Tekad Jadi Suplier Radioisotop Terbesar
PERISTIWA TEKNOLOGI

Tekad Jadi Suplier Radioisotop Terbesar

Merayakan 29 tahun berdirinya instalasi Reaktor Serba Guna GA Siwabessy (RSG-GAS), Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) kembali melakukan sosialisasi terkait fungsi RSG-GAS. Termasuk tekad menjadi suiplier isotop terbesar di dunia.

Kepala BATAN Djarot Sulistyo Wisnubroto, mengungkapkan bahwa selama 29 tahun ini, BATAN sudah melakukan sejumlah riset dan penelitian berdasarkan reaksi yang didapat dari reaktor RSG-GAS.

Walaupun saat ini, ada pemotongan dana operasional dari pemerintah, Djarot memastikan bahwa BATAN akan tetap memberikan kinerja dan komitmen terbaiknya bagi masyarakat.

”RSG-GAS adalah reaktor riset yang memiliki fungsi serbaguna, yaitu untuk memproduksi radioisotop, pengujian bahan dan penelitian,” kata Djarot di Gedung 71 Puspitek Serpong, pekan lalu.

Selain itu, RSG-GAS juga dilengkapi dengan laboratorium penunjang untuk penguatan kapasitas dan kapabilitas sumber daya manusia di bidang nuklir, di antaranya adalah instalasi produksi radioisotop, fabrikasi bahan bakar reaktor, limbah radioaktif dan instalasi keselamatan reaktor.

Djarot memaparkan RSG-GAS memiliki kapasitas 30 MW dan saat ini baru terpakai 15 MW, sehingga masih terbuka peluang untuk dimanfaatkan bagi pemenuhan kebutuhan masyarakat atau industri.

”BATAN tidak memiliki kewenangan untuk mengomersilkan hasil riset. Kami bekerja sama dengan PT Industri Nuklir Indonesia (INUKI) untuk memasyarakatkan produk-produk hasik riset kami,” ucap Djarot.

Direktur INUKI Bambang Herutomo, menyatakan bahwa saat ini line business INUKI adalah pengadaan radioisotop guna bidang kesehatan dan penyediaan bahan bakar nuklir.

”Saat ini kami menyuplai 13 rumah sakit di Indonesia, serta mengekspor ke Malaysia, Thailand, dan Bangladesh,” kata Bambang.

Walau hingga akhir Agustus 2016 sedang dilakukan revitalisasi pada instalasi radioisotop, namun Bambang sudah menargetkan ekspansi pemasaran ke China dan Jepang.

”Target kita adalah Rp 20 miliar per tahun, dengan jumlah ekspor 50 persen dari total keseluruhan. Untuk mencapai target ini, kami akan memasarkan radioisotop untuk kepentingan industri,” ucap Bambang.

Terkait pemotongan dana operasional, Djarot menyatakan hal itu tidak akan mengubah keinginan BATAN untuk menjadi supplier radioisotop terbesar di dunia.

”Dengan pengalaman yang dimiliki para ahli reaktor Indonesia dalam pengoperasian, pemanfaatan dan perawatan RSG-GAS, kita bisa menjadi supplier radioisotop terbesar di dunia. Karena reaktor lain yang terdekat, umurnya sudah jauh lebih tua dari RSG-GAS. Dan ditambah, dari kapasitas 30 MW, baru terpakai 15 MW, jadi masih sisa setengahnya,” tutur Djarot.

Ditambahkan pula, bahwa banyak negara lain yang mengirimkan sumber daya manusiannya untuk belajar dan berlatih tentang teknologi pengoperasian, pemanfaatan dan perawatan reaktor di RSG-GAS Serpong.

29 tahun lalu, Presiden Soeharto meresmikan beroperasinya reaktor nuklir di Kawasan Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) Serpong. Reaktor ketiga yang dimiliki Indonesia ini memiliki kapasitas 30 megawatt (MW) dan menjadi reaktor riset terbesar di kawasan regional Asia Pasifik.

Pada 20 Agustus 1987, reaktor secara resmi mulai dioperasikan setelah menghabiskan waktu pembangunannya selama 5 tahun. Reaktor diberi nama Reaktor Serba Guna GA Siwabessy (RSG-GAS).

Pemberian nama tersebut sebagai penghargaan kepada dr GA Siwabessy, ahli radiologi yang memiliki jasa besar dalam merintis pengembangan program nuklir di Indonesia. GA Siwabessy adalah Direktur Jenderal Lembaga Tenaga Atom (LTA) pertama. LTA kemudian berkembang menjadi BATAN. (sak)