Walhi Jatim Berharap Prepcom3 for UN Habitat III Wujudkan Kota Manusiawi
PEMERINTAHAN PERISTIWA

Walhi Jatim Berharap Prepcom3 for UN Habitat III Wujudkan Kota Manusiawi

Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Timur berharap PrepCom3 for UN Habitat III di Surabaya membahas materi untuk mewujudkan kota yang manusiawi. Setidaknya ada lima persoalan utama dalam mewujudkan kota yang manusiawi dan berkelanjutan.

Penyempitan ruang yang disebabkan oleh perampasan ruang, kemiskinan struktural, krisis sosial-ekologis perkotaan, krisis sosial-ekologis sabuk penyanggah dan pedesaan, serta tiadanya hak dan akses warga perkotaan dalam menentukan arah pembangunan dan tata kelola sebagai subjek aktif.

Direktur Eksekutif Daerah WALHI Jawa Timur, Rere Christanto mengatakan, apabila PrepCom3 for UN Habitat III yang diselenggarakan dengan semarak ini tidak menjawab lima point di atas, maka persoalan perkotaan dan cita-cita pembangunan perkotaan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan akan menjadi delusi yang direproduksi dalam kepentingan bingkai neo liberal.

Selama 25-27 Juli 2016, Surabaya menjadi tuan rumah diselenggarakannya PrepCom3 for UN Habitat III. Kegiatan yang melibatkan PBB ini, merupakan ajang terbesar dan bergengsi dalam penyelesaian masalah perkotaan di seluruh dunia.

Karena di dalamnya dibahas beberapa isu penting yang menyangkut tentang pembangunan kota yang berkelanjutan, kemiskinan, urbanisasi dan sebagainya.

Dikatakannya, jika dilihat secara sekilas, acara PrepCom3 for UN Habitat III, sepertinya memberikan nafas baru dalam menuju tata kelola kota yang manusiawi dan lebih bermartabat.

Namun jika melihat beberapa fakta yang terjadi belakangan, sejumlah wilayah masih menghadapi menyempitnya ruang kota, meningkatnya krisis sosial-ekologis, serta tiadanya akses dan hak warga untuk terlibat sebagai subjek aktif dalam perencanaan dan tata kelola kota.

Dalam persoalan penyempitan ruang, salah satunya, dapat terlihat pada pola penguasaan lahan kota yang terus berpindah tangan kepada pengusaha properti.

Pola yang demikian bahkan terus mendominasi dan merampas beberapa aset milik publik yang selanjutnya memicu konflik sosial dan perlawanan dari warga.

Salah satu diantaranya adalah perampasan dan alih fungsi beberapa Waduk milik desa menjadi kawasan-kawasan elit dalam berbagai bentuk jenis bidang akumulasi, perumahan, mall, pusat bisnis, dan lain-lain. “Kami berharap PrepCom3 for UN Habitat III dapat memberikan solusi dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan,” harapnya. (sak)