi Nasional Transfer Teknologi dan Inkubasi Bisnis, yang digelar di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Senin (3/10) siang.

Patdono mengungkapkan hal itu menjawab pertanyaan salah satu peserta tentang target 100 STP yang dinilai terlalu ambisius, karena di beberapa negara termasuk di Taiwan, pada awal dikembangkannya STP jumlahnya tidak terlalu besar.

Revisi target itu, kata Patdono, tidak terpengaruh dengan rencana pembangunan STP di lingkungan perguruan tinggi. “Untuk perguruan tinggi yang sudah hampir ‘lulus’ menjadi STP atau dinyatakan berhasil ada tiga kampus masing-masing ITB, IPB dan UGM. Lainnya segera menyusul untuk disiapkan, termasuk ITS,” katanya.

ITS sendiri, menurut Rektor ITS Prof Joni Hermana, sudah merintis STP yang sebelumnya diberi nama technopark sejak 2003. “Hasilnya memang belum terlihat, tapi cikal bakal itu terus tumbuh. Karena itu kami berharap adanya program STP Kemenristekdikti, tingkat keberhasilannya bisa segera dirasakan,” katanya.

Dari pengalaman di Taiwan, sebagaimana disampaikan Chih-Han Chang dari National Cheng Kung Univeristy, Taiwan, dalam forum tersebut, STP yang dibangun di negaranya tidak bisa dalam waktu sekejap, tapi butuh waktu dan perhatian serius.

Chang memaparkan diawal pengembangan STP dia hanya menangani 3-4 startup di lembaga inkubasinya, tapi tahun-tahun berikutnya berkembang pesat dan mengalami kenaikan luar biasa, sehingga pada 2015 sudah ada 180-an industri yang tergabung dalam inkubatornya.

Chang juga menjelaskan, ada persoalan-persoalan yang juga menjadi kendala di negaranya dalam membangun STP, antara lain, faktor ketidakpercayaan kalangan perguruan tinggi terutama profesor atau akademisi yang memiliki paten untuk diserahkan kepada industri dalam rangka komersialisasi temuannya.

“Karena itu yang harus dibangun adalah kepercayaan antara kedua belah pihak, baik itu pemilik paten di perguruan tinggi maupun kalangan dunia industri,” katanya.

Chang menyebutkan, di Taiwan saat ini, salah satu indikator di perguruan tinggi bukan lagi berapa banyak paten yang dihasilkan dosennya, tapi digeser pada indikator berapa banyak uang yang diperoleh dari jumlah patennya.

Siapkan Proposal
ITS kini sedang menyiapkan proposal STP untuk penguatan hasil riset dan inovasi, mendukung program hilirisasi yang menjadi salah satu amanat Kemenristekdikti, dalam kerangka ITS menjadi Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTNBH).

Wakil Rektor IV Bidang Penelitian, Inovasi dan Kerjasama Prof Dr Ketut Buda Artana ST MSc mengatakan, sebagai PTNBH ITS telah menyiapkan strategi dalam bentuk transformasi beberapa pusat studi dan pusat unggulan inovasi menjadi STP.

Ada tiga bidang yang disiapkan masing-masing; maritim, otomotif, dan industri kreatif. “Kami kini sedang menysun master plan bersama Kemenristekdikti. Lahan dan sebagian bagunan sudah kami siapkan. Pertemuan dalam forum koordinasi ini adalah salah satu langkah ke arah merealisasikan STP,” katanya.

ITS dalam rencana induknya menetapkan kawasan di Timur Kampus ITS seluas 30 hektar sebagai kawasan STP dan komersial. Untuk pengembangan infrastrukturnya, ITS sebanyak mungkin bekerjasama dengan industri dan institusi lain, serta mencoba upaya pengembangan infrastruktur melalui skema pinjaman luar negeri. (sak)