Ully Sigar Resmikan Rumah Balada
SENI BUDAYA

Ully Sigar Resmikan Rumah Balada

Kehadiran seniman gaek perempuan Ully Sigar Rusady di acara Festival Seni Kalimas Surabaya, ternyata tidak hanya tampil diatas panggung festival yang bertempat di area Monumen Kapal Selam (Monkasel) Jl Pemuda Surabaya, tetapi juga untuk meresmikan keberadaan Rumah Balada di Kota Surabaya.

Seniman dari berbagai daerah tampak hadir sekaligus mengisi acara seni musik Festival Seni Kalimas, sebagai wujud apresiasinya sebagai seniman tulen. Acara musik yang digelar malam ini sejatinya hanya salah satu rangkaian dari berbagai jenis seni yang disajikan.

“Kami sebagai Dewan Kesenian Jatim, sebenarnya hanya bertugas memberikan ruang segala bentuk seni yang ada di Jatim, karena sebelumnya juga digelar seni rupa, seni tari, seni sastra, dan seni musik yang digelar malam ini, kebetulan Mbak Ully minta waktu untuk meresmikan Rumah Balada di Surabaya ya kami persilahkan,” ucap Taufik Hidayat Ketua Dewan Kesenian Jatim yang akrab disapa Taufik Monyong ini, Minggu (30/10) malam.

Saat Ully naik ke pentas, diawali dengan mendendangkan beberapa buah lagu versi balada hasil ciptaannya sendiri, yang kemudian diakhiri dengan terlibatnya sejumlah pentolan seniman dari berbagai daerah untuk diajak berdama-sama menyanyikan sebuah lagu balada.

Lirik lagunya cukup pas jika dikaitkan dengan kondisi negara saat ini, yang sedang dilanda isu SARA di Jakarta. Ada pesan tulus yang disampaikan oleh para seniman melalui lagu yang dinyanyikan yakni terkait indahnya hidup berdampingan dalam keberagaman suku dan agama.

Seniman Aset Bangsa
Festival Seni Kalimas 2016 dibuka Jumat (28/10) lalu oleh Wakil Gubernur Jatim Drs H Saifullah Yusuf. Dalam sambutannya, Gus Ipul, sapaan akrab Wagub Jatim menegaskan bahwa seniman adalah aset bangsa yang ikut membangun peradaban, ini terbukti bahwa sampai sekarang perkembangan kesenian terus exist di tengah-tengah masyarakat dan makin beragam.

Apalagi adanya prasasti dan candi peninggalan jaman dulu ikut membuktikan bahwa kesenian ikut andil dalam sejarah. “Kesenian kita akan terus dilestarikan sehingga tidak akan hilang, sebab yang patut diketahui ialah dunia ini tanpa seni akan sepi,” ungkapnya.

Menurutnya, pelaksanaan Festival Seni di pinggir Kalimas merupakan hal yang tepat karena sesungguhnya peradaban dimulai dari pinggir sungai. Sehingga seni dan sungai adalah satu sinergi yang sama-sama membangun lahirnya peradaban.

“Jika sungai sebagai dasar kehidupan kita terus dipelihara kebersihannya dan seniman ikut mempromosikan hal itu, maka masyarakat akan lebih sehat dan maju,” terangnya.

Dihadapan ratusan seniman Gus Ipul berpesan, kesenian di Indonesia sangat beragam ada berbagai tarian, seni jatilan, sholawatan, dan lain sebagainya, karenanya keragaman itu harus dipertahankan sehingga bisa memupuk rasa cinta tanah air.

“Rasa cinta ini termasuk cinta pada tuhan, keluarga, budaya dan berujung pada rasa bangga pada tanah air kita,” imbuhnya.

Selain itu, ia berharap semua seniman menekuni profesinya dengan sungguh-sungguh atau totalitas. Totalitas ini juga berlaku untuk semua profesi, sebab dengan totalitas maka kesuksesann akan mudah diperoleh. “Yang terakhir rasa kebersamaan sebagai keluarga harus kita junjung tinggi sehingga nantinya akan muncul gotong royong,” pungkasnya. (yul)