Kisah Semangat Penghuni Rumah Papan di Bawah Jembatan Bisa Kuliah
PERISTIWA PROFIL

Kisah Semangat Penghuni Rumah Papan di Bawah Jembatan Bisa Kuliah

Mimpi memiliki restoran dan mengembangkan wisata Dieng, sedikit demi sedikit ada di depan mata. Satu langkah penting untuk mewujudkan mimpi itu adalah kuliah di Program Studi Pariwisata, Fakultas Ilmu Budaya UGM Jogja.

Tiffani Febriana memiliki niat dan semangat besar untuk meraih cita-cita itu. Tekun belajar dan berdoa, itulah yang terus dia lakukan. Karena itu, selepas lulus dari SMA Negeri 1 Wonosobo, ia pun diterima kuliah di UGM melalui jalur SNMPTN dengan beasiswa Bidik Misi.

“Terus belajar dan belajar, itu yang saya lakukan. Ya kondisi saya seperti ini, tapi saya harus kuat untuk terus bisa sekolah,” ujar Tiffani seperti dirilis Humas UGM.

Tinggal di Sidojoyo RT 05 RW 05, Kalurahan Pagerkukuh, Kecamatan Wonosobo, Kabupaten Wonosobo, Jateng, rumah tinggal Tiffani berada di bawah jembatan. Rumah berukuran 100 m² berdinding kayu dihuni Tiffani bersama ibu, Ani Sugiarti dan adiknya Denita Triwardani.

Karena perceraian orangtua, sejak tahun 2011, Tiffani memang hanya tinggal dengan ibu dan adiknya. Sementara kakaknya, Dety Mulyaningrum, selepas lulus SMK di Wonosobo melanjutkan kuliah di Jakarta dengan beasiswa.

“Kakak memberi motivasi, saya pun ingin mengikuti jejaknya kuliah dengan mendapat beasiswa agar orangtua tidak terlalu berat membiayai,” terang Tiffani.

Dengan motivasi tinggi dan keterbatasan ekonomi, Tiffani terus berjuang untuk tidak ketinggalan dalam pelajaran. Ia memanfaatkan fasilitas buku yang ada di sekolah dan tidak malu-malu meminjam buku pada teman-temannya.

Tidak mengherankan jika nilai mata pelajaran di kelas X, XI dan XII semester I selalu di atas rata-rata. Dengan nilai rata-rata di atas 8 untuk semua mata pelajaran, Tiffani mendapat beasiswa pendidikan di SMA Negeri 1 Wonosobo.

“Saya mendapat korting 75 persen, karenanya saya hanya membayar 25 persen atau 50 ribu per bulan. Selain itu, saya mendapat beasiswa BSM 1 juta per tahun,” katanya.

Saat duduk di kelas XII, Tiffani mengaku harus mengejar pelajaran dengan lebih ekstra. Terutama pelajaran matematika yang menurutnya berkembang dengan cepat dan bentuk variasi soal yang bermacam-macam.

Jika mengikuti Bimbingan Belajaran (bimbel), ia tidak memiliki uang. Namun, nasib baik lagi-lagi menghampirinya, salah satu teman dekatnya menawarkan bimbel gratis.

“Ya akhirnya saya ikut di Titis Bimbel, milik orangtua salah satu temen deket saya. Saya beruntung bisa mendapat tambahan pelajaran,” tutur dara kelahiran 24 Februari 1998.

Tiffani yang memiliki hobi memasak kini merasa bersyukur diberi kesempatan bisa belajar di UGM. Ia berharap dapat kuliah dengan lancar dan cepat lulus sehingga tidak membebani orangtuanya.

Ani Sugiarti, sang ibu, tak henti-hentinya mengucap syukur. Dengan mata berkaca-kaca, ia tak menduga jika Tiffani bisa kuliah di UGM dengan gratis.

Baginya dengan pendapatan sebagai penjaga toko, tentu terasa berat jika harus membiayai kuliah. Karena dengan pendapatan Rp 1,2 juta per bulan untuk membiayai hidup keluarga sudah terlalu berat. “Saya bekerja di dua toko, pagi sampai siang saya menjaga toko buku dan di siang hingga sore menjaga toko asesoris,” ucap Ani.

Ani mengaku dengan gaji sebesar itu tidak cukup memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Meski begitu, ia merasa bersyukur karena ada saudara dan komunitas gereja yang terkadang memberi beras dan sembako. “Puji Tuhan, saya bersyukur. Saya berharap Tiffani bisa kuliah dengan baik dan lancar. Saya sangat berdoa ia nantinya berhasil di bidang akademis dan rohani,” harap Ani. (sak)