Tuberculosis Terus Mengancam, Diseminarkan Pakar Dunia
KESEHATAN PERISTIWA

Tuberculosis Terus Mengancam, Diseminarkan Pakar Dunia

Tuberculosis (TB) sungguh penyakit yang bandel. Kata itu kiranya pas untuk melukiskan betapa sulitnya penyakit yang menyerang dan merusak jaringan organ paru itu diberantas. Itulah yang menyebabkan Indonesia menjadi salah satu negara di dunia dengan prevalensi TB tinggi.

Program pengendalian TB sudah 20 tahun digencarkan dan diimplementasikan, tetapi hingga kini TB masih menjadi penyakit infeksi yang menyebabkan angka kesakitan dan kematiannya nomor tiga di Indonesia.

Puluhan tahun kita mengatasinya. Banyak juga yang sembuh dan berhasil. Tetapi ditengah-tengah itu, kasus TB ini muncul lagi dan lagi dengan beragam masalah baru.

“Realita itulah yang mendorong Unair mengadakan seminar dan menghadirkan ahli-ahli TB dari berbagai negara pada 8-9 Agustus 2016 untuk mencari solusi,” tandas Dr dr Soedarsono SpP(K), Ketua Panitia ‘International Seminar on Global Strategy to Combat Emerging Infectious Diseases in Borderless Era’ (GSEID 2016) di FK Unair, Jumat (29/7).

Dr Soedarsono juga didampingi ahli-ahli mikrobiologi dan penyakit TB seperti Prof Dr dr Kuntaman MS SpMK(K), Prof Dr dr Ni Made Mertaniasih MS SpMK(K) Wakil Dekan III FK Unair, dan Prof dr Maria Inge Lusida M.Kes PhD SpMK(K) Ketua Institute of Tropical Diseases (ITD) Unair.

Seminarnya nanti akan diadakan oleh kerjasama antara FK dengan ITD Unair di Aula FK Unair. Dirancang juga menghadirkan keynote speaker dr H Muhamad Subuh MPPM, Dirjen P2P Kemenkes RI.

Ahli dari luar negeri yang akan dihadirkan antara lain Prof Toshiro Shirakawa MD PhD (Kobe University), Prof Keigo Shibayama MD PhD (National Institute of Infectious Disease, Jepang), Prof Katsushi Tokunaga PhD (Tokyo University), Prof. Dr Mark A Graber MD MSHCE FACEP (Iowa University AS), Prof Dr Eric C.M van Gorp (Erasmus Medical Center, Rotterdam Belanda), dan Dr Carmelia Basri MEpid (Senior Public Health Consultant).

Kasus-kasus baru TB yang muncul itu antara lain penyakit penyerta (komorbit) HIV-AIDS, diabetes, resistensi Mycobacterium tuberculosis atau kuman kebal obat yang disebut multi-drug resistance (TB MDR).

Kasus demikian muncul ditengarai antara lain karena dampak dari lamanya pengobatan TB hingga enam bulan non-stop, muncul rasa bosan/jenuh, berganti dengan obat lain, atau kebiasaan minum obat separo dosis. Sehingga penyakit tak sembuh-sembuh dan bakteri penyebab TB (Mycobacterium tuberculosis complex) menjadi kebal atau resisten terhadap obat.

“Kasus-kasus demikian itu yang akan dibahas dalam seminar nanti, termasuk pengobatannya, dengan mengolaborasikan hasil penelitian pakar-pakar dari luar negeri,” tambah Dr Soedarsono.

Di tingkat global, saat ini Indonesia berada di urutan 8 dari 27 negara dengan TB-MDR yang terbesar di dunia, dengan perkiraan pasien TB-MDR mencapai 6.900 kasus. Program pengobatan TB-MDR sudah diterapkan menyeluruh pada rumah sakit di Indonesia sejak 2009.

Banyak tantangan yang harus dihadapi, mulai penerapan program pengobatan TB-MDR di rumah sakit yang lamban, masalah diagnosis yang cepat, efek samping yang lebih banyak, komitmen dari berbagai pihak yang kurang memadai, membuat kasus penularan TB-MDR makin bertambah banyak.

“Jadi perlu ada intervensi dengan mencari akar permasalahan sehingga kedepan program pengobatan TB MDR lebih berhasil,” tambah Soedarsono, Pulmonologist RSUD Dr Soetomo/FK Unair ini.

Ditambahkan Prof Kuntaman, bakteri resisten yang menjadi perhatian dunia saat ini minimal ada tiga kelompok. Pertama, MRSA (Methicillin Resistant Staphycoccus aureus) yaitu resisten terhadap semua obat golongan pinisilin dan turunannya. Prevalensinya tahun 2002 kurang dari 1 persen dan kini (2015) telah meningkat menjadi 8 persen.

Kelompok yang kedua adalah bakteri penghasil ESBL (Extended Spectrum Beta Lactamase) yang telah resisten terhadap antibiotika generasi baru dari pinisilin dan turunannya, kecuali beberapa yang masih sensitif.

“Pada tahun 2006 baru mencapai 24 persen, tetapi tahun 2013 sudah mencapai 38-66 perse. Jadi saat ini, tahun 2016, mungkin sudah makin tinggi lagi,” kata Prof Kuntaman.

Kelompok ketiga adalah Carbapenem Resistance Enterobacteriaceae (CRE) yang merupakan ancaman terbaru, dimana bakteri ini telah resisten terhadap antibiotik pamungkas yang dimiliki Indonesia maupun dunia pada umumnya.

“Bakteri ini sudah dideteksi di Indonesia, khususnya di Jakarta dan Surabaya. Kan Indonesia ini sangat luas, sehingga informasi terbaru bakteri resisten mungkin tidak merata. Inilah tanggungjawab kita untuk menyebarluaskan,” tambah Guru Besar ilmu Mikrobiologi Klinik FK Unair ini. (sak)