TPA Benowo Dilengkapi Track Sepeda
PEMERINTAHAN PERISTIWA

TPA Benowo Dilengkapi Track Sepeda

Walikota Surabaya Tri Rismaharini bakal membuat buffer zone pada Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo berkonsep seperti hutan dilengkapi track bersepeda. Sehingga tempat pembuangan sampah itu bakal jadi alternatif tempat wisata baru di kawasan Surabaya barat.

“Buffer zone TPA Benowo sudah kita desain menjadi tempat indah dan menarik. Sehingga selain memiliki fungsi utama sebagai kawasan penyangga, buffer zone dapat dimanfaatkan warga sebagai sarana edukasi dan rekreasi,” kata Walikota Tri Rismaharini kepad media di Balai Kota, Kamis (6/10).

Bntuk buffer zone yang akan mengelilingi TPA Benowo, berdasar perhitungan pemkot, setidaknya 37 hektare diperlukan untuk membangunnya. Hanya saja, Pemkot tak akan langsung membebaskan seluruh lahan tersebut karena keterbatasan anggaran. “Makanya, kita cicil. Tahun ini rencananya 10 hektar dulu,” ujarnya.

Risma menjelaskan, buffer zone minimal harus berlebar 100 meter tepian TPA. Lahan yang masuk kawasan penyangga rencananya bakal ditinggikan 1 meter. Lahan tersebut akan ditanami pohon yang tingginya lebih dari 10 meter. Diharapkan bau sampah tidak akan mengganggu kawasan permukiman di sekitarnya.

Sayangnya, DPRD Surabaya masih menolak pengajuan anggaran pembebasan lahan untuk buffer zone. Terkait hal ini, walikota menyatakan akan melakukan pembahasan kembali bersama DPRD Surabaya dalam waktu dekat.

Terkait aturan, mantan Kepala Bappeko ini menyatakan pembangunan buffer zone sesuai dengan Perda No 12 Thn 2014 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Surabaya 2014-2034. Serta, Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No 19/PRT/M/2012 tentang Pedoman Penataan Ruang Kawasan Sekitar Tempat Pemrosesan Akhir Sampah.

“TPA Benowo ini sudah menjadi yang terbaik di Indonesia dan telah dijadikan rujukan studi banding daerah lain. Tapi, saya ingin sempurnakan sesuai standar Kementerian PUPR,” tutur alumnus ITS ini.

Sebelum menyusun perencanaan buffer zone TPA Benowo, Risma juga memperhatikan referensi luar negeri. Dijelaskan, TPA di Jerman mayoritas di tengah hutan. Sebaliknya, di Jepang, tidak semua di tengah hutan. Tetapi, proses pelaksanaan mulai dari pengambilan sampah hingga pengolahan akhir dilakukan secara ketat.

Model pengelolaan TPA di negara lain, kata Risma lebih lanjut, tidak bisa serta-merta diterapkan di Surabaya. Pasalnya, jenis sampah antar negara lain dengan Kota Pahlawan berbeda. “Di Jepang, perbandingan sampah organik dan non-organik berkisar 50:50. Sementara, di Surabaya sampah organik atau sampah basahnya mencapai 70 persen. Ini tentu menjadi pertimbangan tersendiri,” urainya.

Rencana pemkot mewujudkan buffer zone TPA Benowo disambut baik warga sekitar. Sebab warga sekitar kerap mencium aroma tak sedap sampah dari TPA Benowo. Jika arah angin menuju ke perumahan, baunya pasti tercium. Intensitas bau sampah akan makin meningkat saat memasuki musim hujan. Durasinya bisa berjam-jam. (sak)