Tim Biologi Indonesia Jaga Tradisi Emas
KOMUNITAS PERISTIWA

Tim Biologi Indonesia Jaga Tradisi Emas

Setelah Tim Olimpiade Fisika Internasional sukses mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional dengan meraih 1 emas dan 4 perak di Olimpiade Fisika Internasional, giliran Tim Biologi Indonesia 2016 sukses mengharumkan Tanah Air dengan mempertahankan tradisi medali emas di Olimpiade Biologi Internasional ke-27 di Hanoi, Vietnam.

Dirjen Dikdasmen Kemendikbud Hamid Muhammad memberikan apresiasi atas prestasi yang diraih tim Biologi Indonesia yang berhasil menempatkan Indonesia dalam jajaran 10 besar di Olimpiade Biologi Internasional (international Biology Olympiad) dari total 68 negara peserta.

“Alhamdulillah, kami bersyukur karena keempatnya bisa mencatatkan prestasi. Dan raihan medali yang kami harapkan juga bisa teraih. Mereka mampu membuat prestasi dari total 68 negara peserta. Ini bukan sesuatu yang mudah,” ujar Hamid saat menyambut kedatangan tim di Bandara Soekarno Hatta, beberapa waktu lalu. Kemudian dia juga menyampaikan harapannya terhadap tim olimpiade lain yang masih berlomba agar dapat memenuhi target.

Peraih medali di Hanoi adalah Wilson Gomarga dari SMAK IPEKA Sunter, Jakarta (medali emas), Robin Chandara dari SMAK 3 BPK Penabur, Jakarta (medali perak), Fatin Camilla Azhary dari SMAN 1 Kendal, Jateng (medali perak), dan Andrea Laurentius dari SMA 1 Sutomo, Medan (medali perunggu). Mereka adalah putra-putri terbaik bangsa yang telah bekerja keras selama 17-24 Juli 2016. Sehingga Tradisi pencapaian medali emas berhasil dipertahankan.

“Sebenarnya saya nggak menyangka kalau saya bisa dapatkan medali emas. Karena soalnya sangat-sangat susah dan saat saya ngerjain, saya sempat blank. Tetapi atas dukungan orangtua dan teman-teman dan saya berdoa, Puji Tuhan saya bisa mengerjakan dengan baik,” tutur peraih medali emas, Wilson Gomarga.

Sementara peraih medali perak Fatin Camilla Azhary menuturkan dari total enam praktikum, yang paling sulit adalah mikrobiologi dan biokimia. Karena selain kemampuan di bidang biologi, dibutuhkan juga kemampuan di bidang kimia.

Selama berlomba, tim Indonesia didampingi empat pendamping, Dr Agus Dana Permana, Dr Ahmad Faizal, Dr Ramadhani Eka Putra ketiganya dari ITB dan Judo Purwanto (Kemdikbud).

Selama enam hari, tim pendamping yang dipimpin Dr Agus Dana Permana dan tim pendamping dari negara lain mendiskusikan serta menerjemahkan materi tes praktikum dan teori ke bahasa negara masing-masing serta sehingga meningkatkan kualitas soal sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang biologi modern.

Salah satu tim pendamping, Ahmad Faizal, menyampaikan bahwa praktikum tahun ini lebih sulit dibanding tahun-tahun sebelumnya. Karenanya banyak negara lain yang nilainya kecil. Namun Wilson berhasil mendapatkan nilai yang berada di atas rata-rata. Nilai teorinya cukup bagus. Sehingga berhasil mendapat medali emas. (sak)