Tempat Parkir Payung di Kampus Kota Hujan
KOMUNITAS PERISTIWA

Tempat Parkir Payung di Kampus Kota Hujan

Bogor memang dikenal sebagai ‘Kota Hujan’. Senyampang dengan perhelatan akbar sebagai tuan rumah Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) XXIX tahun 2016 ini, Bogor ingin menunjukkan jati dirinya sebagai “Kota Hujan”. Setengah hari terjadi cuaca panas, sekejap kemudian berubah menjadi hujan deras.

Seperti yang terjadi Selasa (9/8) dan juga Kamis (11/8) malam saat upacara penutupan di Graha Widya Wisuda Insitut Pertanian Bogor (IPB). “Pada hari pertama Senin sudah dihujani, sekarang dihujani lagi. Ya inilah Bogor. Yang saya heran, hujannya kok sebentar-sebentar,” kata Dinul Qurrota Laila, peserta PIMNAS asal Mataram seperti dirilis Unair News.

“Kita harus berkenalan dengan keunikan yang ada di Kota Bogor, ya seperti ini. Seakan kota ini menunjukkan jati dirinya sebagai sebutan Kota Hujan,” tambah Wawan, pengemudi perusahaan persewaan mobil yang dikontrak tim PIMNAS Universitas Airlangga (Unair)

Satu keunikan lagi yang diperlihatkan tuan rumah IPB dalam kegiatan PIMNAS ini adalah setiap gedung yang dipergunakan untuk kegiatan PIMNAS disediakan ‘tempat parkir’ payung.

Deretan puluhan tabung-tabung paralon bercat warna-warni itu dimaksudkan sebagai tempat menaruh payung-payung basah yang selesai dipergunakan oleh orang yang akan masuk atau akan keluar gedung ketika sedang hujan.

Deretan rangkaian paralon warna-warni itu diletakkan di sisi sebelah kanan dan sebelah kiri pintu masuk ke gedung tersebut.

“Dengan demikian kalau ada tamu atau staf disini yang kebetulan hujan dan harus menggunakan payung, maka disitulah tempat untuk meletakkan payung yang basah sehabis dipakai tadi,” kata Asep Saefudin, penjaga di gedung kuliah bersama IPB yang diplot sebagai pusat kegiatan presentasi PIMNAS.

Menurut Asep, pada gedung-gedung lain yang dikhususkan sebagai pusat-pusat kegiatan besar juga disediakan tempat payung seperti ini. Tujuannya, untuk memudahkan para tamu atau staf yang ingin meletakkan payung basahnya di gedung tersebut. Bahkan, IPB juga menyediakan beberapa fasilitas payung tersebut.

“Kalau payungnya sudah mengering, kami segera menata dan merapikannya untuk kemudian juga diletakkan disana, agar memudahkan bagi siapa saja yang akan menggunakan,” tambah Asep.

Apakah ada payung yang hilang? Menurut Asep, kemungkinan besar tidak ada. Hanya saja, ada kemungkinan tertukar. Misalnya, si pengguna mengambil payung dari gedung A sedangkan ketika di gedung B maka hujannya sudah reda, sehingga payung ditinggal di gedung B. Namun, hal itu bukan masalah bagi Asep dan IPB. Dirinya juga yakin, kalau tamu tak akan membawa payung milik kampus itu pulang kecuali memang miliknya sendiri. (sak)