Mulai 1 Juli 2016, Terminal Petikemas Surabaya Terapkan SOLAS
EKONOMI BISNIS PERISTIWA

Mulai 1 Juli 2016, Terminal Petikemas Surabaya Terapkan SOLAS

PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) pada 1 Juli 2016 menerapkan Safety Of Life At Sea (SOLAS) yang dikeluarkan International Maritime Organization (IMO). Ini dilakukan TPS untuk meningkatkan keamanan dan keselamatan transportasi logistik yang menggunakan alat transportasi kapal laut.

“Sebagai pelabuhan internasional TPS wajib melaksanakan semua ketentuan yang dikeluarkan IMO, tentang regulasi SOLAS yang mensyaratkan setiap petikemas yang akan dimuat ke kapal harus dilengkapi dengan Verified Gross Mass (VGM) yang menyatakan berat total kargo,” ujar Kepala Humas PT TPS M Sholeh kepada media di Surabaya, Kamis (30/6).

Dijelaskan, secara praktiknya untuk VGM harus ditandatangani pemilik barang (Shipper). Dalam regulasi ini juga disebutkan bila petikemas tidak dilengkapi VGM maka petikemas tidak akan layak dimuat ke kapal. TPS telah melakukan berbagai persiapan sejak Februari 2016 lalu diantaranya melakukan kalibrasi alat timbang dan seting ulang sistem hingga sosialisasi pada pengguna jasa.

Disamping itu, lanjutnya, juga dibangun sistem pertukaran data elektronik, sehingga pengiriman data VGM bisa dilakukan secara elektronik. Untuk menjamin kelancaran arus petikemas terutama di hari raya Idul Fitri 2016, TPS akan melakukan pengawasan dan pemeliharan alat timbang beserta sistem EDI selama 24 jam penuh setiap hari.

Sholeh menuturkan, alat timbang yang disediakan berjumlah lima unit di Gate Eksport dan dua unit di Gate Domestic. Selisih hasil timbang yang dilakukan Shipper dengan hasil timbang di TPS disepakati maksimal satu ton.

Karena itulah, katanya, regulasi SOLAS dimaksudkan untuk meningkatkan perhatian terhadap keselamatan jiwa di laut. Pihak TPS akan meningkatkan ketelitian setiap petikemas yang masuk di terminal, khususnya bobot kotor petikemas. Mulai bobot barang, bobot kemasan dan bobot petikemasnya sendiri.

“Yang dimaksud bobot kotor petikemas adalah total bobot barang dalam petikemas dan petikemasnya sendiri sehingga nanti akan diketahui tentang total bobot kotor muatan di atas kapal. Ini sangat penting untuk menjaga keselamatan angkutan laut,” terangnya.

Makanya, kata Sholeh, dalam regulasi SOLAS yang menjadi pedoman adalah bobot kotor petikemas. Teknis pengawasannya dilakukan melalui jembatan timbang. Baik timbang petikemas domestik maupun petikemas internasional. “Kalau kelebihan bobot kotornya masih masih bisa ditoleransi, tetap dilakukan pemuatan. Tapi kalau melebihi batas maksimal, pasti dihentikan.” tegas Sholeh. (sak)