Wakil Jatim di Lomba Video Pendek BNPT
KOMUNITAS PERISTIWA

Wakil Jatim di Lomba Video Pendek BNPT

SMKN 1 Bondowoso, SMKN 2 Buduran Sidoarjo, dan SMAN 1 Manyar Gresik mewakili Jawa Timur ke ajang nasional Lomba Video Pendek ‘Kita Boleh Beda’ yang diselenggarakan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) 25-26 November mendatang.

Ketiganya terpilih menjadi juara I, juara II, dan juara III dalam seleksi yang diselengggarakan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Timur.

Karya siswa dari Bondowoso diberi judul ‘Terorisme Itu Siapa’, dari Sidoarjo berjudul ‘Beda Tidak Sama dengan Salah’, dan Gresik dari ‘Tips Pencegahan Terorisme dan Radikalisme’.

Dewan juri menilai ketiganya memiliki perbedaan dalam hal kemasan dan cara bertutur. Ada yang memakai pendekatan filler, drama, dan komedi.

Pengumuman pemenang dan penyerahan hadiah tingkat Jawa Timur dilaksanakan pada acara Dialog Film sebagai Media Penyebaran Gagasan Damai, di Hotel Utami, pekan lalu.

“Mudah-mudahan siswa-siwa Jatim mendapat nomor di tingkat nasional,” ujar Dr Soubar Isman, Ketua FKPT Jatim usai acara.

Dewan juri tingkat provinsi pada ajang yang dihelat BNPT dan FKPT Jatim ini, terdiri dari Swastika Nahora (Jakarta), Tri Herry Suhartinah (Surabaya), dan Imung Mulyanto (Surabaya), menyeleksi 24 peserta yang datang dari berbagai daerah di Jatim.

“Saya melihat pelajar Jatim memiliki potensi yang sangat besar. Penguasaan teknisnya bagus-bagus, cara penyajian dan bertuturnya bervasiasi, ada komedi yang lucu banget,” ujar Swastika, penulis skenario film Tiga Srikandi dari Multivision Jakarta.

Siswa SMKN 1 Bondowoso mencoba menyindir perilaku masyarakat yang cenderung menilai seseorang dari penampilan fisik.

Siswa SMKN 1 Buduran Sidoarjo bertutur tentang seseorang yang semula berpikiran sempit sehingga cenderung radikal dan ekstrim, namun kemudian berubah mejadi duta perdamaian.

Sedangkan SMAN 1 Manyar Gresik dengan gaya komedi menyajikan tips pencegahan terorisme dan radikalisme secara parodi. “Idenya boleh dibilang out of the box, nakal, dan anak muda banget. Beda dengan provinsi lain,” ujar Swastika.

Juri dari Surabaya, praktisi pertelevisian Imung Mulyanto menuturkan, anak-anak muda di Jatim akhir-akhir ini memang terlihat seperti demam dunia sinematografi.

Di berbagai daerah muncul sineas-sineas muda dengan talenta yang bagus-bagus. “Mudah-mudahan ini menjadi pertanda baik bagi perkembangan perfilman di Jawa Timur ke depan,” kata penulis skenario dan sutradara film seri Aku Cinta Indonesia (ACI) yang sangat melegenda di tahun 80-90an.

Dia berharap, para sineas muda di Jatim tidak mudah puas, terus berkarya dan memperbanyak portofolio. “Seperti dibilang teman dari Jakarta, secara teknis anak-anak muda di Jatim sudah sangat mumpuni,” kata Imung.

Namun dia melihat, secara konten mereka harus banyak belajar mengenai bagaimana memberi isi sebuah film dan bagaimana cara berutur dengan baik atau masalah dramaturgi, imbuhnya.

Lomba Video Pendek ‘Kita Boleh Beda’ BNPT akan memperebutkan posisi 10 terbaik di tingkat nasional. Apabila setiap provinsi mengirimkan 3 karya terbaik, maka secara nasional akan terkumpul 96 karya.
Dari sini akan dipilih Best Movie 1 dengan hadiah Rp 15 juta, Best Movie 2 dengan hadiah Rp 10 juta, dan Best Movie 3 dengan hadiah Rp 5 juta. Lalu Best Story 1 (Rp 5 juta), Best Story 2 (Rp 4 juta), dan Best Story 3 (Rp 3 juta). Selanjutnya juga ada gelar Most Favourite Vote dengan hadiah Rp 5 juta.

Menurut panitia pusat, Fachrudin, nantinya 10 besar akan diundang ke Jakarta untuk menerima hadiah dan mengikuti workshop. “Mudah-mudahan Jawa Timur masuk di antara sepuluh besar itu,” ujarnya.

Upaya menyebarkan gagasan film sebagai media damai di kalangan pemuda dan perempuan, dilakukan BNPT melalui lomba video pendek dan dialog di 32 provinsi di Indonesia.

Dengan melibatkan para pelajar SMA dan sederajat secara aktif, diharapkan muncul gerakan melawan terorisme dan redikalisme secara masif di kalangan anak-anak muda Indonesia. (sak)